Obsesi di Balik Pintu Porselen

Bab 5: Bab 5 - Siska memulai ritual menc**ur dan mengeksploras...

Pengaturan Membaca

Grendel pintu kamar mandi berkarat itu berdenting saat Siska menguncinya dari dalam. Bunyi itu, meski kecil, memberikan rasa aman yang semuβ€”sebuah barikade antara dirinya dan dunia luar yang selalu menuntutnya untuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Di ruangan sempit berukuran dua kali dua meter ini, uap air mulai memenuhi udara, membawa aroma lavender dari sabun cair mahal yang baru saja ia beli tadi sore. Sabun itu harganya setara dengan jatah makan siangnya selama tiga hari, tapi demi sebuah transformasi, Siska menganggapnya sebagai investasi.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin buram yang tergantung miring di dinding. Jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan kaca, menghapus embun hingga menampakkan wajahnya sendiri. Siska membenci apa yang dilihatnya. Ia melihat mata yang terlalu letih karena begadang mengerjakan tugas anatomi, pipi yang menurutnya terlalu tembam, dan kulit yang tampak kusam di bawah cahaya lampu neon yang berkedip.

"Amara tidak punya kantung mata seperti ini," bisiknya pada sunyi.

Pikirannya melayang pada Amara yang tadi sore tertawa renyah di lorong kost, mengenakan gaun tidur satin yang memperlihatkan bahu mulusnya. Amara selalu tampak seperti porselen yang dipoles sempurna. Dan Pak Adrian... Siska memejamkan mata, membayangkan bagaimana mata tajam dosen karismatik itu mengikuti gerak-gerik Amara di kelas. Rasa sesak merayap di dadanya, sebuah perpaduan antara kecemburuan dan rasa tidak berdaya.

Siska melepaskan pakaiannya satu per satu, membiarkannya jatuh ke lant** ubin yang dingin. Ia melangkah ke bawah pancuran shower. Air hangat mulai memba**h tubuhnya, tapi alih-alih merasa rileks, ia justru merasa diawasi oleh ekspektasinya sendiri. Ia menunduk, memandangi lekuk tubuhnya dengan pandangan kritis seorang kurator yang menemukan c**** pada karya seni.

Ada bulu-bulu halus di kakinya, ketidaksempurnaan kecil yang selama ini ia abaikan, namun kini terasa seperti noda besar yang memalukan. Bagaimana jika Pak Adrian melihatnya sedekat ini? Pemikiran itu membuatnya bergidik.

Siska meraih tas kecil berisi peralatan "perangnya". Sebuah pisau c**ur baru dengan tiga mata pisau berkilau perak keluar dari kemasannya. Ia mengoleskan gel c**ur beraroma buah persik ke sepanjang tungkai kakinya. Busa putih itu menutupi kulitnya, menyembunyikan segala kekurangan yang ia benci.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia mulai menarik pisau itu dari pergelangan kaki menuju lutut. Sret. Satu jalur kulit yang mulus dan bersih terbuka. Ia melakukannya lagi. Sret. Ia merasa seperti sedang memahat dirinya sendiri, membuang lapisan "Siska yang lama" yang tidak terlihat, untuk memunculkan sosok baru yang layak dicint**.

Namun, fokusnya terpecah saat bayangan Pak Adrian kembali muncul. Ia membayangkan pria itu berdiri di belakangnya, membisikkan kata-kata pujian yang selama ini hanya ia dengar dalam mimpinya. Konsentrasinya buyar. Di area tulang kering yang menonjol, tangannya sedikit tersentak.

"Akh!"

Siska meringis, menarik pisau itu dengan cepat. Rasa perih yang tajam segera menjalar. Di atas busa putih yang bersih, setetes warna merah pekat muncul, lalu mengalir perlahan seperti air mata darah. Ia telah melukai dirinya sendiri.

Ia terpaku melihat noda merah itu kontras dengan putihnya busa dan ubin kamar mandi. Luka kecil itu berdenyut, seolah mengejek usahanya. Air dari shower menyiram luka itu, membuatnya makin perih, tapi Siska tidak menjauh. Ia justru memandangi darah yang larut bersama air, mengalir menuju lubang pembuangan.

"Bodoh," makinya pada diri sendiri. Air matanya mulai mengalir, bercampur dengan air shower. "Bahkan untuk hal sederhana seperti ini pun kamu gagal, Siska."

Ia segera membilas kakinya, mengabaikan rasa perih yang kini terasa seperti tusukan jarum. Ia menatap luka kecil ituβ€”sebuah torehan merah yang merusak kemulusan yang baru saja ia ciptakan. Obsesinya untuk menjadi sempurna mendadak terasa seperti beban yang sangat berat di pundaknya.

Siska menyandarkan kepalanya ke dinding kamar mandi yang dingin dan lembap. Suara air yang menghantam lant** ubin terdengar seperti bisikan-bisikan yang menertawakannya. Ia merasa tidak akan pernah c**up. Tidak akan pernah sebanding dengan Amara. Tidak akan pernah pantas untuk Adrian.

Namun, di tengah keputusasaannya, sebuah tekad gelap muncul. Ia menyeka air matanya dengan kasar. Jika satu luka kecil bisa membuatnya goyah, maka ia tidak akan pernah mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia harus lebih keras pada dirinya sendiri. Ia harus lebih berani.

Siska meraih kembali pisau c**urnya. Ia menatap luka di kakinya, lalu menatap bagian tubuhnya yang lain yang belum tersentuh. Ritual ini belum selesai. Ia tidak akan keluar dari kamar mandi ini sebelum ia merasa "pantas".

Tiba-tiba, suara ketukan keras terdengar dari luar pintu.

"Siska? Kamu di dalam? Lama banget, sih! Aku sudah kebelet nih!" suara cempreng Amara menggelegar, merusak keheningan yang ia bangun dengan susah payah.

Jantung Siska berdegup kencang. Ia menatap darah yang masih sedikit merembes dari lukanya, lalu menatap pintu. Rasa panik mulai menjalar. Jika Amara melihat peralatan ini, jika Amara tahu apa yang ia lakukan di dalam sini...

"Siska! Jawab dong!" Amara menggedor lagi, kali ini lebih keras.

Siska menahan napas, tangannya mencengkeram erat pisau c**ur itu hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak boleh membiarkan Amara ma**k. Tidak sekarang. Tidak sebelum ia berhasil menghapus semua jejak kerapuhannya. Dengan tergesa-gesa, ia mencari cara untuk menyembunyikan semuanya, namun matanya justru tertuju pada noda darah yang mulai mengering di pinggiran bak mandi porselen, sebuah tanda yang seolah berteriak memberi tahu dunia tentang rahasia gelap yang baru saja ia mulai.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca