Aroma sabun mawar dan losion almond yang semalam kupoleskan berulang kali ke kulitku seolah masih tertinggal, menguap lembut setiap kali aku bergerak. Pagi ini, udara koridor kampus terasa berbeda. Bukan karena suhunya, melainkan karena caraku menghirupnya. Untuk pertama kalinya, aku tidak menunduk saat berjalan melewati deretan loker yang penuh dengan mahasiswa yang sedang bergosip. Aku bisa merasakan tekstur rok span berwarna abu-abu gelap yang kupilih dengan saksama membungkus pinggulku dengan sempurna, sebuah kontras yang tajam dengan kardigan longgar yang biasanya kugunakan untuk bersembunyi.
Kakiku melangkah menuju ruang kuliah Teori Komunikasi dengan ritme yang lebih lambat, lebih sadar diri. Setiap kali ujung sepatuku menyentuh lant** marmer, ada kepuasan aneh yang menjalar. Aku merasa seperti sebuah porselen yang baru saja dipoles; licin, dingin, dan berkilau.
"Tumben, Sis, rambutmu dikuncir kuda setinggi itu," celetuk Amara saat aku mema**ki kelas.
Dia duduk di barisan tengah, tempat favoritnya untuk menjadi pusat semesta. Matanya yang tajam, yang biasanya hanya melirikku sekilas seolah aku adalah perabot usang, kini terpaku pada leherku yang terekspos. Aku hanya tersenyum tipisβsenyum yang telah kulatih di depan cermin kamar mandi selama satu jam tadi pagi.
"Hanya ingin suasana baru, Ra," jawabku pelan, namun c**up tegas agar suaraku tidak terdengar bergetar.
Aku memilih tempat duduk di barisan kedua, tepat di jalur pandang dosen. Biasanya, aku akan meringkuk di pojok belakang, berusaha menjadi bagian dari bayangan dinding. Tapi tidak hari ini. Hari ini, aku butuh dilihat.
Pintu kelas terbuka tepat pukul sembilan. Jantungku berdentum keras, menciptakan irama yang seolah bisa didengar oleh orang di sebelahku. Pak Adrian melangkah ma**k dengan langkah panjang yang khas. Kemeja putihnya yang disetrika rapi dengan lengan yang digulung hingga siku selalu berhasil membuat suasana kelas yang tadinya riuh menjadi hening dalam sekejap. Dia meletakkan tas kulitnya di atas meja, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Biasanya, pandangannya akan langsung menuju Amara atau mahasiswa aktif lainnya yang selalu siap dengan pertanyaan-pertanyaan mencari muka. Namun, saat matanya menyapu barisan depan, dia berhenti tepat padaku.
Hanya dua detik. Tapi bagiku, itu terasa seperti keabadian. Ada kerutan halus di dahi Adrian, sebuah tanda kecil bahwa dia menyadari ada sesuatu yang bergeser dalam komposisi ruangan ini. Sesuatu yang disebut Siska kini memiliki saturasi warna yang lebih tajam.
"Selamat pagi semuanya," suaranya yang bariton mengisi ruangan, membuat bulu kudukku meremang. "Sebelum kita mulai, saya ingin mengembalikan hasil esai minggu lalu."
Adrian mulai berjalan mengelilingi barisan kursi, membagikan kertas-kertas itu. Ketika dia mendekati barisanku, aku bisa mencium aroma parfumnyaβcampuran antara *sandalwood* dan kertas lama. Jantungku serasa ingin melompat keluar saat dia berhenti tepat di samping mejaku.
Dia tidak langsung meletakkan kertas itu. Dia memegangnya sedikit lebih lama, matanya membaca namaku di pojok kanan atas, lalu perlahan menunduk menatapku.
"Analisis yang sangat tajam, Siska," ucapnya dengan nada yang sedikit lebih rendah dari suaranya saat berbicara pada mahasiswa lain. "Saya sangat menyukai caramu membedah teori semiotika dalam konteks modern. Kamu punya perspektif yang tidak biasa."
Tangannya mengulurkan kertas itu padaku. Saat aku menjangkaunya, ujung jarinya dengan sengaja atau tidak, bersentuhan dengan punggung tanganku. Kulitku yang baru saja melewati ritual perawatan intensif terasa sangat sensitif. Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang dingin.
"Terima kasih, Pak," bisikku. Aku memastikan mataku bertemu dengan matanya, tidak lagi melarikan pandangan ke lant**.
Adrian tersenyumβbukan senyum formal dosen pada umumnya, melainkan senyum tipis yang hanya menyentuh sudut matanya. "Lanjutkan performa ini. Saya harap kamu lebih sering bersuara di kelas saya."
Dia kemudian beralih ke Amara yang duduk di belakangku. Aku bisa merasakan hawa dingin yang tiba-tiba memancar dari arah Amara. Adrian memberikan kertas Amara tanpa kata-kata tambahan, hanya anggukan singkat sebelum kembali ke depan kelas.
Suasana kelas terasa berbeda setelah itu. Aku bisa merasakan bisik-bisik di barisan belakang. Selama ini, Adrian dikenal sebagai dosen yang dingin dan sangat menjaga jarak. Dia tidak pernah memberikan pujian secara terbuka di depan kelas, apalagi pada mahasiswa yang selama ini dianggap sebagai "si kutu buku yang tak terlihat".
"Kok bisa?" suara bisikan lirih dari arah Amara terdengar jelas di telingaku. "Padahal esaiku dibilang cuma 'c**up' minggu lalu."
Aku berpura-pura fokus pada catatan di depan, namun jemariku meraba bekas sentuhan Adrian di punggung tanganku. Rasanya panas, seolah dia meninggalkan stempel kepemilikan di sana. Di tengah penjelasan Adrian tentang teori komunikasi massa, aku bisa merasakan tatapan Amara yang menusuk tengkukku. Itu bukan lagi tatapan meremehkan, melainkan tatapan penuh kecurigaan dan rasa iri.
Selama sisa jam pelajaran, Adrian beberapa kali melemparkan pertanyaan, dan setiap kali dia melakukannya, matanya akan kembali padaku, seolah menunggu responku sebagai validasi atas penjelasannya. Perlakuan khusus ini seperti bensin yang menyiram api di dalam dadaku. Aku merasa menang, namun di saat yang sama, aku sadar bahwa aku baru saja keluar dari persembunyianku dan ma**k ke dalam medan perang yang sesungguhnya.
Saat kelas berakhir, Adrian membereskan bukunya dan berkata, "Siska, kalau kamu ada waktu, tolong mampir ke ruangan saya setelah jam makan siang. Ada referensi buku yang ingin saya tunjukkan untuk bahan penelitianmu."
Seluruh kelas mendadak sunyi. Amara berdiri dengan kasar, kursinya berdecit keras di lant**. Dia menatapku dengan mata yang menyipit, bibirnya terkatup rapat membentuk garis tipis yang penuh kebencian. Teman-teman satu gengnya mulai saling lirik dan berbisik lebih keras.
Aku mengangguk pelan pada Adrian, berusaha menjaga ekspresi wajahku tetap netral meskipun di dalam hati aku bersorak. "Baik, Pak. Saya akan ke sana."
Saat aku berjalan keluar kelas, Amara sengaja menab**k bahuku. Dia berhenti sejenak, mendekatkan wajahnya ke telingaku hingga aku bisa mencium aroma parfum menyengatnya yang kini terasa kalah kelas dibandingkan aromaku.
"Jangan pikir aku nggak tahu apa yang kamu lakukan, Siska," desisnya rendah, penuh ancaman. "Pak Adrian itu seleranya tinggi. Jangan harap trik murahmu ini bakal bertahan lama."
Dia melangkah pergi dengan hentakan kaki yang angkuh, tapi aku tahu aku telah berhasil menyentuh sarafnya yang paling sensitif. Namun, peringatannya meninggalkan gema kegelisahan. Aku melihat ke arah ujung koridor, tempat Adrian baru saja menghilang di balik pintu ruang dosen. Aku telah berhasil menarik perhatiannya, tapi sekarang, aku bukan lagi mahasiswi yang tak terlihat. Aku adalah target, dan di kampus ini, rumor bisa menghancurkan seseorang lebih cepat daripada kegagalan akademik.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!