Aroma cendana dan kertas lama yang menguar di apartemen Pak Adrian biasanya memberiku rasa tenang yang aneh, seolah-olah aku sedang berada di dalam sebuah kuil suci yang hanya boleh dima**ki olehku. Namun malam ini, udara di ruangan itu terasa lebih berat, seakan oksigen di sekitarku mulai menipis.
Aku duduk di sofa kulit berwarna abu-abu arang, meluruskan rok span hitam yang membalut pinggulku dengan sempurna. Aku telah menghabiskan waktu dua jam di depan cermin kamar mandi kost tadi soreβmenggosok kulitku hingga kemerahan dengan lulur terbaik, memastikan setiap helai rambutku jatuh di tempat yang tepat, dan memoles wajahku dengan riasan yang membuatnya tampak natural namun tajam. Aku ingin menjadi mahakarya di matanya. Aku harus menjadi satu-satunya yang dia lihat, jauh melampaui Amara dan pesona murahan yang biasa gadis itu pamerkan.
"Kamu tampak melamun, Siska," suara bariton Adrian memecah keheningan.
Dia berjalan mendekat, membawa dua gelas kristal berisi cairan berwarna amber. Dia tidak memakai jas dosennya yang kaku. Kemeja putihnya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat di lengannya yang kuat namun halus. Dia duduk di sebelahku, jarak yang c**up dekat hingga aku bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan bau alkohol samar.
"Aku hanya memikirkan tugas akhirku, Pak," dustaku sambil menerima gelas itu. Jemariku sengaja menyentuh kulit tangannya. Dingin. "Dan mungkin... tentang bagaimana orang-orang di kampus mulai membicarakan kita."
Adrian terkekeh, sebuah suara rendah yang biasanya membuat jantungku berdesir, namun kali ini ada nada yang berbeda di sana. "Biarkan mereka bicara. Singa tidak akan memedulikan pendapat domba, bukan?"
Aku tersenyum, merasa tersanjung disamakan dengan predator. "Aku hanya tidak ingin ada yang merusak ini. Terutama... Amara. Dia terus bertanya ke mana aku pergi setiap malam."
Mendengar nama Amara, sorot mata Adrian berubah. Ada kilatan yang sulit kuartikanβsesuatu yang lebih dari sekadar ketertarikan profesional, tapi juga bukan cinta. Dia menyesap minumannya, matanya menatap lurus ke arahku, seolah-olah dia sedang membedah lapisan kulitku untuk melihat apa yang ada di baliknya.
"Amara adalah variabel yang menarik," ucap Adrian tenang. "Tapi dia terlalu... berantakan. Tidak seperti kamu, Siska. Kamu adalah kanvas yang sangat patuh. Transformasi ini... kamu melakukannya dengan sangat teliti."
Pujian itu seharusnya membuatku melayang, tapi kata "patuh" dan "kanvas" terasa ganjil di telingaku. Aku meletakkan gelas di meja kopi, mencoba mencari kehangatan dengan menyandarkan kepalaku di bahunya. "Aku melakukan ini semua untukmu, Adrian. Aku ingin menjadi apa pun yang kamu inginkan."
Adrian mengelus rambutku. Gerakannya mekanis, terlalu presisi. "Aku tahu. Itulah mengapa kamu lebih berharga bagiku daripada subjek lainnya."
*Subjek?*
Detak jantungku mulai berpacu tidak beraturan. Aku mencoba menepis pikiran buruk itu. Mungkin itu hanya istilah akademis yang terbawa ke kehidupan pribadi. Namun, ketika Adrian beranjak berdiri untuk menjawab pangg***n telepon yang ma**k dan berjalan ke balkon, rasa ingin tahuku yang penuh rasa takut mulai mengambil alih.
Mataku tertuju pada laptopnya yang terbuka di atas meja kerja di sudut ruangan. Biasanya, aku tidak akan pernah berani menyentuh barang pribadinya. Tapi malam ini, rasa obsesiku untuk memilikinya secara utuh berubah menjadi kebutuhan mendesak untuk mengetahui apa yang dia pikirkan tentangku.
Dengan tangan gemetar, aku mendekati meja itu. Layarnya tidak terkunci. Aku melihat sebuah folder yang tersembunyi di sudut desktop dengan judul yang tidak mencolok: *Project Aesthetic β Behavioral Observations*.
Klik.
Napas tertahan di tenggorokanku. Di dalamnya terdapat subfolder dengan nama-nama mahasiswi. Namaku ada di sana. Nama Amara juga ada di sana. Dan ada tiga nama lain dari angkatan di atasku yang sudah lulus.
Aku membuka folder atas namaku. Isinya bukan foto-foto romantis yang diambil secara diam-diam. Isinya adalah catatan medis, jadwal menstruasiku yang entah bagaimana dia ketahui, foto-foto transformasiku dari minggu ke minggu yang diambil tanpa kusadari di kampus, serta catatan-catatan klinis.
*Minggu ke-8: Siska mulai menunjukkan tanda-tanda dysmorphia yang bisa diarahkan. Respon terhadap stimulasi pujian sangat tinggi. Tingkat ketergantungan emosional meningkat 40%. Target: Mencapai estetika 'Porselen' dalam 3 bulan.*
Lututku terasa lemas. Aku beralih ke folder Amara.
*Minggu ke-12: Amara terlalu impulsif. Sulit dikendalikan untuk eksperimen jangka panjang. Akan digunakan sebagai katalis untuk mempercepat fiksasi Siska. Konflik antar-subjek diperlukan untuk menguji batas loyalitas.*
Dunia seolah berputar. Semua pertengkaran kecilku dengan Amara, perasaan insecure-ku yang meledak-ledak, transformasiku yang menyakitkan... apakah itu semua hanyalah skenario yang dia susun? Aku bukan kekasihnya. Aku bukan mahasiswi kesayangannya. Aku adalah kelinci percobaan dalam laboratorium pribadinya.
"Siska? Apa yang sedang kamu lakukan?"
Suara itu datang dari belakangku, begitu dekat hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya di tengkukku. Aku membeku. Dingin yang kurasakan dari tangannya tadi kini menjalar ke seluruh tubuhku, membuat kulit 'porselen' yang begitu kubanggakan terasa seperti penjara yang siap retak.
Aku perlahan memutar tubuh, menatap mata Adrian yang kini tidak lagi menunjukkan kehangatan pura-pura. Matanya datar, dingin, dan penuh perhitungan, seperti seorang kurator yang sedang melihat barang pajangan yang baru saja rusak.
"Kamu seharusnya tidak melihat itu," katanya pelan, namun nadanya mengandung ancaman yang membuat bulu kudukku berdiri. Dia melangkah maju, memaksaku mundur hingga pinggangku membentur tepian meja. "Tapi kurasa, ini adalah bagian dari tahap selanjutnya. Mari kita lihat, seberapa hancur porselen ini jika aku menjatuhkannya sekarang."
Adrian mengulurkan tangan, jemarinya membelai pipiku dengan kelembutan yang mematikan, sementara matanya tetap terpaku pada layar laptop yang masih menampilkan data-data pribadiku. Aku menyadari satu hal yang mengerikan: dia tidak takut rahasianya terbongkar, dia justru sedang menikmati momen di mana aku menyadari bahwa aku tidak punya jalan keluar.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!