Jarum jam dinding di atas pintu ma**k berderit, suaranya seperti tulang kering yang dipatahkan satu per satu. Pukul 07.45. Lima belas menit lagi menuju akhir shift yang terasa seperti satu milenium. Namun, udara di dalam minimarket tidak kunjung membaik. Aroma pembersih lant** yang tajam kini bercampur dengan bau anyir yang kental, seolah dinding-dinding toko baru saja mengeluarkan keringat darah.
Aku mencengkeram pinggiran meja kasir hingga buku jariku memutih. Mataku perih, disengat kelelahan dan ketakutan yang belum juga reda sejak pelanggan terakhir—seorang wanita tanpa wajah yang membayar dengan sebotol air mata—pergi sepuluh menit lalu.
“Prosedur penutupan, Andini. Jangan sampai ada yang tertinggal,” suara itu muncul dari arah lorong pendingin.
Aku tersentak. Pak Surya, sang Manajer, berdiri di sana. Dia tidak pernah muncul di akhir shift. Biasanya, dia hanya berupa instruksi tertulis di memo atau suara parau dari interkom. Pagi ini, sosoknya tampak lebih tinggi dari biasanya, bayangannya memanjang di lant** putih yang kusam, tidak sinkron dengan arah lampu neon di langit-langit.
“Saya sudah menghitung sisa stok daging di belakang, Pak. Semuanya sesuai manual,” jawabku, berusaha menjaga suaraku agar tidak bergetar. Aku tahu aturannya: jangan tunjukkan kelemahan pada manajemen.
Pak Surya melangkah mendekat. Setiap langkahnya tidak mengeluarkan suara, seolah kakinya tidak benar-benar menyentuh lant**. Ia berhenti tepat di depan meja kasir, meletakkan sebuah map kulit berwarna hitam legam yang permukaannya terasa berdenyut, seolah ada jantung yang berdetak di dalamnya.
“Kau kasir terbaik yang pernah kami miliki dalam sepuluh tahun terakhir, Andini,” ucapnya. Bibirnya tersenyum, tapi matanya—yang hanya berupa lubang hitam tanpa pupil—tetap dingin. “Pendahulumu? Dia berakhir di dalam kaleng kornet karena salah menghitung kembalian memori. Tapi kau... kau punya ketelitian yang langka.”
“Terima kasih, Pak. Sekarang, jika Bapak tidak keberatan, saya ingin menyelesaikan laporan dan pulang.”
Pak Surya tertawa, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan amplas pada kayu busuk. Ia membuka map itu. Di dalamnya terdapat selembar perkamen yang terbuat dari material yang menyerupai kulit manusia, transparan dan tipis. Tulisan di atasnya berwarna merah pekat, bergerak-gerak seperti cacing yang gelisah.
“Kontrakmu habis hari ini, bukan? Hutang ayahmu sudah lunas,” Pak Surya menyodorkan sebuah pena bulu berwarna hitam. “Tapi dunia di luar sana sangat keras. Di sini, kau aman. Kau punya kuasa. Tandatangani perpanjangan shift ini. Shift abadi. Kau tidak perlu khawatir akan dilupakan, karena toko ini akan mengingatmu selamanya.”
Jantungku berdegup kencang, menghantam rongga dadaku. *Dilupakan.* Kata itu menghantam titik terlemahku. Bayangan wajah ayahku yang memudar di ingatanku mulai muncul. Jika aku pergi dari sini, apakah aku akan kembali menjadi orang biasa yang dikejar-kejar penagih hutang? Ataukah aku akan lenyap karena aku sudah terlalu lama berinteraksi dengan dimensi ini?
“Saya ingin pulang,” bisikku, tanganku merayap menuju laci di bawah kasir, mencari Manual Keselamatan yang selalu kusimpan di sana.
“Pulang ke mana? Ke rumah yang sepi? Ke dunia yang tidak mempedulikanmu?” Pak Surya mencondongkan tubuhnya melintasi meja. Bau tanah makam yang basah menyeruak dari setelannya. “Tandatangani, Andini. Ini bukan permintaan. Ini adalah prosedur penutupan yang sesungguhnya.”
Tiba-tiba, lampu neon di atas kami meledak. Kegelapan menyergap, hanya disinari oleh cahaya kemerahan dari teks di atas perkamen itu. Aku merasakan hawa dingin yang menusuk tulang melilit pergelangan tanganku, memaksanya untuk meraih pena bulu itu.
“Tidak,” geramku. Jari-jariku berhasil menyentuh sampul keras Manual Keselamatan. Aku mengingat Bab 20: *Prosedur Menghadapi Tawaran yang Tak Bisa Ditolak.*
*Poin 4: Jika pihak Manajemen memaksamu menandatangani kontrak baru sebelum matahari menyentuh lant** toko, gunakan simbol yang tak bisa mereka klaim.*
“Tandatangani!” Suara Pak Surya berubah menjadi geraman monster. Wajahnya mulai retak, memperlihatkan gumpalan daging hitam di baliknya. Ruangan di sekitarku mulai melengkung. Rak-rak makanan ringan berubah menjadi barisan nisan, dan lant** berubah menjadi lumpur hisap yang dingin.
Tanganku dipaksa menggenggam pena itu. Ujung pena yang tajam menusuk ujung jariku, menyedot setetes darah sebagai tinta. Pak Surya memegang punggung tanganku, kekuatannya seperti jepitan besi. Pena itu mulai bergerak menuju garis tanda tangan.
Aku memejamkan mata, membayangkan wajah ayahku. Bukan rasa bersalahnya, tapi senyumnya saat terakhir kali kami memancing bersama. Aku tidak boleh membiarkan tempat ini mengambil sisa-sisa kemanusiaanku.
Dengan sentakan tenaga terakhir yang entah datang dari mana, aku tidak mengarahkan pena itu ke garis tanda tangan. Alih-alih, aku menusukkan pena itu ke telapak tanganku sendiri, lalu menghantamkan telapak tangan yang berdarah itu tepat ke atas halaman Manual Keselamatan yang terbuka pada halaman kosong khusus 'Catatan Keluhan Pelanggan'.
“Saya... mengajukan... keluhan!” teriakku.
Guncangan hebat melanda toko. Suara jeritan melengking terdengar dari dinding-dinding minimarket. Pak Surya terlempar ke belakang, tubuhnya berasap seolah terkena asam.
“Kau tidak bisa melakukan itu!” raungnya. “Kau masih dalam shift-mu!”
Aku melihat ke arah pintu kaca depan. Semburat cahaya oranye mulai muncul di ufuk timur, menembus debu dan kabut dimensi ini. Cahaya matahari itu merayap perlahan di atas lant** ubin yang kusam.
“Shift-ku selesai dalam sepuluh detik, Pak Surya,” kataku dengan napas tersengal-sengal. Darah dari telapak tanganku mulai bersinar keemasan, bereaksi dengan aturan kuno yang tertulis di manual tersebut.
Lant** toko mulai bergetar lebih hebat. Rak-rak bergoyang, menjatuhkan barang-barang yang kini berubah kembali menjadi potongan tubuh dan botol-botol memori. Pak Surya merangkak maju, wajahnya yang hancur menunjukkan kemarahan yang tak terlukiskan. Kuku-kukunya yang panjang mencakar lant**, meninggalkan jejak hitam.
“Kau tidak akan pernah keluar dari sini hidup-hidup!”
Jarum jam bergerak satu detak terakhir. *Teng.*
Tepat saat itu, sinar matahari pertama menyentuh garis pintu ma**k. Namun, alih-alih pintu itu terbuka, sebuah rant** besar tiba-tiba muncul dari udara hampa, membelit pegangan pintu dan menguncinya dari luar. Sesuatu yang lebih besar dari Pak Surya sedang berdiri di balik kaca toko yang gelap, menatapku dengan ribuan mata yang berkedip serentak.
Pintu itu tidak terbuka. Dan Pak Surya, sambil berdiri perlahan dengan senyum yang mengerikan, berbisik, "Kau lupa satu aturan, Andini. Matahari tidak pernah benar-benar terbit di Antah Berantah."
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!