Uap air mawar yang kental memenuhi bilik kamar mandi, menciptakan kabut tipis yang menyelimuti cermin porselen di hadapanku. Aku mengusapkan jemariku ke permukaan kaca yang berembun, perlahan menampakkan pantulan wajahku yang tampak merona karena suhu air yang panas. Di bawah lampu neon yang berkedip redup, aku memperhatikan setiap inci kulitku. Tekstur lulur butiran halus yang baru kubeliβharganya setara dengan jatah makanku selama semingguβterasa kasar namun memuaskan saat kugosokkan ke bahu.
Aku ingin menjadi seperti porselen. Putih, mulus, dan tanpa cela. Seperti Amara.
Setiap kali Amara melenggang di lorong kost dengan aroma parfum mahalnya, semua mata tertuju padanya. Terma**k mata Pak Adrian. Pikiran itu seperti duri yang sengaja kutancapkan ke jantungku sendiri. Aku ingat bagaimana cara Adrian menatap Amara di kelas tadi pagi; sebuah binar ketertarikan yang tidak pernah ia berikan padaku, mahasiswa pendiam yang selalu duduk di barisan kedua dan hanya berani bicara lewat tugas-tugas tertulis yang sempurna.
"Sedikit lagi," bisikku pada diri sendiri. Suaraku menggema di antara dinding keramik yang dingin.
Aku menuangkan minyak esensial ke telapak tangan, lalu memijat leherku. Aku harus sempurna. Jika aku bisa mengubah diriku menjadi sosok yang tidak bisa diabaikan, mungkin Adrian akan menyadari bahwa aku ada. Mungkin dia akan melihat bahwa di balik kacamata dan sikap tertutup ini, ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kecantikan dangkal Amara.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari lorong luar. Langkah itu tidak seperti langkah kaki para penghuni kost putri yang biasanya ringan atau menyeret sandal jepit. Ini adalah langkah kaki yang tegas, berirama, dan entah mengapa, terasa sangat asing di lingkungan ini.
Jantungku berdegup kencang. Aku menoleh ke arah pintu kayu kamar mandi yang sudah tua itu. Aku ingat betul tadi sudah mendorong gerendelnya, namun ada perasaan tidak enak yang menyelinap di benakku. Gerendel itu memang sudah lama longgar, sering kali tidak mengunci sempurna jika tidak ditekan dengan kuat hingga terdengar bunyi 'klik'.
Suara langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar mandiku.
"Amara? Kamu di dalam?"
Suara itu. Berat, bariton, dan sangat kukenal. Pak Adrian? Napas batinku seolah terhenti. Apa yang dia lakukan di kost putri ini? Dan kenapa dia mencari Amara?
Rasa panik mulai menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala. Aku berdiri kaku di tengah bilik, tubuhku masih basah dan hanya tertutup sisa-sisa busa sabun serta uap air. Aku tidak berani bersuara, berharap dia mengira kamar mandi ini kosong dan segera pergi.
"Amara, ini saya. Saya hanya ingin mengembalikan buku catatanmu yang tertinggal di kantor," suara itu terdengar lagi, lebih dekat, tepat di balik sekat kayu tipis ini.
Aku mendengar suara gagang pintu diputar. Kepalaku berputar cepat ke arah pintu. *Klik.* Tidak, tidak ada bunyi klik. Aku lupa menekannya dengan benar!
Pintu yang tidak terkunci sempurna itu berderit terbuka karena dorongan yang tidak sengaja. Mungkin dia pikir Amara sedang memakai *skincare* di depan cermin dan tidak mendengarnya.
Waktu seolah melambat. Gerakan pintu yang mengayun terbuka itu terasa seperti adegan film horor yang diputar dalam gerakan lambat. Cahaya dari lorong luar yang lebih terang menerobos ma**k, membelah kabut uap di dalam ruangan.
Dan di sana dia berdiri.
Pak Adrian. Dia masih mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga sikuβpakaian yang sama yang kulihat di kampus tadi. Tangannya masih memegang gagang pintu, sementara tangan satunya memegang sebuah buku catatan berwarna merah milik Amara.
Matanya yang biasanya tajam dan penuh wibawa di balik lensa kacamata, kini membelalak lebar. Pupilnya melebar seketika saat pandangannya jatuh langsung ke arahku. Aku berdiri mematung, tanpa sehelai benang pun, hanya ditemani uap air yang perlahan menipis. Air yang menetes dari rambutku jatuh ke lant** dengan suara yang terdengar sangat nyaring di tengah keheningan yang mencekam itu.
Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, tak satu pun dari kami bergerak. Aku bisa melihat jakunnya bergerak naik-turun saat dia menelan ludah. Ekspresi terkejut di wajahnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa kubacaβsesuatu yang jauh lebih gelap dan intens daripada sekadar rasa malu. Tatapannya tidak segera beralih. Dia tidak langsung membuang muka. Sebaliknya, matanya menyapu seluruh tubuhku, dari bahu yang memerah hingga ujung kakiku yang gemetar.
Duniaku runtuh. Rasa malu yang luar biasa menghantamku, namun di saat yang sama, ada kilatan g*** di sudut hatiku yang merasa puas karena akhirnya, untuk pertama kalinya, aku adalah pusat dari seluruh perhatiannya.
"S-Siska?" suaranya pecah, hampir berupa bisikan yang tertahan di tenggorokan.
Tanganku secara refleks bergerak menutupi dada, namun sudah terlambat. Gambar diriku sudah terekam di matanya. Aku ingin berteriak, ingin bersembunyi di balik dinding porselen ini, tapi lidahku kelu. Keheningan itu pecah ketika terdengar suara langkah kaki lain dari arah tangga, disert** suara tawa Amara yang melengking.
"Pak Adrian? Oh, Bapak sudah sampai? Sebentar, saya ambil kuncinya dulu!" seru Amara dari kejauhan.
Adrian tersentak. Kesadarannya kembali, dan dengan gerakan cepat yang hampir kasar, dia menarik pintu itu hingga tertutup rapat. Bunyi dentuman pintu yang beradu dengan kusennya menggema di seluruh ruangan, menyisakan aku yang terduduk lemas di lant** keramik yang basah, memeluk lututku sendiri dengan napas yang memburu.
Pintu itu tertutup, tapi aku tahu satu hal: setelah detik ini, Pak Adrian tidak akan pernah bisa menatapku dengan cara yang sama lagi. Dan obsesi ini baru saja mema**ki babak yang paling berbahaya.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!