Lonceng di atas pintu berdenting pelan, suaranya terdengar seperti dentang pemakaman di tengah keheningan jalanan yang mati. Andini merapatkan jaket denimnya yang mulai menipis di bagian siku. Ia menatap papan neon bertuliskan "SukaMart 24 Jam" yang berkedip gelisah, seolah-olah papan itu sendiri ragu apakah ingin tetap menyala atau menyerah pada kegelapan malam.
Sepuluh juta rupiah per bulan. Plus bonus kehadiran yang tidak ma**k akal.
Angka itu terus berputar di kepala Andini seperti kaset rusak, menjadi satu-satunya alasan kakinya tidak berbalik arah dan lari menjauh. Di sakunya, terselip surat tagihan rumah sakit peninggalan ayahnya yang sudah berwarna kusam, namun angka-angka merah di dalamnya masih sangat tajam menusuk harga dirinya.
"Kamu Andini?"
Suara serak itu mengejutkannya. Seorang pria paruh baya dengan kantung mata sedalam palung laut muncul dari balik rak minuman. Seragamnya tampak kebesaran, dan ada bau aneh yang menguar darinyaβcampuran antara formalin dan melati yang memuakkan.
"Iya, Pak. Saya yang melamar untuk shift malam," jawab Andini, berusaha memberikan senyum profesional yang ia latih di depan cermin pecah di kamarnya.
Pria itu, Pak Suryaβmanajer toko yang mewawancarainya lewat teleponβhanya mengangguk tanpa ekspresi. Ia menyerahkan sebuah rompi merah cerah yang terasa dingin saat disentuh. "Tugasmu simpel. Jaga kasir, scan barang, terima pembayaran. Jangan banyak tanya, jangan tinggalkan meja kasir sebelum jam delapan pagi, apa pun yang terjadi."
"Baik, Pak. Tapi... apa ada prosedur khusus?" tanya Andini, memperhatikan betapa sunyinya toko ini. Tidak ada suara radio, tidak ada suara dengung kulkas yang biasanya meramaikan minimarket. Hanya ada keheningan yang seolah-olah memiliki berat.
Pak Surya sudah melangkah menuju pintu keluar. Ia berhenti sejenak, tangannya memegang gagang pintu dengan buku-buku jari yang memutih. "Semua yang perlu kamu tahu ada di bawah laci kasir. Baca. Patuhi. Jika tidak, jangan harap kamu bisa mencairkan gaji pertamamu."
Tanpa menunggu balasan, Pak Surya melangkah keluar. Pintu otomatis tertutup dengan bunyi *klak* yang berat, seperti pintu sel penjara yang dikunci dari luar. Andini berdiri sendirian di balik meja kasir yang terbuat dari marmer imitasi yang dingin.
Jam dinding menunjukkan pukul 23:45.
Andini mencoba menyibukkan diri. Ia merapikan jajaran permen karet dan cokelat di depan meja kasir. Namun, ada yang aneh. Beberapa label harga tidak mencantumkan angka rupiah, melainkan simbol-simbol melingkar yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ia mengerutkan kening, mencoba mengabaikannya sebagai mungkin kesalahan cetak atau kampanye pemasaran yang aneh.
Keheningan di dalam toko mulai terasa menekan gendang telinganya. Ia mencoba bersiul kecil, namun suaranya seolah terserap oleh dinding-dinding toko yang dicat putih pucat. Ia menoleh ke arah jendela besar di depan toko. Jalanan di luar tampak berkabut, padahal ini adalah musim kemarau. Lampu jalanan di seberang tiba-tiba padam satu per satu, seolah-olah ada sesuatu yang besar sedang berjalan lewat dan mematikan cahaya dengan kehadirannya.
Teringat ucapan Pak Surya, Andini membungkuk dan menarik laci di bawah mesin kasir. Di sana, di balik tumpukan kantong plastik, ia menemukan sebuah buku tulis bersampul kulit hitam yang sudah mengelupas. Di sampulnya, terdapat tulisan tangan yang tergesa-gesa: *MANUAL KESELAMATAN KASIR - BACA SEBELUM TENGAH MALAM.*
Jantung Andini berdegup kencang. Ia membuka halaman pertama. Tulisan di dalamnya bukan ketikan komputer, melainkan goresan pena tinta merah yang merembes ke balik kertas.
*Aturan Nomor 1: Jangan pernah menyapa pelanggan yang ma**k dengan kaki kiri terlebih dahulu. Mereka bukan pembeli, mereka adalah pengumpul.*
*Aturan Nomor 2: Jika ada pelanggan yang membawa barang yang tidak ada di rak toko kita, jangan tanyakan asalnya. Scan saja ruang kosong di atas scanner. Harga akan muncul secara otomatis. Jika harga yang muncul adalah '0', berarti mereka meminta bayaran, bukan memberi.*
*Aturan Nomor 3: Jika pukul 00:00 lampu toko berubah menjadi ungu kebiruan, segera jongkok di bawah meja kasir dan tutup telingamu. Jangan dengarkan suara cakaran di kaca.*
Andini tertawa kecil, tawa yang terdengar hambar dan ketakutan. "Ini pasti lelucon senior," gumamnya. Namun, jemarinya yang gemetar saat membalik halaman berikutnya membantah logikanya sendiri.
Di halaman kedua, ada noda kecokelatan yang tampak seperti darah kering yang sudah lama.
*Aturan Nomor 4: Mata uang kita di sini bukan Rupiah. Jika mereka menyodorkan koin perak, terima. Jika mereka menyodorkan botol berisi cairan bening, simpan di bawah kasir. Jika mereka menyodorkan potongan memori... pastikan itu bukan memorimu sendiri.*
Tiba-tiba, lampu neon di atas kepala Andini berkedip keras. Suara dengung listriknya terdengar seperti jeritan tertahan. *Bzzzt... bzzzt...*
Andini mendongak. Jam dinding tepat menunjukkan pukul 00:00.
Detik itu juga, suhu di dalam toko merosot tajam. Napas Andini mulai mengembun di udara. Cahaya putih terang dari lampu neon perlahan-lahan meredup, berganti dengan pendar ungu kebiruan yang mengerikan, menyapu seluruh ruangan dan mengubah warna produk-produk di rak menjadi bayangan yang mengancam.
Lonceng pintu berdenting lagi. *Ting.*
Pintu otomatis itu terbuka perlahan. Angin dingin yang membawa bau tanah kuburan dan besi berkarat menyeruak ma**k. Dari balik kabut hitam di luar, sebuah sosok tinggi menjulang muncul. Sosok itu mengenakan jubah panjang yang tampak seperti tenunan dari rambut manusia. Wajahnya tersembunyi di balik tudung, namun Andini bisa melihat sepasang tangan dengan jemari yang terlalu panjang dan memiliki terlalu banyak sendi.
Sosok itu melangkah ma**k. Satu langkah. Dua langkah.
Andini terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya melirik ke bawah, ke arah kaki pelanggan pertama itu. Sosok itu tidak memiliki kaki yang menyentuh lant**, melainkan melayang beberapa inci di atas ubin. Namun, yang membuat bulu kuduk Andini berdiri tegak adalah apa yang diseret sosok itu di tangan kanannya: sebuah keranjang belanja berisi tumpukan bola mata yang masih berkedip-kedip.
Sosok itu berhenti tepat di depan meja kasir. Ia tidak bersuara, namun Andini merasakan sebuah tekanan hebat di dalam kepalanya, seolah-olah ada seseorang yang mencoba membuka paksa b**nkas di dalam otaknya.
Teringat Aturan Nomor 2, Andini dengan tangan gemetar meraih pemindai kode batang (scanner). Sosok itu meletakkan sebuah toples kecil di atas meja. Di dalamnya, ada sesuatu yang bercahaya keemasanβsesuatu yang tampak seperti gumpalan awan kecil yang berputar-putar.
Andini mengarahkan scanner ke toples itu. Tangannya sangat tidak stabil hingga scanner itu membentur permukaan marmer.
*Pip.*
Layar kasir yang biasanya menunjukkan harga barang, kini berkedip-kedip dengan tulisan berwarna merah darah:
**HARGA: 3 TAHUN USIA HIDUP KASIR.**
Andini membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia menatap sosok di depannya, dan dari balik kegelapan tudung itu, sepasang mata berwarna kuning menyala terbuka, menatap langsung ke dalam jiwanya.
"Kembaliannya..." suara itu bukan terdengar di telinganya, melainkan bergema langsung di dalam tengkoraknya. "...mana?"
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!