Detik jarum jam di atas lemari pendingin terasa seperti palu yang menghantam paku ke dalam peti mati. Setiap detaknya bergema di antara rak-rak yang terisi oleh barang-barang yang tidak akan pernah ditemukan di minimarket manapun di dunia luar—kaleng-kaleng berisi "Bisikan yang Terlupakan" atau botol-botol bening berisi "Air Mata Anak Sulung".
Pukul 02:59.
Andini menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin yang berbau ozon dan anyir besi memenuhi paru-parunya. Ia meraba saku celemeknya, memastikan buku manual kecil bersampul kulit kusam itu masih ada di sana. Ujung-ujung jarinya gemetar, namun ia segera mengepalkan tangan. Di tempat ini, rasa takut adalah aroma yang mengundang predator.
Tepat saat angka digital di mesin kasir berganti menjadi 03:00, lonceng di atas pintu ma**k tidak hanya berdenting sekali. Lonceng itu menjerit, bergetar hebat seolah-olah ditarik oleh puluhan tangan tak kasat mata.
"Waktunya," bisik Andini pada bayangannya sendiri di kaca etalase.
Pintu kaca itu terbuka lebar, menghantam dinding dengan keras, namun tak ada angin yang ma**k. Yang ada hanyalah gelombang kabut abu-abu yang membawa aroma tanah kuburan yang basah. Dalam sekejap, toko yang tadinya sunyi berubah menjadi pasar yang gaduh dari dimensi lain. Ini adalah *Witching Hour*, puncak dari jam sibuk di Gerbang Antah Berantah.
Seorang pria tanpa wajah dengan setelan jas yang compang-camping berdiri paling depan, memegang sekeranjang penuh "Mie Instan Keputusasaan". Di belakangnya, sesosok makhluk setinggi dua meter dengan tiga pasang tangan mulai menumpuk tumpukan cokelat "Memori Manis" ke atas ban berjalan. Belum sempat Andini menyapa, antrean sudah mengular hingga ke lorong belakang, dipenuhi oleh bayangan-bayangan yang berbisik dan entitas-entitas dengan anatomi yang menentang logika.
"Totalnya tiga tahun kenangan masa kecil untuk mie ini, Tuan," ujar Andini, suaranya tetap datar meskipun jantungnya berdegup kencang. Ia mengikuti aturan nomor 4: *Jangan pernah menunjukkan keterkejutan pada c**** fisik pelanggan.*
Pria tanpa wajah itu menyodorkan sebuah bola cahaya kecil yang redup. Andini mengambilnya dengan penjepit perak—kontak kulit langsung bisa berakibat fatal—lalu mema**kkannya ke dalam mesin kasir. Mesin itu mendengkur puas saat menelan cahaya tersebut.
"Kembaliannya adalah dua bulan rasa syukur," kata Andini, menyerahkan sebotol kecil cairan berwarna kuning emas. Pria itu mengangguk kaku dan menghilang ke dalam kabut.
"Cepat! Aku tidak punya banyak waktu sebelum fajar mengoyak kulitku!" teriak pelanggan berikutnya, makhluk dengan kulit transparan yang memperlihatkan organ-organ yang berdenyut biru.
Andini bekerja dengan kecepatan yang tidak pernah ia duga bisa ia lakukan. Tangannya bergerak seperti mesin; memindai kode bar yang terasa panas di kulit, menghitung kembalian berupa potongan-potongan emosi, dan memastikan tidak ada satu pun barang yang tertukar. Di jam ini, satu kesalahan kecil bukan sekadar teguran dari atasan, melainkan undangan untuk dikuliti hidup-hidup.
Keringat mulai bercucuran di pelipisnya. Bau di dalam toko semakin pekat—campuran antara belerang, dupa, dan sesuatu yang manis namun memuakkan.
"Kenapa lama sekali?!" bentak sebuah suara parau yang tumpang tindih.
Andini mendongak sejenak. Di hadapannya kini berdiri tiga entitas yang tampak seperti saudara kembar siam, namun tubuh mereka terbuat dari kumpulan gagak yang terus meronta. Mereka menuntut perhatian bersamaan. Salah satu kepala gagak itu mematuk meja kasir, tepat di samping jari Andini.
"Sesuai Manual Keselamatan Bab 3, Pasal 9," suara Andini terdengar lebih tegas sekarang, "Pelanggan dengan manifestasi jamak harus menunggu proses verifikasi jiwa secara berurutan. Jika Anda keberatan, silakan ajukan keluhan ke Kotak Saran di lorong enam."
Ia tahu lorong enam tidak ada. Lorong itu adalah jebakan ruang yang akan mengurung siapapun yang mema**kinya dalam labirin tanpa akhir.
Makhluk gagak itu terdiam, mata-mata kecilnya yang merah menatap Andini dengan kebencian murni, namun mereka mundur selangkah. Andini tidak memberi mereka waktu untuk bereaksi lebih jauh. Ia menyambar sekeranjang penuh "Es Batu dari Hati yang Dingin" milik pelanggan di samping mereka dan mulai menghitungnya.
Tangan Andini bergerak menyambar pemindai, lalu beralih ke laci uang memori, kembali lagi ke kantong belanja dari kulit samak. Ia merasa seolah-olah jiwanya ditarik ke berbagai arah. Otaknya dipaksa bekerja di luar kapasitas manusia; menghitung kurs antara "Rasa Bersalah" dan "Penyesalan Abadi" dalam hitungan detik.
"Nona..."
Suara itu lembut, sangat manusiawi, kontras dengan kegaduhan di sekitarnya.
Andini membeku sejenak namun tangannya tetap bekerja membungkus pesanan seorang *Ghoulish* di depannya. Di ujung antrean, berdiri seorang wanita tua yang tampak sangat biasa. Ia mengenakan daster batik yang sudah pudar, persis seperti yang sering dipakai almarhumah nenek Andini. Namun, wanita itu tidak memiliki bayangan, dan matanya... matanya hanya berupa lubang hitam yang dalam.
"Aku ingin membeli kembali ini," kata wanita itu sambil meletakkan sebuah jam saku perak yang sangat dikenal Andini di atas meja.
Jantung Andini seakan berhenti berdetak. Itu adalah jam milik ayahnya. Jam yang hilang di malam ayahnya mengalami kecelakaan.
"Harganya tidak murah, Andini," bisik wanita itu, menyebut namanya tanpa pernah diperkenalkan. "Aku tidak menerima memori orang lain. Aku ingin memori *mu* tentang ayahmu. Berikan padaku, dan jam ini menjadi milikmu lagi."
Andini terdiam. Di sekelilingnya, entitas-entitas lain mulai mengerang, menuntut layanan. Suasana toko semakin menekan, lampu neon di langit-langit berkedip-kedip liar, mengeluarkan suara letupan listrik. Oksigen terasa menipis.
Andini melirik buku manual di saku celemeknya. Ada satu aturan yang tertulis dengan tinta merah di halaman paling belakang, yang selama ini ia abaikan karena dianggap tidak ma**k akal.
*Aturan Nomor 0: Jika masa lalumu datang berbelanja, jangan pernah menawar. Karena di toko ini, harga sebuah kenangan selalu lebih mahal daripada nyawa yang memilikinya.*
Tangan Andini gemetar saat ia meraih pemindai. Matanya menatap jam perak itu, lalu beralih ke lubang hitam di wajah wanita tua itu. Di belakangnya, pelanggan-pelanggan monster mulai merangsek maju, kehilangan kesabaran. Salah satu dari mereka, sesosok bayangan besar dengan taring panjang, sudah mulai menjulurkan lidahnya ke arah leher Andini.
"Aku..." suara Andini tercekat.
Tiba-tiba, alarm di jam dinding berbunyi nyaring, menandakan pukul 03:33—puncak dari Witching Hour. Seluruh lampu di dalam toko padam seketika, menyisakan kegelapan total yang hanya dipecah oleh pendar cahaya merah dari mesin kasir yang menunjukkan tulisan: **TRANSAKSI TIDAK SAH: NYAWA TIDAK C**UP.**
Andini merasakan sebuah tangan dingin yang keriput mencengkeram pergelangan tangannya di kegelapan.
"Pilih, Nona Kasir," bisik suara wanita tua itu tepat di telinganya. "Berikan memorinya, atau biarkan mereka yang di belakangmu mengambil seluruh dirimu."
Andini bisa merasakan hembusan napas busuk dari makhluk di belakangnya tepat di tengkuknya, sementara cengkeraman di tangannya semakin kuat, menariknya ma**k ke dalam kegelapan di balik meja kasir.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!