Lampu neon di langit-langit toko berkedip gelisah, mengeluarkan bunyi *tek-tek-tek* yang sinkron dengan denyut nadi di pelipisku. Udara malam ini terasa lebih pekat dari biasanya, membawa aroma tanah basah dan sisa dupa yang terbakar habis. Aku baru saja selesai mengelap noda cairan hitam kental dari rak mi instan ketika lonceng di atas pintu berdenting.
Itu bukan denting yang biasa. Suaranya tidak berat atau bergema seperti saat makhluk-makhluk dari dimensi sebelah ma**k. Ini adalah bunyi yang sangat kukenali dari kehidupanku sebelum terjebak di sini—denting logam ringan yang jernih.
Aku mendongak, dan jantungku seolah merosot ke perut.
Seorang pria muda, mungkin seusiaku, melangkah ma**k dengan sant**. Ia mengenakan jaket *hoodie* abu-abu yang agak dekil dan memegang ponsel dengan layar yang menyala terang. Ia tidak membawa aroma kematian, tidak juga memiliki anggota tubuh tambahan. Ia berbau keringat, polusi jalanan, dan keputusasaan khas mahasiswa tingkat akhir.
Dia manusia. Manusia asli yang bernapas.
"Mbak, ada air mineral dingin?" tanyanya tanpa melihat ke arahku, jempolnya sibuk mengusap layar ponsel.
Aku terpaku. Tanganku yang memegang lap kain gemetar hebat. Mataku beralih dengan cepat ke sudut toko. Di lorong tiga, si "Nyonya Berwajah Terbalik" sedang asyik memilah-milah stoples berisi bola mata acar. Di dekat lemari pendingin, sesosok bayangan jangkung tanpa wajah—yang kupanggil Si Pucat—sedang berdiri mematung, kepalanya yang miring perlahan mulai berputar ke arah pintu.
"Mas, keluar," bisikku, suaraku parau.
"Hah?" Pria itu akhirnya mendongak. Ia mengerutkan kening, menatapku seolah aku adalah pelayan toko paling tidak sopan yang pernah ia temui. "Saya cuma mau beli minum, Mbak. Haus banget, motor mogok di depan."
Dia melangkah maju. Setiap langkah sepatunya di lant** ubin yang dingin terdengar seperti lonceng kematian bagiku. Ia tidak melihat apa yang kulihat. Baginya, toko ini mungkin hanya tampak sedikit remang-remang dan berantakan. Ia tidak melihat Nyonya Berwajah Terbalik yang kini sudah berhenti memilih acar dan mulai mengendus udara dengan lubang hidung yang berada di dahi.
"Sekarang juga, Mas. Keluar. Toko ini... toko ini sudah tutup," kataku lebih tegas, mencoba menahan getaran di suaraku. Aku teringat Bab 4 dalam Manual Keselamatan: *Jika mahluk hidup tak terundang ma**k ke dalam toko setelah pukul 00:00, segera evakuasi tanpa menarik perhatian pelanggan tetap. Pelanggan tetap membenci makanan yang masih 'berdetak'.*
"Tutup? Itu lampunya nyala, pintunya nggak dikunci," bantah pria itu, mulai terlihat jengkel. Ia berjalan menuju lemari pendingin, tepat melewati Si Pucat.
Jantungku berhenti berdetak sesaat. Si Pucat merendahkan tubuhnya, jemari panjangnya yang mirip ranting pohon menjalar perlahan menuju bahu pria itu. Aroma tembaga—bau darah segar—mulai memenuhi ruangan. Nyonya Berwajah Terbalik mengeluarkan suara mendesis, seperti uap yang keluar dari ketel mendidih.
"Mas, jangan ke sana!" aku setengah berteriak, melompat melewati meja kasir.
Pria itu terhenti, tangannya hanya berjarak beberapa inci dari pintu kaca lemari pendingin. Ia menoleh ke arahku dengan tatapan bingung, lalu ke sampingnya—ke arah Si Pucat yang berdiri hanya sepuluh sentimeter darinya. Namun, matanya tetap kosong. Baginya, di sana hanya ada ruang hampa.
"Mbak ini kenapa sih? Aneh banget," gerutunya.
Aku berlari mendekat, meraih lengannya. Kulitnya terasa hangat, sangat kontras dengan suhu ruangan yang nyaris membeku. Kehangatan itu mengingatkanku pada dunia luar, pada matahari, pada segala sesuatu yang mulai kulupakan.
"Ikut aku," perintahku, menariknya paksa menuju pintu keluar.
"Eh, Mbak! Apa-apaan sih? Lepasin!"
Di belakang kami, aku bisa mendengar suara tulang yang berderak. Si Pucat tidak suka makanannya diambil. Nyonya Berwajah Terbalik mulai merangkak di langit-langit, gerakannya patah-patah seperti serangga raksasa. Matanya yang merah menatap kami dengan lapar. Aku tahu, jika aku tidak mengeluarkan pria ini dalam sepuluh detik, aku tidak hanya akan kehilangan pelanggan ini, tapi juga kepalaku sendiri.
"Dengar," aku berhenti sejenak tepat di depan pintu kaca, menatap matanya dalam-dalam. "Kalau kamu mau selamat, jangan menoleh ke belakang. Jangan bicara. Lari ke motor kamu, dan jangan pernah lewat jalan ini lagi sampai matahari terbit. Mengerti?"
Pria itu tampak ingin tertawa, mungkin mengira aku sedang mengerjainya untuk konten media sosial. Namun, saat ia melihat keringat dingin mengucur di wajahku dan mataku yang membelalak ketakutan menatap sesuatu di belakang bahunya, raut wajahnya berubah. Ia merasakan hembusan angin sedingin es yang baru saja ditiupkan Si Pucat ke tengkuknya.
"Mbak... kok baunya kayak bangkai?" bisiknya, suaranya mulai bergetar.
"LARI!" teriakku sambil mendorongnya sekuat tenaga keluar pintu.
Pria itu terhuyung jatuh ke trotoar, ponselnya terpelanting. Ia tidak menunggu untuk mengambilnya. Ia bangkit dan berlari sekencang mungkin ke kegelapan malam, menghilang di balik kabut yang menyelimuti gerbang toko.
Aku segera menutup pintu dan menguncinya. *Klik.*
Hening.
Aku menyandarkan punggungku di pintu yang dingin, napasku memburu. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama. Suara gesekan kuku panjang di ubin terdengar dari arah belakangku.
Aku menelan ludah, perlahan memutar tubuh. Nyonya Berwajah Terbalik sudah berada tepat di depanku, wajahnya yang terbalik hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Lidahnya yang panjang dan hitam menjilat bibirnya yang berada di atas mata.
Di sudut ruangan, Si Pucat mengeluarkan suara parau yang terdengar seperti tawa yang tersedak.
Aku ingat aturan lain di buku manual itu. *Jika kau menggagalkan perburuan pelanggan, kau harus memberikan kompensasi yang setara.*
Tanganku meraba meja kasir, mencari pisau pemotong kertas yang biasa kugunakan untuk membuka kardus stok barang. Pikiranku melayang pada Ayah, pada hutang-hutang yang belum lunas, dan pada ketakutanku akan dilupakan.
"Dia... dia bukan untuk dimakan," suaraku bergetar, namun aku mencoba tetap tegar. "Sebagai gantinya... ambil ini."
Aku meletakkan tanganku di atas meja kasir, telapak tangan menghadap ke atas, sambil memejamkan mata rapat-rapat. Aku tahu apa yang harus kuberikan. Bukan uang, bukan memori, tapi sesuatu yang lebih fisik.
Tiba-tiba, lampu toko padam sepenuhnya. Dalam kegelapan total, aku merasakan sesuatu yang sangat dingin dan tajam menyentuh pergelangan tanganku.
"Andini..." sebuah suara yang bukan berasal dari manusia berbisik tepat di telingaku, "Kau tahu konsekuensinya jika kau mencampuri urusan alam kami."
Rasa sakit yang hebat meledak di jemariku, disusul oleh suara robekan kain dan daging. Aku menjerit, namun suaraku tertelan oleh kegelapan toko yang seolah ikut bersorak menyaksikan kontrak yang baru saja diperbarui dengan darah. Saat itu aku sadar, menyelamatkan nyawa orang lain di tempat ini selalu menuntut bayaran yang tidak sanggup kutanggung.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!