Obsesi di Balik Pintu Porselen

Bab 3: Bab 3 - Siska memutuskan untuk mengubah penampilannya s...

Pengaturan Membaca

Cermin di atas meja belajar yang berantakan itu seolah mengejekku. Cahaya lampu neon yang putih pucat menonjolkan setiap kekurangan yang selama ini coba kusembunyikan: lingkaran hitam di bawah mata karena terlalu banyak begadang mengerjakan jurnal, pori-pori yang tampak kasar, dan kulit yang kusamβ€”sewarna dengan kertas fotokopi yang menumpuk di rak.

Tadi sore, aku melihat Pak Adrian tertawa kecil saat Amara tidak sengaja menab**k lengannya di koridor fakultas. Amara hanya mengenakan kaus putih polos dan celana jins, tetapi aroma parfum vanilanya menyebar seperti kabut yang memabukkan, membuat Pak Adrian menoleh lebih lama dari biasanya. Sementara aku? Aku berdiri hanya dua meter di samping mereka, memegang tumpukan tugas kelas yang berat, dan Pak Adrian bahkan tidak melirik sedikit pun saat aku mengucapkan permisi untuk lewat.

Aku hanyalah latar belakang. Aku adalah perabot yang keberadaannya hanya diakui jika menghalangi jalan.

"C**up," bisikku pada pantulan diriku sendiri. Jemariku gemetar saat aku membuka aplikasi perbankan di ponsel. Angka yang tertera di sana adalah sisa uang kiriman orang tuaku untuk satu bulan ke depan, ditambah sedikit tabungan dari hasil menjadi asisten laboratorium. Tidak banyak. Tapi c**up untuk satu kali 'pertaruhan'.

Aku menyambar jaket dan kunci motor, mengabaikan perutku yang sebenarnya sudah mulai keroncongan. Malam ini, aku tidak butuh makan malam. Aku butuh identitas baru.

Mal pusat kota masih ramai meskipun jarum jam sudah mendekati angka sembilan. Aku melangkah ragu mema**ki gerai kosmetik kelas atas yang pencahayaannya begitu terang hingga membuat mataku perih. Lant** marmernya yang meng***t memantulkan bayangan sepatuku yang sudah agak usang. Seorang pramuniaga dengan riasan wajah sempurna dan seragam hitam ketat menghampiriku. Matanya memindai penampilanku dari ujung kepala hingga kakiβ€”sebuah penilaian instan yang membuat nyaliku menciut.

"Ada yang bisa dibantu, Mbak?" tanyanya dengan nada yang terdengar sopan namun dingin.

Aku berdeham, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian. "Saya butuh... sesuatu untuk mengubah tekstur kulit. Yang terbaik. Dan parfum yang... tahan lama."

Pramuniaga itu tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya diberikan pada pelanggan yang dianggap punya uang. Dia membimbingku ke rak kaca yang berisi botol-botol kecil berkilau. "Ini adalah rangkaian *exfoliating serum* dan *night cream* dengan konsentrasi tinggi. Hasilnya instan. Dan untuk parfum, koleksi *niche* ini sedang sangat populer. *Oud* dan *damask rose*. Dewasa, elegan, dan sangat... dominan."

Aku menyentuh botol kaca kecil itu. Harganya tertera di label kecil di bawahnya. Jantungku mencelos. Harga satu botol serum itu setara dengan biaya makan dua mingguku. Dan parfum itu? Hampir separuh dari seluruh saldo di rekeningku.

Bayangan Amara yang bersandar di meja dosen Pak Adrian melintas di benakku. Aku ingat bagaimana Pak Adrian menyesuaikan kacamatanya, memberikan perhatian penuh pada setiap kata yang keluar dari bibir merah Amara. Rasa panas yang akrab membakar dadakuβ€”perpaduan antara iri hati dan rasa benci pada diri sendiri.

"Saya ambil semuanya," kataku dengan suara yang lebih tegas dari yang kukira.

Saat kartu debitku digesek, aku memejamkan mata. Aku tahu ini adalah keg***an. Aku tahu besok aku mungkin harus makan mi instan setiap hari, atau bahkan melewatkan jam makan sama sekali. Tapi saat aku menerima kantong kertas mewah dengan logo emas itu, ada sensasi aneh yang menjalar di perutku. Bukan rasa bersalah, melainkan antisipasi yang mendebarkan.

Sesampainya di kost, suasana sudah sepi. Kamar mandi bersama di ujung lorong kosong. Aku ma**k ke dalamnya, mengunci pintu kayu yang catnya sudah mengelupas, dan meletakkan semua belanjaanku di pinggir bak cuci yang berkerak.

Aku mulai mengeluarkan isinya satu per satu. Botol-botol itu tampak asing dan terlalu mewah di antara sikat gigi murah dan sabun batanganku. Aku memba**h wajahku, merasakan air dingin menusuk pori-pori. Kemudian, dengan tangan gemetar, aku membuka botol serum pertama. Cairannya bening, kental, dan dingin.

Saat cairan itu menyentuh kulit pipiku, ada rasa perih yang menjalar. Sedikit menyengat, seolah zat kimia itu sedang mengikis lapisan 'Siska yang lama' yang membosankan. Aku menatap cermin, memperhatikan bagaimana kulitku sedikit memerah.

"Sakit?" bisikku pada diri sendiri. "Bagus. Biar saja sakit."

Aku terus mengoleskan krim-krim mahal itu dengan ketelitian seorang peneliti. Setiap gerakan jariku mengikuti kontur wajah dengan penuh pengabdian. Aku tidak akan membiarkan satu inci pun terlewat. Aku akan memahat ulang diriku sendiri di balik pintu porselen ini.

Setelah selesai dengan perawatan wajah, aku meraih botol parfum itu. Cairannya berwarna kemerahan seperti anggur tua. Aku menyemprotkannya sekali di pergelangan tangan. Aromanya meledakβ€”kuat, tajam, dan sangat mahal. Sangat jauh dari aroma sabun bayi yang biasa kugunakan. Aroma ini berteriak untuk diperhatikan. Aroma ini adalah aroma seseorang yang berkuasa, bukan seseorang yang bersembunyi di pojok kelas.

Tiba-tiba, suara tawa yang nyaring terdengar dari luar pintu kamar mandi. Itu suara Amara. Dia baru saja pulang, mungkin habis berkencan atau sekadar nongkrong dengan teman-temannya yang populer.

"Eh, kalian cium nggak? Ada bau apa sih ini? Wangi banget, tapi aneh," suara Amara terdengar jelas, diikuti suara tawa teman-temannya yang lain. "Kayak bau parfum tante-tante kaya. Siapa sih yang pakai?"

Aku membeku di dalam kamar mandi. Napasku tertahan di tenggorokan. Jantungku berdegup kencang, menghantam dinding dadaku. Aku memandang pintu porselen yang memisahkanku dari mereka. Mereka tidak tahu. Belum.

Aku meraih botol parfum itu lagi, jemariku mencengkeramnya erat hingga kuku-kukuku memutih. Alih-alih merasa malu, sebuah senyum miring muncul di wajahku yang masih terasa perih.

*Nikmati saja tawamu sekarang, Amara,* batinku.

Aku menyemprotkan parfum itu sekali lagi, kali ini langsung ke leherku, hingga butirannya membasahi kulit. Besok, Pak Adrian tidak akan hanya menoleh. Dia akan mencari tahu siapa pemilik aroma ini. Dan saat itu terjadi, Amara hanya akan menjadi kenangan yang memudar di matanya.

Namun, saat aku hendak membereskan barang-belanjaanku, mataku terpaku pada secarik kertas kecil yang jatuh dari kantong belanja. Itu adalah struk bukti pembayaran. Angka totalnya tercetak tebal di bagian bawah, seolah meneriakkan kenyataan bahwa aku baru saja menghabiskan uang yang seharusnya kusemprotkan untuk bertahan hidup. Dan di ponselku, sebuah notifikasi muncul: pesan singkat dari ibu, menanyakan apakah uang kiriman bulan ini sudah ma**k karena adikku butuh biaya sekolah tambahan.

Tanganku mulai bergetar lagi, kali ini bukan karena antusiasme, melainkan karena kedinginan yang tiba-tiba menyerang dari dalam. Aku menatap botol-botol mewah itu, lalu ke arah pintu yang masih digedor pelan oleh Amara yang iseng.

"Woi, siapa di dalam? Lama banget! Gue mau cuci muka nih!" teriak Amara sambil tertawa.

Aku menatap pantulan wajahku di cermin sekali lagi. Kulitku merah, perih, dan di balik aroma parfum yang memabukkan ini, aku bisa mencium aroma ketakutan yang mulai menyeruak. Aku sudah melangkah terlalu jauh, dan tidak ada jalan untuk kembali.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca