Obsesi di Balik Pintu Porselen

Bab 2: Bab 2 - Menunjukkan ketertarikan Siska pada Pak Adrian ...

Pengaturan Membaca

Udara di dalam ruang kuliah 402 terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya imajinasiku karena debaran jantung yang tak kunjung mereda. Aku duduk di baris kedua, posisi yang sengaja kupilih agar aku bisa melihat setiap gerak-geriknya tanpa harus mendongak terlalu tajam, namun c**up tersembunyi di balik punggung mahasiswa lain yang lebih tinggi.

Pak Adrian berdiri di depan sana, di balik podium kayu yang tampak kusam dibandingkan dengan kemeja slim-fit warna biru navy yang ia kenakan. Lengan kemejanya digulung rapi hingga ke siku, menampakkan urat-urat halus di punggung tangannya saat ia menuliskan beberapa poin tentang "Teori Identitas Sosial" di papan tulis. Setiap goresan spidolnya terdengar seperti irama yang hanya bisa kunikmati sendiri.

Aku menunduk, pura-pura mencatat, padahal buku catatanku sudah penuh dengan det**l-det**l kecil tentangnya yang tidak ada dalam kurikulum. Aku tahu Pak Adrian akan membetulkan letak kacamatanya setiap kali ia selesai menjelaskan satu paragraf panjang. Aku tahu ia memiliki kebiasaan mengetukkan ujung jari telunjuknya ke dagu saat sedang berpikir. Dan aku tahu, aroma parfumnya—campuran antara kayu cendana dan jeruk purut yang samar—selalu mampu membuat kepalaku pening oleh obsesi yang memabukkan.

"Jadi, menurut Tajfel, identitas seseorang sering kali ditentukan oleh kelompok di mana mereka merasa diterima," suara baritonnya bergema, tenang namun berwibawa. "Pertanyaannya, apa yang terjadi jika seseorang merasa tidak memiliki kelompok? Atau lebih buruk lagi, merasa tidak terlihat dalam kelompoknya sendiri?"

Matanya menyapu ruangan. Jantungku mencelos. Aku menahan napas, berharap—sekaligus takut—tatapan tajam di balik lensa kaca itu akan berhenti padaku. Aku sudah menyiapkan jawaban paling cerdas di kepalaku. Aku sudah membaca tiga jurnal tambahan semalam hanya untuk momen ini. Aku ingin dia tahu bahwa di ruangan ini, ada satu orang yang benar-benar memahami setiap kata yang ia ucapkan.

Namun, sebelum aku sempat mengangkat tangan, sebuah suara yang sangat kukenal memecah keheningan.

"Mungkin mereka akan menciptakan persona baru, Pak. Sesuatu yang jauh lebih menarik daripada diri mereka yang asli."

Itu Amara. Dia duduk hanya dua kursi di sebelah kananku. Dia bersandar sant**, sebelah tangannya memainkan ujung rambut panjangnya yang dicat cokelat madu. Kemeja putihnya sengaja dibuka dua kancing teratas, memperlihatkan tulang selangka yang dihiasi kalung emas tipis. Dia tidak membawa buku catatan, hanya sebuah tablet mahal yang tergeletak pasif di mejanya.

Pak Adrian menghentikan gerakannya. Ia menatap Amara, dan untuk sesaat, aku melihat kilatan ketertarikan yang tidak pernah ia berikan padaku. Bibirnya sedikit melengkung—sebuah senyum tipis yang sangat langka.

"Poin yang menarik, Amara. Eksperimentasi identitas sebagai mekanisme pertahanan diri," ujar Pak Adrian. Ia melangkah keluar dari balik podium, berjalan mendekat ke arah barisan kami. "Sering kali, orang-orang yang kita anggap 'paling bersinar' sebenarnya adalah mereka yang paling lihai mengelola persepsi orang lain terhadap diri mereka. Dan kamu, tampaknya sangat paham tentang bagaimana cara menarik perhatian."

Amara tertawa kecil, suara tawa yang terdengar renyah dan penuh percaya diri. "Saya rasa itu bakat alami, Pak."

Beberapa mahasiswa laki-laki di barisan belakang bersiul pelan, sementara yang lain berbisik-bisik. Ruangan yang tadinya kaku mendadak cair karena kehadiran Amara. Dan di sana, di tengah-tengah keriuhan itu, aku merasa seperti noda transparan di atas kaca bersih.

Aku meremas bolpoinku begitu kuat hingga jemariku memutih. Rasa panas menjalar dari tengkuk hingga ke pipiku. Bukan karena malu, tapi karena kecemburuan yang membakar. Pak Adrian masih menatap Amara, mereka saling melempar argumen ringan yang lebih terdengar seperti godaan intelektual bagi telingaku yang sensitif.

Pujian itu... "Paham tentang cara menarik perhatian." Kalimat itu terus terngiang di telingaku, berulang-ulang seperti kaset rusak. Itu adalah validasi yang sangat kuinginkan darinya, namun justru diberikan dengan cuma-cuma kepada seseorang yang bahkan tidak tahu perbedaan antara *ingroup* dan *outgroup*.

"Bagus sekali, Amara. Saya harap mahasiswa lain bisa memiliki keberanian untuk berpendapat sepertimu," tambah Pak Adrian sebelum kembali ke depan kelas.

Duniaku serasa runtuh perlahan. Keberanian? Aku punya ribuan pendapat di kepala ini. Aku punya analisis yang jauh lebih mendalam daripada sekadar 'menciptakan persona baru'. Tapi apa gunanya isi kepala jika matanya bahkan tidak pernah menetap lebih dari satu detik pada wajahku?

Aku melirik Amara dari sudut mataku. Dia sedang tersenyum puas, melirik ke arah cermin bedaknya seolah-olah mengonfirmasi bahwa kecantikannya baru saja memenangkan sebuah trofi tak kasat mata. Dia adalah matahari, dan aku hanyalah bayangan yang terkubur di bawah kakinya.

Kuliah berakhir satu jam kemudian. Saat semua orang bergegas keluar, aku masih mematung, merapikan buku-bukuku dengan gerakan yang sangat lambat, berharap Pak Adrian akan memanggilku atau setidaknya menyadari keberadaanku saat aku melewati mejanya.

Namun, Amara sudah lebih dulu berada di sana. Dia berdiri di depan meja Pak Adrian, membungkuk sedikit untuk menanyakan sesuatu yang jelas-jelas hanya alasan untuk berlama-lama. Aku bisa mendengar tawa Pak Adrian lagi. Suara itu, yang biasanya menjadi pengantar tidur dalam imajinasiku, kini terdengar seperti sembilu.

Aku berjalan melewati mereka dengan kepala tertunduk. Langkahku terasa berat, seolah-olah lant** lorong kampus terbuat dari lumpur hisap. Saat aku melewati pintu keluar, aku sempat melirik pantulan diriku di kaca jendela yang gelap.

Rambutku dikuncir kuda dengan rapi namun membosankan. Wajahku polos tanpa riasan, pucat dan tidak menonjol. Pakaianku adalah kemeja flanel longgar yang menyembunyikan segala bentuk tubuhku. Aku tampak seperti perpustakaan tua yang berdebu; penuh pengetahuan, tapi tak ada yang mau membukanya.

*Dia tidak akan pernah melihatmu jika kamu tetap seperti ini, Siska,* bisik sebuah suara di dalam kepalaku. Suara itu dingin dan tajam.

Aku menyentuh permukaan kaca itu, tepat di bagian pipiku yang terpantul. Rasa iri ini bukan lagi sekadar benci pada Amara, tapi sebuah transformasi keinginan yang berbahaya. Jika Pak Adrian menyukai apa yang dilakukan Amara—mengelola persepsi, menciptakan persona, menarik perhatian—maka aku akan melakukannya lebih baik dari siapa pun.

Aku tidak akan hanya menjadi pintar. Aku akan menjadi tak terlupakan.

Langkahku kini tak lagi gont**. Ada tujuan baru yang berdenyut di bawah kulitku. Aku teringat pada botol-botol minyak esensial, lulur racikan khusus, dan instruksi ritual yang baru saja kupelajari dari sebuah forum gelap di internet semalam. Ritual yang menjanjikan kecantikan yang bukan sekadar polesan, tapi sesuatu yang meresap hingga ke pori-pori.

Sesampainya di kost, aku tidak menuju meja belajar. Aku langsung menuju kamar mandi, mengunci pintunya rapat-rapat, dan menyalakan air. Uap mulai memenuhi ruangan kecil itu.

Malam ini, transformasi itu harus dimulai. Aku akan melepaskan kulit lamaku yang tidak berguna ini, selapis demi selapis, sampai hanya tersisa sesuatu yang Pak Adrian tidak akan sanggup untuk abaikan. Apapun harganya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca