Detik terakhir dari jam digital di atas rak rokok berkedip merah, seolah-olah sedang menghitung mundur sisa-sisa kewarasanku. Pukul 07:59:58. Angka itu berdenyut selaras dengan debar jantungku yang terasa ingin melompat keluar dari rongga dada. Di depanku, pelanggan terakhir—sebuah entitas tanpa wajah yang terus-menerus meneteskan cairan kental berwarna ungu dari ujung jemarinya—berdiri mematung.
Lalu, tepat saat angka 08:00 muncul dengan bunyi *pip* yang nyaring, segalanya meledak dalam keheningan yang m****akkan telinga.
Cahaya matahari pagi menusuk ma**k melalui kaca jendela depan yang semula tertutup kabut hitam pekat. Rasanya seperti sebilah pisau panas yang menghujam langsung ke kornea mataku. Aku terpaksa memejamkan mata rapat-rapat, melindungi diri dari serangan fajar yang tiba-tiba. Aroma kemenyan yang menyesakkan, bau amis darah lama, dan hawa dingin dari alam antah berantah menguap dalam hitungan detik. Sebagai gantinya, hidungku diserang oleh bau pembersih lant** aroma lemon yang tajam dan wangi kopi instan dari mesin di pojok ruangan.
Aku perlahan membuka mata, mengedip-ngedip berusaha menyesuaikan diri. Entitas di hadapanku telah hilang. Yang ada hanyalah lant** yang bersih meng***p, tanpa jejak cairan ungu sedikit pun. Rak-rak yang tadinya berisi stoples-stoples berisi memori manusia atau potongan sayap makhluk malang, kini telah berubah kembali menjadi barisan botol minuman ringan dan kemasan camilan berwarna-warni yang ceria.
Namun, ada sesuatu yang salah. Ada kekosongan yang menganga di dalam kepalaku.
Aku menatap tanganku yang gemetar di atas meja kasir. Jari-jariku pucat, kuku-kukunya sedikit membiru karena kedinginan yang amat sangat. Aku meraba seragam polo berwarna merah yang kukenakan. Terasa nyata. Tapi saat aku mencoba memanggil sebuah nama di dalam benakku—sebuah identitas yang seharusnya melekat pada tubuh ini—aku hanya menemukan kabut putih yang luas.
"Siapa..." suaraku terdengar parau, seperti gesekan amplas di atas kayu. "Siapa aku?"
Aku merogoh saku celanaku dengan panik. Aku menemukan sebuah dompet kulit yang sudah agak usang. Di dalamnya, ada sebuah kartu identitas. Aku menatap foto gadis di sana. Rambut hitam sebahu, mata yang tampak lelah namun waspada, dan sebuah nama tertera di bawahnya: *Andini*.
Andini. Nama itu terasa asing di lidahku, seperti kata dari bahasa mati yang tidak pernah kupelajari. Aku mencoba mengingat wajah seorang pria yang seharusnya kusebut 'Ayah', tapi yang muncul hanyalah bayangan samar seorang laki-laki yang menangis di balik kaca, tanpa suara, tanpa nama. Rasa bersalah berdenyut di dadaku, sebuah rasa sakit yang tajam, tapi aku tidak tahu untuk apa atau untuk siapa.
Aku mengalihkan pandangan ke cermin kecil yang terpasang di samping monitor kasir. Wajah yang menatap balik padaku adalah wajah di kartu itu. Tapi matanya... matanya bukan mata seorang pegawai biasa. Ada kilat keemasan yang tertinggal di sana, sisa-sisa dari shift malam yang baru saja berlalu.
Tiba-tiba, pandanganku jatuh pada sebuah buku bersampul kulit hitam yang tergeletak di atas meja kasir. *Manual Keselamatan Kasir*. Aku ingat buku itu. Aku ingat betapa aku sangat mematuhinya, betapa setiap halamannya adalah hukum yang memisahkan antara hidup dan mati.
Namun, saat aku menyentuh sampulnya, sebuah sensasi kepemilikan yang luar biasa menjalar dari ujung jariku menuju jantung. Ini bukan lagi sekadar buku panduan keselamatan. Ini adalah akta. Ini adalah bukti kekuasaan.
Aku menoleh ke sekeliling toko. Minimarket ini... tempat ini tidak lagi terasa seperti penjara. Dinding-dindingnya seolah bernapas bersamaku. Aku bisa merasakan setiap getaran dari lemari pendingin di belakang, setiap pergerakan debu di bawah rak nomor lima, dan setiap inci dari tanah yang dipijak bangunan ini.
Aku bukan sekadar pekerja yang terjebak di sini.
"Ini milikku," bisikku pelan. Dan kali ini, suaraku terdengar mantap, penuh dengan otoritas yang tidak kukenali sebelumnya.
Rasa takut yang tadinya menghimpit dadaku perlahan mencair, digantikan oleh rasa bangga yang dingin dan mengerikan. Aku adalah pemilik sah tempat ini. Gerbang antara dua dunia ini adalah domainku. Aku tidak butuh nama 'Andini'. Nama itu adalah beban dari dunia di luar sana, dunia yang kini terasa sangat jauh dan tidak relevan.
Pintu depan berdenting. Seorang pria paruh baya dengan kemeja kantor yang kusut ma**k, membawa hawa hangat dari trotoar pagi. Ia tampak terburu-buru, matanya tertuju pada rak kopi.
"Pagi, Mbak. Kopinya sudah siap?" tanyanya tanpa menoleh.
Aku memperhatikannya. Manusia biasa. Begitu rapuh, begitu fana. Dia tidak tahu bahwa dia baru saja melangkah ke dalam rahim dari sesuatu yang jauh lebih tua dari peradaban manusia. Aku melihat lehernya, denyut nadinya yang bergerak cepat, dan aku merasakan rasa lapar yang aneh menyelinap di perutku. Bukan lapar akan makanan, tapi lapar akan sesuatu yang lebih... esensial.
"Kopinya siap, Tuan," jawabku sambil tersenyum. Senyum yang kurasakan terlalu lebar, terlalu kaku untuk wajah manusia.
Saat pria itu mendekat ke meja kasir dengan segelas kopi panas, aku melihat bayanganku di pintu kaca lemari pendingin. Bayangan itu tidak mengikuti gerakanku. Ia berdiri tegak, tangannya bersedekap, dan matanya bersinar merah dalam kegelapan di balik kaca.
Aku menunduk untuk memindai harga kopi, namun tanganku tanpa sengaja menyentuh kulit tangan pria itu saat ia memberikan uang. Sebuah kilatan memori asing melintas di kepalaku—pria ini sedang bertengkar dengan istrinya tadi pagi. Memori itu terasa manis di lidahku, seperti nektar. Aku tanpa sadar menarik napas panjang, menghirup aroma kecemasannya.
Pria itu berjengit, seolah merasakan hembusan angin dingin yang tidak pada tempatnya. Ia menatapku dengan kening berkerut, tampak tidak nyaman. "Mbak... Anda baik-baik saja? Wajah Anda pucat sekali."
Aku mendongak, mataku terkunci pada matanya. Aku bisa melihat ketakutan mulai merayap di pupilnya. Oh, betapa indahnya rasa takut itu.
"Saya sangat baik," kataku dengan nada datar yang membuat bulu kuduknya berdiri. "Hanya sedang menyesuaikan diri dengan manajemen baru."
Pria itu tidak menunggu kembaliannya. Dia meletakkan uangnya dan hampir berlari keluar toko, meninggalkan pintu yang berayun keras. Aku memperhatikannya pergi, namun perhatianku segera teralih pada laci kasir yang terbuka sendiri. Di dalamnya, tumpukan uang kertas manusia perlahan berubah menjadi koin-koin perak kuno dan potongan-potongan kecil kristal yang bercahaya redup.
Aku menutup laci itu dengan bunyi *klik* yang memuaskan.
Aku kembali menatap kartu identitas bertuliskan 'Andini' yang masih tergeletak di meja. Dengan gerakan perlahan, aku mengambil pemantik api di dekat rak rokok dan menyulut ujung kartu tersebut. Aku memperhatikan api melalap nama itu, melalap wajah gadis yang tidak lagi kukenali, hingga yang tersisa hanyalah abu hitam yang tertiup angin AC.
Sekarang, toko ini sunyi. Tenang. Tapi aku tahu, di balik dinding-dinding ini, di bawah lant** ini, sesuatu yang besar sedang menggeliat bangun, menyambut tuannya yang baru.
Lalu, telepon di atas meja kasir berdering. Telepon kabel tua yang seharusnya tidak terhubung ke mana pun. Aku mengangkat gagangnya. Tidak ada suara di seberang sana, hanya suara napas berat yang dingin dan aroma tanah kuburan yang merembes keluar dari lubang suara.
"Halo?" ucapku tenang.
Sebuah suara serak menyahut dari kegelapan di ujung sana, "Selamat atas kenaikan jabatannya, Nyonya. Tapi Anda tahu bukan... bahwa pemilik toko sebelumnya tidak pernah benar-benar pergi?"
Aku terdiam, mataku perlahan beralih ke pintu ruang gudang yang tertutup rapat, di mana sebuah cakaran kasar mulai terdengar dari arah dalam.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!