Jarum jam digital di atas mesin kasir berkedip gelisah. Angkanya tidak lagi menunjukkan pukul 07:15 dengan stabil, melainkan berganti-ganti antara angka romawi yang retak dan simbol-simbol kuno yang berdenyut merah. Aku menyeka keringat dingin di dahi dengan punggung tangan, meninggalkan jejak amis yang entah datang dari mana. Udara di dalam toko kini terasa setebal sirup, membuat setiap tarikan napas terasa seperti beban.
"Lama sekali, Manusia," sebuah suara parau menggeram dari balik tudung jubah yang tampak terbuat dari anyaman rambut manusia.
Aku tidak berani mendongak. Di hadapanku, di atas meja konter yang permukaannya mulai melunak seperti lilin panas, tergeletak sepotong tulang belikat yang masih segar. Itu adalah alat bayar untuk satu kaleng soda hitam tanpa label yang diambilnya dari lemari pendingin. Masalahnya, timbangan digital di samping kasir mendadak kehilangan fungsinya; angka-angkanya melonjak liar seolah-olah berat tulang itu berubah-ubah setiap detiknya.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Tuan," kataku, suaraku sedikit bergetar meski aku berusaha menutupinya dengan nada profesional yang datar. "Energi transisional sedang tidak stabil. Saya perlu menghitung ulang nilai sumsumnya secara manual."
"Cepat! Cahaya terkutuk itu akan segera datang!" makhluk itu membentak. Tangannya yang hanya terdiri dari tulang dan urat hitam menggeb**k meja.
Saat itulah, hukum fisika di dalam minimarket ini memutuskan untuk menyerah sepenuhnya.
Rak sereal di belakangku tiba-tiba memanjang, menjulang tinggi hingga menghilang ke dalam kegelapan langit-langit yang kini berubah menjadi pusaran kabut kelabu. Kotak-kotak sereal itu mulai berbisik, menyuarakan penyesalan-penyesalan orang mati. Di sudut lain, tumpukan botol air mineral meledak bersamaan, namun airnya tidak jatuh ke lant**. Cairan itu justru mengambang di udara, membentuk bola-bola bening yang berputar-putar mengikuti irama detak jantungku yang kencang.
Aku meraih buku panduan *Manual Keselamatan Kasir* yang terikat rant** di bawah meja. Jariku gemetar saat membalik halaman yang terasa kasar. *Halaman 88: Ketidakstabilan Menjelang Fajar.*
*Jika ruang dan waktu mulai melipat, jangan lepaskan kontak mata dengan pelanggan, atau kau akan ikut terlipat ke dalam dimensi mereka.*
Sial. Aku terpaksa mendongak.
Wajah di balik tudung itu tidak memiliki mata. Hanya ada dua lubang hitam pekat yang mengeluarkan asap dingin. Aku bisa merasakan jiwaku seolah tersedot ke dalam kekosongan itu, memanggil memori-memori lama yang ingin kulupakan. Aku melihat bayangan Ayah, berdiri di ambang pintu rumah kami yang lama, melambaikan tangan sebelum kecelakaan itu terjadi.
"Dua puluh gram memori tentang rasa penyesalan," ucapku cepat, berusaha memutus halusinasi itu. "Itu harga kembalian untuk tulang ini. Apakah Anda bersedia?"
Makhluk itu mendengus, bau busuk dari mulutnya menusuk hidungku. "Ambil saja. Aku tidak butuh rasa sesal di tempat asalku."
Aku mengambil botol kecil kosong dari bawah laci dan mengarahkannya ke pelipisku sendiri. Dengan konsentrasi penuh, aku membayangkan saat-saat aku menolak ajakan Ayah untuk makan malam di hari terakhirnya. Rasa sesak yang familier di dada seolah ditarik keluar melalui pori-pori kulitku. Sebuah cahaya biru pucat mengalir ma**k ke dalam botol.
Tepat saat aku menyumbat botol itu, lampu neon di atas kepalaku meledak dengan suara m****akkan telinga. Kegelapan total menyergap selama beberapa detik sebelum lampu darurat yang berwarna merah darah menyala.
Toko ini bukan lagi minimarket yang kukenal. Dinding-dindingnya sekarang berdenyut seperti dinding lambung raksasa. Lant** ubin yang kupijak terasa lembek dan hangat. Pelanggan di depanku kini tampak lebih agresif; jubahnya berkibar meski tidak ada angin, dan ia mulai merayap melewati konter kasir, mencoba mendekat ke arahku.
"Belum selesai..." desisnya. "Aku mencium bau ketakutan yang lebih lezat. Berikan aku itu sebagai tambahan."
"Transaksi sudah selesai, Tuan," kataku sambil menggeser botol memori itu ke arahnya dengan tangan gemetar. "Silakan pergi sebelum gerbang tertutup."
"Aku tidak mau pergi sendirian," ia mencengkeram pergelangan tanganku. Cengkeramannya sedingin es, namun membakar kulitku seperti asam.
Aku meringis kesakitan. Di sudut mataku, aku melihat jam dinding fisik di belakang kasir. Jarum detiknya bergerak mundur. Ini pertanda buruk. Jika jam itu mencapai angka dua belas dalam putaran terbalik sebelum pukul delapan pagi yang sebenarnya, aku akan terjebak di sini selamanya, menjadi bagian dari interior toko yang terkutuk ini.
"Lepaskan," perintahku, mencoba meniru ketegasan manajer shift malam yang misterius itu.
Namun, pelanggan itu justru tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan amplas pada peti mati. Di sekelilingku, barang-barang mulai beterbangan. Kaleng-kaleng sarden terbuka sendiri, isinya merayap keluar seperti lintah perak di dinding yang berdenyut.
Tiba-tiba, suara bel pintu berdenting. *Ting!*
Suara itu seharusnya tidak mungkin terdengar. Tidak ada yang bisa ma**k atau keluar saat fase transisi seburuk ini. Namun, pintu kaca di depanβyang kini tertutup lapisan lendir hitamβterbuka perlahan.
Seorang pria berdiri di sana. Ia mengenakan seragam yang persis denganku, tapi seragam itu compang-camping dan berlumuran darah kering. Wajahnya pucat pasi, namun matanya yang cekung menatapku dengan penuh peringatan.
"Andini," bisik pria itu, suaranya bergema di dalam kepalaku. "Jangan lihat ke bawah. Apapun yang terjadi, jangan lihat ke bawah."
Refleks, otot leherku menegang. Keinginan untuk melihat ke bawah sangat kuat, seolah-olah ada magnet yang menarik daguku ke dada. Rasa penasaran yang mematikan mulai merayap. Apa yang ada di bawah sana? Mengapa lant** ini terasa begitu bergetar?
Pelanggan yang mencengkeram tanganku tiba-tiba menjerit ketakutan dan mundur, seolah-olah ia melihat sesuatu yang jauh lebih mengerikan di belakangku daripada dirinya sendiri.
Aku memejamkan mata rapat-rapat, menggenggam pinggiran meja kasir yang kini terasa seperti daging mentah yang basah. Jantungku berpacu begitu cepat hingga rasanya akan meledak. Harum bau melati yang tajam menyengat hidungku, bercampur dengan bau kabel terbakar.
"Tolong..." sebuah suara lain memanggil dari arah lemari pendingin di belakang. Suara yang kukenal baik. Suara Ayah. "Andini, tolong Ayah. Dingin sekali di sini..."
Napas menyentak keluar dari paru-paruku. Itu tidak mungkin. Ayah sudah meninggal. Tapi suara itu begitu nyata, begitu penuh penderitaan.
Tanganku mulai melepaskan pinggiran meja, bergerak secara otomatis menuju asal suara itu. Satu aturan utama yang selalu kuingat dari buku panduan itu tiba-tiba melintas di pikiranku: *Jangan pernah menjawab pangg***n dari masa lalu saat shift hampir berakhir.*
Namun, saat aku merasakan sesuatu yang basah dan dingin mulai melilit pergelangan kakiku, konsentrasiku hancur. Aku melanggar peringatan pria di depan pintu tadi. Aku menunduk.
Dan apa yang kulihat di bawah sana membuat jeritanku tertahan di tenggorokan. Lant** toko itu telah menghilang sepenuhnya, digantikan oleh lautan tangan-tangan pucat yang melambai-lambai dari kegelapan tak berdasar, dan salah satu tangan itu mengenakan jam tangan retak yang sangat kukenal. Jam tangan milik Ayah.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!