Udara di dalam ruang pendingin itu bukan sekadar dingin; itu tajam, seperti ribuan jarum mikro yang berusaha menembus pori-pori kulit. Andini merapatkan jaket seragamnya yang tipis, napasnya keluar dalam kepulan uap putih yang tebal. Di depannya, barisan rak besi berdiri kaku, memikul beban berupa bungkusan plastik kedap udara yang labelnya sengaja dibalik.
Ia tahu apa isinya. "Stok Daging Spesial". Begitu label yang tertera di buku inventaris. Namun, setelah tiga minggu bekerja di sini, Andini tahu benar bahwa daging-daging itu tidak pernah berasal dari rumah jagal mana pun di bumi.
Andini melangkah lebih dalam, melewati tumpukan jeroan entitas yang masih berdenyut pelan meski terbungkus es. Tujuannya adalah rak paling pojok, tempat bungkusan yang lebih panjang dan ramping disimpan. Ia teringat instruksi samar dari pelanggan tetap berkepala dua kemarin malam: *“Jika kau ingin tahu cara merobek kontrakmu, tanyalah pada mereka yang sudah menjadi aset tetap.”*
Tangannya yang gemetar menyentuh salah satu bungkusan plastik. Permukaannya kasar karena kristal es. Di balik plastik bening yang membeku, ia melihat fragmen kain seragam yang sama dengan yang ia kenakan sekarang. Sebuah nametag perak menyembul dari balik lipatan beku: *Bagus – Kasir Senior*.
“Bagus?” bisik Andini. Suaranya pecah, diredam oleh dinding kedap suara ruang pendingin.
Tiba-tiba, lampu neon di langit-langit berkedip sekali, lalu mati. Dalam kegelapan total, keheningan itu mendadak berubah menjadi bising. Bukan bising suara, melainkan bising frekuensi yang menusuk gendang telinga. Andini merasakan tekanan udara di sekitarnya berubah. Plastik di depannya berkerisik, seolah sesuatu di dalamnya mencoba menggeliat.
“Andini… kau kah itu?”
Suara itu tidak datang dari telinga, melainkan beresonansi langsung di dalam tengkoraknya. Dingin, parau, dan penuh penderitaan.
Andini memejamkan mata rapat-rapat, memegang pinggiran rak agar tidak jatuh. “Aku butuh cara keluar. Aku tahu kau tahu celahnya. Kontrak ini… kontrak ini tidak adil.”
“Adil adalah kata yang tidak laku di toko ini, Gadis Kecil,” suara itu tertawa, suara yang terdengar seperti es yang pecah. “Kami semua di sini mengira bisa mengakali Si Manajer. Lihat kami sekarang. Kami hanya angka di laporan stok mingguan.”
Cahaya biru pucat mulai memancar dari balik plastik pembungkus Bagus. Andini memberanikan diri membuka mata. Di hadapannya, samar-samar terbentuk siluet wajah pria di balik lapisan plastik. Matanya cekung, dan mulutnya seolah dijahit oleh garis-garis kristal es.
“Ada satu cara,” bisik roh Bagus. “Halaman terakhir Manual Keselamatan bukan untuk dibaca, tapi untuk dibasahi. Di sana ada klausul tersembunyi tentang ‘Pertukaran Posisi’. Kau bisa pergi jika kau menemukan pengganti yang nilainya lebih tinggi dari jiwamu, atau jika kau bisa memicu *stock opname* total saat gerbang dimensi sedang tidak stabil.”
Jantung Andini berdegup kencang. Harapan kecil menyelinap di sela ketakutannya. “Bagaimana cara memicu ketidakstabilan itu?”
Siluet di balik plastik itu mendekat, menekan wajahnya yang beku ke arah Andini. “Informasi itu mahal, Andini. Di sini, kami tidak lagi menggunakan koin memori. Kami lapar. Kami haus akan sensasi hidup yang sudah lama hilang.”
Andini mundur selangkah, namun punggungnya membentur pintu ruang pendingin yang entah sejak kapan sudah tertutup rapat dan terkunci dari luar. “Apa yang kau inginkan?”
“Aku ingin melihat lagi,” desis Bagus. Suaranya kini dipenuhi nafsu yang mengerikan. “Aku merindukan warna matahari terbenam. Aku merindukan cahaya lampu jalanan. Aku ingin matamu, Andini. Berikan mata kirimu padaku, dan aku akan memberitahumu jam berapa tepatnya gerbang itu akan retak.”
Andini merasakan mual yang luar biasa. Ia menyentuh kelopak mata kirinya dengan jari yang mati rasa. “Mataku? Kau g***! Aku tidak bisa bekerja dengan satu mata di tempat ini!”
“Oh, kau bisa,” tawa Bagus mengguncang rak-rak besi di sekeliling mereka. Bungkusan-bungkusan daging lain mulai ikut bergetar, seolah ribuan jiwa yang terjebak di sana ikut terbangun dan menuntut bagian. “Lagipula, untuk apa mata yang utuh jika kau hanya akan melihat kegelapan di sini selamanya? Berikan padaku, atau kau tidak akan pernah keluar dari ruangan ini hidup-hidup. Manajer akan menemukanku sebagai tumpukan daging baru di shift pagi nanti.”
Andini mendengar suara kunci diputar dari luar—bukan kunci fisik, melainkan suara mekanis dari sistem keamanan toko yang mengunci otomatis jika ada 'anomali' di ruang stok. Suhu di dalam ruangan merosot drastis hingga mencapai angka yang mustahil. Rambut Andini mulai memutih karena bunga es.
“Cepat, Andini!” teriak Bagus, suaranya kini tumpang tindih dengan suara-suara kasir terdahulu lainnya yang mulai meratap. “Satu mata untuk kebebasanmu! Atau kau menjadi bagian dari kami tanpa mata sama sekali!”
Andini menatap pintu yang membeku, lalu menatap siluet Bagus yang kelaparan. Tangannya meraba saku celemeknya, mencari cutter yang biasa ia gunakan untuk membuka kardus stok barang. Logam dingin cutter itu terasa seperti janji sekaligus ancaman di telapak tangannya.
Ia tahu, jika ia menyerah sekarang, ia mungkin kehilangan sebagian dari dirinya. Namun jika ia menolak, ia akan kehilangan segalanya.
“Hanya satu?” tanya Andini dengan suara gemetar, jemarinya perlahan menekan pelat besi cutter hingga mata pisaunya keluar dengan bunyi *klik* yang tajam.
“Hanya satu,” jawab Bagus dengan nada hampir memohon. “Berikan padaku, dan rahasia gerbang itu akan menjadi milikmu.”
Andini mengangkat pisau itu ke depan wajahnya. Pantulan matanya yang ketakutan terlihat di bilah logam yang berkarat. Di luar sana, jam dinding toko berdenting, menandakan pukul 03:00 pagi—jam di mana aturan-aturan dunia nyata berhenti berfungsi sepenuhnya.
Andini memejamkan mata, menghirup napas terakhirnya yang hangat, dan mengarahkan ujung pisau itu ke sudut matanya sendiri. Namun, tepat sebelum ujung logam itu menyentuh kulit, ia menyadari sesuatu yang janggal pada bayangan Bagus di plastik itu.
“Tunggu,” bisik Andini, tangannya berhenti di udara. “Kalau kau sudah tidak punya mata, bagaimana kau tahu aku sedang memegang pisau?”
Suasana di ruang pendingin itu mendadak hening mencekam. Tekanan udara yang tadi menghimpit seolah tersedot ma**k ke dalam vakum. Siluet Bagus membeku, dan untuk pertama kalinya, Andini melihat ketakutan yang murni di balik wajah yang terjahit es itu—bukan karena dirinya, melainkan karena sesuatu yang berdiri tepat di belakang Andini.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!