Lant** ubin putih yang biasanya dingin kini terasa seolah membeku, menusuk telapak kakiku bahkan menembus sol sepatu kerja yang sudah menipis. Di depanku, berdiri sesuatu yang tidak memiliki wajah—hanya sekumpulan asap hitam pekat yang mengenakan jubah compang-camping, memegang sebuah timbangan karatan yang terus berderit.
"Waktu adalah mata uang yang paling jujur, Kasir," suara makhluk itu terdengar seperti gesekan amplas pada tulang. "Kontrak ayahmu tidak hanya menuntut nyawa, tapi juga kelanjutan eksistensi. Kau gagal mengumpulkan c**up memori pelanggan malam ini untuk menutupi bunganya. Sekarang, kau yang menjadi agunannya."
Tanganku gemetar saat meraba pinggiran meja kasir yang berminyak. Di bawah sana, tergeletak Buku Panduan Keselamatan yang sampul kulitnya sudah mulai mengelupas. Aku tahu konsekuensinya. Jika aku tidak bisa membayar "bunga" itu sekarang, Pak Broto—manajer toko yang entah ada di dimensi mana—akan menyeret tubuhku ke lemari pendingin belakang. Aku akan berakhir dalam kemasan plastik vakum dengan label harga di keningku.
Pikiranku berpacu. Aku melirik jam dinding. Pukul 03:14. Masih ada lima jam sebelum shift berakhir. Aku tidak punya c**up memori pelanggan di laci kasir; malam ini sepi, hanya ada beberapa arwah penasaran yang hanya mampu membayar dengan kepingan penyesalan kecil yang tak berharga.
Dengan gerakan patah-patah, aku membuka Buku Panduan itu ke halaman 112, bagian yang selama ini aku tandai dengan lipatan kecil. Mataku menyisir baris demi baris teks yang ditulis dengan tinta darah yang masih tampak basah.
*Pasal 4, Ayat 9: Prosedur Tabula Rasa.*
"Tunggu," suaraku serak, hampir pecah. Aku menatap entitas di depanku yang mulai menjulurkan jemari panjangnya yang sewarna abu-abu ke arah leherku. "Buku panduan ini menyatakan bahwa seorang karyawan dapat melakukan likuidasi aset pribadi secara total untuk menutup defisit operasional seketika."
Entitas itu berhenti. Timbangannya berhenti berderit. "Kau bicara tentang memori pribadimu sendiri? Itu hanya akan memperlambat kematianmu beberapa menit, Andini. Kau butuh jumlah yang besar."
"Bukan sebagian," kataku, jantungku berdentum keras hingga telingaku berdenging. "Seluruhnya. Aku menawarkan seluruh sisa memoriku tentang dunia luar. Segala sesuatu yang menjadikanku 'Andini' di luar toko ini."
Jika aku tidak memiliki kenangan tentang dunia luar, maka toko ini tidak bisa lagi menagih utang "kehidupan" padaku. Secara teknis, aku akan menjadi anomali hukum—entitas yang hanya eksis di dalam toko, tanpa jangkar di dunia nyata. Toko tidak bisa mengambil nyawa yang tidak memiliki asal-usul. Itu adalah celah hukum yang paling berbahaya sekaligus paling menyedihkan.
"Kau tahu apa artinya itu?" makhluk itu condong ke depan, hawa busuk kematian menerpa wajahku. "Kau tidak akan ingat mengapa kau ada di sini. Kau tidak akan ingat ayahmu, ibumu, atau alasan kau mengorbankan dirimu sendiri. Kau akan menjadi hantu yang bernapas, terjebak di antara rak-rak mi instan dan bau pembersih lant** selamanya."
"Lakukan saja," bisikku. Air mata mulai menggenang, tapi aku memaksanya tetap di sana.
Aku menutup mataku rapat-rapat. Makhluk itu meletakkan tangannya yang dingin di atas kepalaku. Seketika, rasa sakit yang luar biasa menghantam, seolah-olah ada vacuum cleaner raksasa yang menyedot isi kepalaku.
Kilasan pertama yang ditarik adalah wajah ibuku. Aku melihatnya sedang mengaduk sayur lodeh di dapur kecil kami. Senyumnya... lalu *wuush*, wajahnya berubah menjadi kabur, lalu hilang menjadi abu hitam. Aku mencoba menjerit, tapi suaraku tertahan.
Lalu, memori tentang ayah. Malam terakhir sebelum ia meninggal. Aroma rokok kreteknya, tawa beratnya saat kami menonton televisi bersama. Aku berusaha mencengkeram bayangan itu, ingin menyimpannya sedetik lebih lama. Tapi hukum toko ini tidak mengenal belas kasihan. Bayangan ayah ditarik paksa, tercerabut dari akarnya, meninggalkan lubang menganga yang hampa di benakku.
Satu per satu, potongan hidupku terbang. Rasa es krim cokelat di hari ulang tahunku yang kesepuluh. Dinginnya air hujan saat aku pulang sekolah SMA. Rasa malu saat pertama kali menyatakan cinta pada seorang laki-laki yang namanya kini sudah lenyap. Alamat rumahku, nomor teleponku, warna cat kamarku—semuanya disedot keluar, dilemparkan ke dalam timbangan karatan sang penagih utang.
Duniaku runtuh menjadi kegelapan yang steril.
Aku tersungkur ke lant**, napas tersengal-sengal. Lant** ubin ini... kenapa begitu dingin? Aku menengadah. Makhluk berjubah itu masih di sana, tapi timbangannya kini sudah seimbang. Ia tampak lebih padat, lebih puas.
"Lunas untuk malam ini," suaranya terdengar jauh, seperti gema di dalam gua. "Selamat bekerja, Kasir Tanpa Nama."
Ia perlahan memudar, menyatu dengan bayang-bayang di pojok rak minuman dingin. Aku bangkit berdiri dengan kaki gemetar, memegang pinggiran meja kasir untuk menjaga keseimbangan.
Aku melihat ke arah laci kasir. Ada beberapa keping koin memori yang berpendar redup di sana. Aku melihat ke tanganku sendiri. Ada bekas luka kecil di ibu jari, tapi aku tidak tahu dari mana asalnya. Aku melihat ke sekeliling toko. Rak-rak yang penuh dengan barang-barang yang tidak ma**k akal—minyak goreng dari lemak peri, kaleng sarden berisi jari-jari manusia, botol soda yang berisi tangisan bayi.
Siapa aku?
Aku melihat ke arah name tag yang tersemat di seragam biru gelapku. *ANDINI*. Nama itu terasa asing di lidahku, seperti kata dari bahasa mati yang tidak lagi memiliki makna. Aku tahu aku adalah seorang kasir. Aku tahu aku harus mematuhi buku panduan. Tapi selain itu... aku kosong.
Pintu toko berdenting. Bunyi lonceng yang kecil dan ceria, namun terasa ironis di tengah keheningan yang mencekam ini.
Seorang pelanggan baru melangkah ma**k. Ia tampak seperti manusia biasa, mengenakan jaket hoodie hitam dan wajah yang kuyu karena kelelahan. Namun, saat ia mendekat, aku menyadari bahwa ia tidak memiliki bayangan di bawah lampu neon yang berkedip.
Ia menaruh sebuah benda di atas meja kasir—sebuah foto tua yang sudah lecek. Foto seorang pria tua yang tersenyum di depan sebuah rumah sederhana.
"Aku ingin menukarnya dengan kesempatan untuk pulang," kata pelanggan itu dengan suara bergetar.
Aku menatap foto itu. Pria di foto itu... entah kenapa, ada sesuatu yang berdenyut di dadaku. Sebuah rasa sakit yang tidak punya nama. Sebuah sisa-sisa emosi yang tidak ikut tersedot, seperti gema di ruangan kosong.
Aku membuka Buku Panduan Keselamatan, tanganku bergerak secara mekanis ke halaman tentang penukaran memori pihak ketiga. Tapi, saat aku hendak memproses transaksi itu, mataku menangkap sebuah tulisan tangan kecil di margin bawah halaman, tulisan yang terasa sangat kukenal meskipun aku tidak ingat pernah menulisnya.
*Andini, jika kau membaca ini dan tidak ingat siapa dirimu... jangan pernah sentuh foto itu. Itu adalah jebakan terakhir Pak Broto.*
Aku terpaku. Pelanggan di depanku mulai mencondongkan tubuhnya, matanya yang gelap menatapku dengan intensitas yang mengerikan.
"Kenapa diam, Kasir? Cepat proses transaksinya. Aku ingin pulang."
Tanganku mulai berkeringat. Jika aku mengikuti aturan di buku, aku harus memprosesnya. Tapi jika aku mengikuti pesan di margin itu...
Di belakang toko, dari arah lemari pendingin, terdengar suara cakaran di pintu besi. Sesuatu yang lapar sedang berusaha keluar, dan aku baru saja menyadari bahwa meskipun aku telah menyerahkan memoriku, toko ini belum selesai memangsaku.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!