Pukul 03:14 pagi adalah waktu di mana realitas biasanya mulai menipis, seperti kain tua yang dipaksa meregang. Cahaya lampu neon di atas meja kasir berkedip ritmis, mengeluarkan bunyi *dengung* rendah yang membuat saraf Andini menegang. Ia sedang menghitung botol-botol "Ekstrak Tangis Bayi" di rak pendingin ketika sebuah hembusan angin dingin yang tidak wajar menyapu tengkuknya.
Andini membeku. Udara di dalam minimarket tiba-tiba beraroma seperti ozon dan tanah kuburan yang basah.
*Sret!*
Suara gesekan halus terdengar dari arah meja kasir. Andini berbalik cepat, tangannya refleks meraba saku celemek, mencari buku manual mungil yang selalu ia bawa. Di sana, di balik konter, sesosok bayangan setinggi manusia—namun tanpa bentuk yang pasti, seperti tinta hitam yang ditumpahkan ke udara—sedang merogoh laci kasir.
Bukan uang kertas yang dicarinya. Makhluk itu menyambar sebuah toples kaca kecil berisi "Kenangan Musim Panas Terakhir"—mata uang paling berharga yang baru saja diterima Andini dari seorang pelanggan veteran setengah jam lalu.
"Hei! Berhenti!" teriak Andini. Suaranya bergema aneh, seolah diserap oleh dinding-dinding toko.
Sosok bayangan itu tidak menoleh. Ia bergerak dengan gerakan patah-patah yang mustahil, meluncur melewati deretan rak makanan ringan yang kini tampak memanjang secara tidak wajar. Dengan satu lompatan cair, entitas itu menghilang ke balik pintu ganda abu-abu yang menuju gudang belakang.
Jantung Andini berdegup kencang, menghantam rusuknya. Ia tahu aturannya. *Aturan Nomor 14: Jangan pernah mengejar pencuri ke dalam gudang setelah pukul 03:00 tanpa tali penambat.* Namun, ia juga tahu konsekuensi dari kehilangan inventaris berharga. Jika toples itu hilang, manajer—yang wujud aslinya bahkan tak ingin ia bayangkan—akan memotong "masa hidup" Andini sebagai ganti rugi. Atau lebih buruk lagi, menjadikannya penghuni tetap di dalam lemari pendingin.
"Si****," umpatnya pelan. Ia menyambar lampu senter UV dan nekat berlari mengejar.
Begitu Andini mendorong pintu gudang, gravitasi seolah bergeser lima derajat ke kiri. Rasa mual menghantam lambungnya. Gudang yang seharusnya hanya seluas dua puluh meter persegi itu kini membentang luas tak bertepi. Rak-rak besi menjulang tinggi ke atas, menghilang di dalam kegelapan kabut abu-abu yang menyelimuti langit-langit—jika memang ada langit-langit di sana.
"Kembalikan!" Andini berteriak, suaranya kini terdengar kecil di tengah labirin beton ini.
Bayangan itu terlihat di ujung lorong rak nomor 404—rak yang seharusnya tidak ada. Andini berlari, sepatunya menghantam lant** semen yang terasa sedingin es. Namun, setiap kali ia merasa mendekat, jarak di antara mereka seolah merenggang. Lant** di bawah kakinya tiba-tiba terasa empuk, berubah menjadi hamparan pasir hitam yang mengisap setiap langkahnya.
"Jangan bermain-main denganku!" Andini mengatur napasnya yang mulai memburu, uap dingin keluar dari mulutnya.
Ia mengarahkan senter UV-nya. Cahaya ungu itu menyapu punggung sang pencuri, memperlihatkan wujud aslinya: kumpulan tangan-tangan kurus yang saling bertautan membentuk tubuh manusia. Makhluk itu mengeluarkan suara desisan, seperti ribuan bisikan yang tumpang tindih.
Tiba-tiba, rak-rak di kiri dan kanan Andini mulai bergeser. Bunyi besi beradu dengan lant** menciptakan suara m****akkan telinga. Lorong yang tadinya lurus kini melengkung, membentuk spiral yang membingungkan. Andini menoleh ke belakang, dan pintu ma**k yang tadi ia lalui sudah hilang, digantikan oleh tumpukan kardus bertuliskan huruf-huruf yang terus bergerak dan berubah bentuk.
"Oke, Andini. Berpikir. Gunakan logikamu," bisiknya pada diri sendiri. Tangannya yang gemetar membuka buku manual secara acak. Matanya tertuju pada sebuah catatan kaki: *'Gudang tidak bergerak mengikuti ruang, tapi mengikuti penyesalan.'*
Penyesalan.
Seketika, aroma melati yang kuat menusuk indranya. Aroma yang sama saat pemakaman ayahnya dua tahun lalu. Andini memejamkan mata sejenak, menepis rasa bersalah yang mulai merayap. Ia tahu ini adalah trik gudang itu. Ia tidak boleh terjebak dalam memori.
"Aku tidak di sini untuk masa lalu," tegasnya, suaranya lebih mantap. "Aku di sini untuk menyelesaikan shift-ku!"
Ia membuka mata dan tidak lagi berlari mengejar bayangan itu. Alih-alih, ia melangkah diagonal, memotong jalur rak yang sedang bergeser. Ia tidak mengikuti mata, ia mengikuti insting kasirnya—insting untuk menjaga barang milik toko.
Andini memanjat salah satu rak besi yang bergoyang, mengabaikan suara-suara gaib yang memanggil namanya dari kegelapan. Dari ketinggian, ia melihat bayangan itu terjebak di sebuah sudut di mana dua dimensi sedang berbenturan, menciptakan riak di udara seperti genangan air yang dilempari batu.
Andini melompat turun, mendarat tepat di depan makhluk itu. Cahaya senter UV-nya ia kunci pada wajah tanpa mata sang pencuri.
"Letakkan toples itu," perintah Andini dingin. "Atau aku akan melaporkanmu pada Layanan Pelanggan Pusat."
Mendengar kata 'Layanan Pelanggan Pusat', sosok bayangan itu gemetar hebat. Di tempat ini, ada hal-hal yang lebih ditakuti daripada kematian, dan birokrasi alam baka adalah salah satunya. Namun, bukannya menyerah, makhluk itu justru tertawa—suara parau yang terdengar seperti gesekan amplas.
"Bukan aku yang mencurinya, Kasir Kecil," bisik ribuan suara dari tubuh bayangan itu. "Aku hanya mengamankannya. Lihatlah ke belakangmu."
Andini mengerutkan kening, namun kewaspadaannya tidak luntur. "Aku tidak akan tertipu trik murahan itu."
"Toko ini sedang lapar," lanjut bayangan itu sembari perlahan-lahan mencair ke lant**, meninggalkan toples kaca di atas semen dingin. "Dan shift malammu baru saja menjadi permanen."
Andini segera menyambar toples itu, memeluknya erat. Namun, saat ia berbalik untuk mencari jalan keluar, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Pintu gudang memang kembali muncul, namun posisinya kini berada di langit-langit, menggantung jauh di atas jangkauan tangannya. Dan di bawah kakinya, lant** semen mulai retak, menampakkan deretan gigi-gigi raksasa yang terbuat dari rak-rak besi yang patah, siap untuk mengunyah siapa pun yang terjebak di dalamnya.
Gudang ini tidak hanya berubah dimensi; gudang ini sedang mencoba memakannya.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!