Lampu neon di langit-langit toko berkedip dua kali, mengeluarkan suara *tek-tek* yang memuakkan sebelum akhirnya redup, menyisakan pencahayaan remang berwarna kekuningan yang membuat bayangan rak-rak makanan ringan tampak seperti jemari panjang yang berusaha menggapai kakiku. Jam dinding di atas pintu ma**k menunjukkan pukul 03.14 dini hari. Jam mati. Jam di mana batas antara kewarasan dan keg***an menipis hingga sekecil benang jahit.
Aku menyeka keringat dingin di dahi dengan punggung tangan yang gemetar. Bau ozon dan melati busuk merayap ma**k melalui celah ventilasi, pertanda bahwa pelanggan berikutnya bukanlah sesuatu yang berasal dari dunia yang kukenal.
Pintu kaca otomatis terbuka dengan suara desis hidrolik yang berat. Udara dingin yang membawa aroma tanah kuburan menyeruak ma**k. Sosok itu melangkah ma**kβatau lebih tepatnya, melayang sedikit di atas lant**. Ia mengenakan jubah abu-abu panjang yang tampak terbuat dari rajutan kabut. Wajahnya tidak ada; hanya ada kekosongan gelap di balik tudung kepalanya, dengan dua titik cahaya biru redup yang berfungsi sebagai mata.
"Satu botol *Air Mata Penyesalan*," suaranya terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu tua. "Dan sebungkus *Dupa Pemuja Ego*."
Aku menelan ludah, berusaha menjaga wajahku tetap datar sesuai instruksi di halaman sembilan *Manual Keselamatan Kasir*: *Jangan pernah menunjukkan ketakutan, karena mereka bisa menciumnya seperti hiu mencium darah.*
"Tentu," jawabku pendek, suaraku sedikit serak. Aku berbalik, mengambil botol kecil berwarna biru tua yang tersimpan di rak khusus di belakang kasir dan sebungkus dupa hitam dari laci bawah. "Totalnya dua unit esensi tingkat menengah."
Sosok itu tidak segera merespons. Ia merogoh sesuatu dari balik jubahnya yang menjunt**. Alih-alih mengeluarkan koin perak atau potongan kuku manusia yang biasa digunakan sebagai mata uang di sini, ia meletakkan sebuah bola kaca kecil yang berpendar lembut di atas meja konter.
Bola itu tidak bercahaya biru atau hijau seperti biasanya. Warnanya kuning keemasan, hangat, dan sangat familiar.
Sesuai prosedur, aku harus memindai "mata uang" tersebut dengan sensor di samping mesin kasir untuk memverifikasi nilainya. Begitu jariku menyentuh permukaan kaca bola itu, kepalaku seakan dihantam palu godam. Dunia di sekitarku lenyap.
*Aku berada di dapur rumah kami yang sempit. Bau tumisan kangkung dan terasi menyeruak. Ibuku berdiri di depan kompor, rambutnya dikuncir kuda dengan beberapa helai yang lepas. Ayah ada di sana, duduk di meja makan, tertawa sambil menggoda Ibu tentang rasa masakan yang terlalu asin. Itu adalah hari ulang tahunku yang kesepuluh. Ibu membalikkan badan, tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kasih sayang. Ia memelukku, dan aku bisa merasakan detak jantungnya yang menenangkan.*
"Tidak..." bisikku, menarik tanganku dengan sentakan kasar. Napasku memburu. Air mata mendadak menggenang di pelupuk mataku.
Itu bukan sekadar memori acak. Itu adalah ingatan paling berharga milik Ibuku. Ingatan tentang hari terakhir keluarga kami utuh sebelum kecelakaan itu merenggut Ayah. Ingatan yang menjadi kekuatannya untuk bertahan hidup selama dua belas tahun terakhir ini.
"Verifikasi segera," desis pelanggan itu. Titik biru di balik tudungnya berpijar lebih terang, menandakan ketidaksabaran.
Tanganku melayang di atas bola memori itu. Jika aku memindainya dan menekan tombol 'OK' di layar kasir, transaksi selesai. Memori itu akan menjadi milik toko, tersimpan selamanya di dalam gudang dimensi, dan Ibuku... Ibuku akan bangun besok pagi dengan lubang besar di jiwanya. Ia tidak akan lagi mengingat tawa Ayah. Ia tidak akan lagi mengingat pelukan hangat di hari ulang tahunku. Baginya, bagian hidup itu akan terhapus sepenuhnya, menyisakan kekosongan yang mungkin akan membuatnya g***.
Namun, jika aku menolaknya, aku melanggar aturan utama. *Pasal 4: Kasir dilarang menolak pembayaran yang sah tanpa alasan teknis.*
Mataku melirik ke arah lemari pendingin besar di pojok toko. Di sana, di balik pintu kaca yang berembun, aku tahu ada potongan daging yang dulunya adalah pendahulukuβkasir yang mencoba berbaik hati kepada pelanggan atau mencoba mencuri barang dagangan.
"Kenapa kau memilikinya?" tanyaku dengan suara gemetar, mencoba mengulur waktu.
"Wanita tua itu menukarnya di persimpangan jalan tadi malam," jawab sosok kabut itu datar. "Dia ingin utang-utang anaknya lunas. Dia memberikan apa yang paling berharga yang dia miliki untuk ditukar dengan keberuntungan kecil bagi putrinya. Aku hanya perantara."
Jantungku serasa berhenti berdetak. Ibu melakukannya untukku? Dia menjual satu-satunya sisa kebahagiaannya hanya agar aku bisa keluar dari lubang hutang ini?
"Cepat, Manusia," desak makhluk itu. Tekanan udara di dalam toko mendadak meningkat drastis. Botol-botol di rak mulai bergetar. "Aku merasakan keraguanmu. Keraguan adalah pelanggaran kontrak."
Aku menatap mesin kasir. Layar digitalnya berkedip merah: *MENUNGGU KONFIRMASI PEMBAYARAN.*
Pilihannya sangat sederhana namun mematikan. Ambil memori itu, selamatkan nyawaku, patuhi kontrak, dan biarkan ibuku kehilangan jiwanya secara perlahan. Atau, tolak pembayaran itu, kembalikan memori itu (entah bagaimana caranya), dan hadapi konsekuensi dari "Manajer" toko iniβsosok yang bahkan belum pernah kulihat wajahnya namun kehadirannya terasa seperti pisau di leherku setiap saat.
Tanganku gemetar hebat saat aku mendekatkannya ke tombol konfirmasi. Aku bisa melihat pantulan wajahku di layar monitor; pucat, kuyu, dan penuh rasa bersalah. Aku teringat wajah Ibu yang mulai menua, kerutan di sudut matanya saat dia tersenyum padaku setiap kali aku pulang kerja.
"Maafkan aku, Bu," bisikku lirih.
Jariku menyentuh permukaan dingin tombol konfirmasi. Namun, tepat sebelum aku menekannya, lampu di toko mendadak mati total. Kegelapan pekat yang tidak wajar menyelimuti segalanya. Dari arah gudang belakang, terdengar suara langkah kaki yang berat dan lambat. Langkah kaki sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya daripada pelanggan di depanku.
Suara itu bukan langkah kaki manusia. Itu adalah suara cakar yang menyeret di atas lant** keramik.
*Jangan pernah membiarkan toko dalam keadaan gelap saat transaksi berlangsung.* Suara peringatan dari buku manual terngiang di kepalaku.
Sosok kabut di depanku tampak membeku. Titik biru di matanya berkedip panik. "Dia datang," bisiknya dengan suara yang sekarang penuh ketakutan. "Manajer tidak suka kegelapan."
Aku merasakan hawa dingin yang luar biasa di tengkukku. Sesuatu yang sangat besar berdiri tepat di belakangku, napasnya yang berbau belerang menerpa kulit leherku. Aku tahu, jika aku menoleh sekarang, itu akan menjadi hal terakhir yang kulihat di dunia ini. Namun, bola memori di atas konter masih bersinar lemah, satu-satunya sumber cahaya yang tersisa.
Di tengah kegelapan itu, sebuah tangan besar dengan kuku-kuku hitam panjang merayap perlahan dari samping pundakku, menuju ke arah bola memori milik ibuku.
"Itu..." suara berat dan bergema memenuhi ruangan, seolah-olah ribuan orang berbisik bersamaan. "Bukan milikmu untuk diberikan, dan bukan milikmu untuk diterima, Andini."
Tanganku terhenti di udara, terpaku oleh rasa takut yang murni, saat cakar itu mulai menutup di atas ingatan terakhirku tentang kebahagiaan.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!