Udara sore itu terasa pengap, membawa aroma campuran antara detergen murah dan parfum melati yang terlalu menyengat dari arah jemuran di lant** dua. Adrian melonggarkan simpul dasinya, membiarkan satu kancing teratas kemejanya terbuka. Di mata mahasiswi-mahasiswinya di kampus, tindakan sederhana ini mungkin akan dianggap sebagai gestur yang sangat maskulin, namun bagi Adrian, itu hanyalah cara untuk meredakan sesak yang menghimpit dadanya sejak ia menginjakkan kaki di depan pagar besi bercat putih ini.
Kost Putri Melati. Sebuah benteng feminitas yang biasanya tertutup bagi pria mana pun, kecuali sang pemilik memiliki kepentingan mendesak. Dan Adrian memiliki "kepentingan" itu—setidaknya, itulah alasan resmi yang ia siapkan di balik saku jasnya: setumpuk draf revisi skripsi milik salah satu penghuni kost ini yang ia klaim "tertinggal" di mejanya.
"Pak Adrian? Benar-benar Pak Adrian?"
Suara melengking itu membuat Adrian menoleh. Amara berdiri di sana, mengenakan tank top ketat dan celana pendek yang nyaris tidak menutupi apa-apa. Gadis itu bersandar di bingkai pintu, melempar senyum yang sudah terlalu sering Adrian lihat di bar-bar kelas atas Jakarta; senyum yang haus akan perhatian.
"Selamat sore, Amara," sapa Adrian dengan nada bariton yang terjaga. Ia memaksakan sebuah senyum profesional, meski matanya secara naluriah memindai area di belakang Amara, mencari sosok lain. "Saya mencari Ibu Kost. Ada dokumen yang harus segera saya sampaikan."
"Oh, Ibu Kost sedang ke pasar. Ma**k saja dulu, Pak. Gerah di luar," Amara mengibaskan rambutnya yang harum stroberi sintetik, melangkah mendekat dengan gerakan yang sengaja dibuat meliuk. "Tumben sekali Bapak mau mengantar dokumen sendiri. Biasanya kan mahasiswa yang disuruh lari-lari ke ruangan Bapak."
Adrian melangkah ma**k ke ruang tamu yang sempit, merasa seperti predator yang terperangkap di dalam kotak perhiasan yang terlalu penuh. Matanya terus bergerak. Di sudut matanya, ia melihat sepasang sepatu kets yang sangat ia kenali—bersih, rapi, diletakkan dengan presisi yang hampir obsesif di rak sepatu. Milik Siska.
Gadis itu. Siska.
Di ruang kelas, Siska adalah bayangan. Dia adalah titik sunyi di baris belakang yang selalu menunduk saat Adrian mengedarkan pandangan. Namun, Adrian tahu ada sesuatu di balik sikap tertunduk itu. Ia sering menangkap basah Siska yang memperhatikannya melalui pantulan kaca jendela atau sela-sela buku teksnya. Tatapan yang bukan sekadar kekaguman dangkal seperti yang ditunjukkan Amara, melainkan sesuatu yang lebih gelap, lebih lapar, dan jauh lebih murni.
"Pak Adrian mau minum apa? Dingin atau... hangat?" tanya Amara, suaranya merendah, mencoba menciptakan suasana intim yang dipaksakan.
"Air putih saja, terima kasih," jawab Adrian singkat. Ia tidak duduk. Ia berjalan menuju meja panjang di tengah ruangan, tempat beberapa tumpukan buku tergeletak.
Pikirannya melayang pada kejadian di kelas tadi siang. Siska tampak berbeda. Ada aura yang mulai berubah dari gadis itu. Sesuatu tentang cara dia menggerakkan jemarinya di atas meja, atau aroma sabun yang lebih tajam—aroma bunga yang tidak umum, sesuatu yang lebih dalam dan... mahal. Adrian mendapati dirinya sengaja memperpanjang durasi penjelasannya di papan tulis hanya agar dia bisa berdiri lebih dekat dengan meja Siska, menghirup aroma itu, dan menikmati gemetar halus di bahu gadis itu saat bayangannya jatuh menimpa buku catatannya.
"Ini airnya, Pak." Amara kembali, menyodorkan gelas kristal yang tampak terlalu mewah untuk kost sekecil ini. Saat menyerahkannya, ujung jari Amara sengaja mengusap punggung tangan Adrian.
Adrian merasakan dorongan untuk segera menarik tangannya, bukan karena merasa terancam, melainkan karena rasa jijik yang harus ia sembunyikan dengan rapi. Amara terlalu transparan. Dia seperti buku terbuka dengan tulisan yang membosankan. Berbeda dengan Siska. Siska adalah teka-teki terkunci yang kuncinya sengaja ia telan sendiri. Dan Adrian selalu menyukai tantangan untuk membedah hal-hal yang tertutup rapat.
"Terima kasih," ujar Adrian dingin. Ia meminum airnya sedikit, matanya tertuju pada tangga menuju lant** atas. "Di mana mahasiswi lainnya? Saya rasa ada beberapa orang di kelas saya yang tinggal di sini juga."
"Maksud Bapak... Siska?" Amara mendengus, tawa kecil meremehkan lolos dari bibirnya yang dipulas lipstik merah menyala. "Si kutu buku itu paling sedang bersembunyi di kamar mandi. Dia bisa menghabiskan berjam-jam di sana akhir-akhir ini. Entah apa yang dia lakukan, mungkin sedang mencoba merapal mantra agar wajahnya tidak pucat lagi."
Adrian merasakan denyut aneh di pelipisnya. Berjam-jam di kamar mandi? Ia teringat akan kulit Siska yang hari ini terlihat lebih bersinar, seolah-olah lapisan kusamnya telah dikelupas paksa. Ia membayangkan Siska di dalam sana, di balik pintu porselen yang tertutup, merawat dirinya dengan ketelitian yang mengerikan demi satu tujuan. Demi siapa?
Pertanyaan itu membakar ego Adrian. Apakah Siska melakukan semua itu untuknya? Ataukah untuk orang lain yang tidak ia ketahui?
Tiba-tiba, suara pintu di lant** atas terbuka. Suasana mendadak hening. Adrian menengadah, dan di sana, di balik railing kayu, berdiri Siska.
Gadis itu tidak memakai kacamata besarnya. Rambutnya basah, tergerai jatuh ke bahunya yang terbalut jubah mandi tipis. Wajahnya kemerahan—bukan karena malu, melainkan karena uap panas. Saat mata mereka bertemu, Adrian melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya di mata Siska: tantangan. Tidak ada lagi mahasiswa yang ketakutan. Yang ada hanyalah seorang wanita yang sadar betul akan kekuatan barunya.
"Pak Adrian?" Suara Siska halus, hampir berbisik, namun terdengar sangat jelas di telinga Adrian.
Adrian merasakan jantungnya berhantam keras melawan rusuknya. Ia harus menjaga citra profesionalnya. Ia adalah dosen, pendidik, pria terhormat. Namun, melihat Siska berdiri di sana, dengan uap air yang masih menguar dari kulitnya yang tampak seputih porselen, Adrian tahu bahwa topengnya sedang retak.
"Siska. Saya... hanya mengantarkan dokumen untuk pengurus kost," dusta Adrian, suaranya sedikit lebih serak dari biasanya.
Siska tidak membalas. Ia hanya memberikan senyum tipis—senyum yang sangat rahasia—sebelum berbalik ma**k kembali ke kamarnya, membiarkan pintu tertutup dengan bunyi klik yang menggema.
Adrian berdiri terpaku. Ia tahu ia harus pergi sekarang sebelum Amara menyadari perubahan ekspresinya. Namun, saat ia melangkah menuju pintu keluar, satu pikiran gelap berakar di benaknya. Siska bukan lagi sekadar mahasiswi yang bisa ia abaikan. Dia adalah obsesi yang baru saja menemukan bentuknya yang paling berbahaya.
Ia merogoh saku jasnya, meremas lembaran kertas yang sebenarnya sama sekali tidak penting itu. Ia telah melihat apa yang ingin ia lihat, namun ia pulang dengan rasa haus yang jauh lebih besar. Pintu porselen itu mungkin sudah tertutup, tapi Adrian tahu, ia akan menemukan cara untuk membukanya kembali, tidak peduli seberapa kotor cara yang harus ia tempuh.
Langkah kaki Adrian terdengar berat saat ia meninggalkan teras, menyadari bahwa ia telah ma**k ke dalam permainan yang mungkin tidak akan bisa ia menangkan tanpa menghancurkan dirinya sendiri. Dan yang paling menakutkan adalah, ia sama sekali tidak keberatan jika harus hancur bersama gadis itu.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!