Shift Malam di Gerbang Antah Berantah: Manual Keselamatan Kasir

Bab 2: Bab 2 - Menghadapi jam tengah malam pertama dan transfo...

Pengaturan Membaca

Detik jam dinding di atas lemari pendingin minuman bersoda terdengar seperti dentum palu hakim di telingaku. *Tik. Tik. Tik.* Setiap detiknya seolah memangkas sisa kewarasanku. Aku melirik jam tangan digital murah yang melingkar di pergelangan tanganku: 23:58. Dua menit lagi menuju transformasi yang dijanjikan oleh Pak Baskoro, manajer toko bermata juling yang merekrutku kemarin sore.

Aku mengeratkan peganganku pada buku panduan bersampul kulit kusam yang tergeletak di atas meja kasir. "Manual Keselamatan Kasir," judulnya tertulis dalam huruf emas yang sudah memudar. Di dalamnya, instruksi nomor satu tertulis dengan tinta merah tebal: *Tepat pukul 00:00, jangan melihat ke luar jendela kaca depan. Apa pun yang kau dengar, tetaplah menunduk pada mesin kasir hingga bel pintu berbunyi.*

23:59.

Suasana minimarket yang semula riuh dengan dengung mesin pendingin mendadak senyap. Udara di sekitarku mendingin secara drastis, hingga napas yang keluar dari mulutku membentuk kabut tipis. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip tidak stabil, menciptakan bayangan panjang yang tampak seolah-olah memiliki nyawanya sendiri di antara lorong-lorong rak makanan ringan.

Tepat saat angka di jam tanganku berganti menjadi 00:00, sebuah suara dentuman berat menghantam kaca depan toko. *B**k!* Jantungku melonjak ke tenggorokan. Rasanya seperti ada sesuatu yang sangat besar mencoba merangsek ma**k, atau mungkin sesuatu yang sangat putus asa ingin keluar. Aku segera menundukkan kepala, menatap layar mesin kasir yang kini memancarkan cahaya biru pucat yang asing.

Di luar, suara bising kota Jakartaβ€”deru motor knalpot brong atau gonggongan an**** liarβ€”lenyap total. Digantikan oleh suara embusan angin yang melengking panjang, seperti ribuan suara manusia yang sedang berbisik serempak namun tak terbaca. Bau ozon dan anyir besi berkarat mulai merayapi indra penciumanku. Aku bisa merasakan lant** di bawah kakiku sedikit bergetar, seolah seluruh bangunan minimarket ini sedang dicabut dari fondasinya dan dipindahkan ke tempat yang tidak seharusnya ada di peta.

*Tring!*

Bunyi bel pintu di atas pintu ma**k terdengar. Itu bukan bunyi bel elektronik "Selamat Datang" yang biasa. Itu adalah bunyi lonceng perunggu tua yang berat dan bergema di dalam dada.

"Ingat aturan nomor dua," bisikku pada diri sendiri, suaraku gemetar. "Sapa pelanggan dengan sopan, tapi jangan pernah menatap matanya lebih dari tiga detik."

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadaku, lalu perlahan mengangkat kepala. Pandanganku pertama kali jatuh ke arah pintu. Pemandangan di balik kaca besar itu bukan lagi jalan raya berlubang dan tiang listrik yang miring. Di sana hanya ada kegelapan pekat yang seolah menghisap cahaya, dengan kabut abu-abu yang bergulung-gulung lambat.

Lalu, pelanggan itu ma**k.

Langkahnya berat dan terseret, menciptakan bunyi gesekan yang membuat gigiku ngilu. Dia mengenakan setelan jas hitam yang sudah sangat usang, penuh dengan noda tanah merah yang masih basah. Namun, bukan pakaiannya yang membuat tanganku gemetar hebat di bawah meja kasir.

Sosok itu memiliki tubuh yang mustahil secara medis. Lehernya tidak berhenti di pundak; leher itu memanjang sekitar setengah meter, meliuk-liuk seperti ular yang mencoba menyeimbangkan beban kepalanya. Kepalanya sendiri miring ke satu sisi dengan sudut yang tidak alami, seolah-olah tulang lehernya telah dipatahkan berkali-kali. Kulitnya pucat keabu-abuan, transparan hingga aku bisa melihat pembuluh darah hitam yang berdenyut lambat di bawah permukaannya.

Dia berhenti tepat di depan meja kasir. Aroma tanah kuburan dan daging busuk yang disamarkan oleh wangi melati murahan langsung menusuk hidungku.

"Selamat... selamat malam," kataku, suaraku nyaris hilang di ujung kalimat. Aku segera menundukkan pandangan, fokus pada dasi hitamnya yang tampak menyatu dengan kulit lehernya. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"

Makhluk itu tidak menjawab dengan kata-kata. Dia mengeluarkan suara mendengkur rendah dari tenggorokannya yang panjang. Salah satu tangannya, yang memiliki jari-jari dengan ruas tambahan, bergerak meletakkan sesuatu di atas meja kasir.

Itu adalah sebuah botol air mineral. Namun, air di dalamnya tidak bening. Cairan itu berwarna merah kental, dengan sesuatu yang kecil dan bundar terapung-apung di dalamnya. Aku menelan ludah saat menyadari bahwa yang terapung itu adalah bola mata manusia yang masih segar, pupilnya menatap lurus ke arahku.

"Ini... ini saja?" tanyaku, mencoba menjaga nada suaraku tetap profesional meski lututku sudah lemas.

Makhluk itu mengangguk pelan. Gerakan kepalanya yang berayun-ayun di ujung leher panjang itu menciptakan suara *krak-krak* yang memilukan.

Aku memindai botol itu. Mesin kasir mengeluarkan bunyi *pip* yang nyaring, namun di layarnya tidak muncul angka rupiah. Sebagai gantinya, muncul sebuah instruksi dalam huruf miring: *HARGA: TIGA TAHUN MEMORI TENTANG RASA BAHAGIA.*

Jantungku berhenti berdetak sesaat. Aku teringat pada bab "Mata Uang" di buku panduan. *Jangan pernah mengambil lebih dari yang diminta, dan pastikan kau memiliki wadah yang tepat untuk menyimpan kembalian jika mereka membayar dengan memori yang terlalu besar.*

"Harganya... tiga tahun memori bahagia," ucapku lirih. Aku tidak tahu bagaimana cara menagihnya. Apakah aku harus menyentuhnya?

Makhluk itu perlahan mengangkat tangannya yang dingin dan kasar. Dia tidak meraih dompet. Sebaliknya, dia mengarahkan jari telunjuknya yang panjang dan runcing tepat ke arah pelipisku. Aku terpaku, ingin lari tapi kakiku seolah terpaku pada lant** keramik yang dingin.

"B-boleh saya mulai transaksinya?" tanyaku memastikan, sesuai protokol.

Bibir makhluk itu menarik ke belakang, menyingkapkan barisan gigi runcing yang tidak beraturan. Dia tidak tersenyum. Dia sedang bersiap untuk mengambil sesuatu dariku, atau mungkin, dia sedang menunggu apakah aku c**up berani untuk menjalankan tugas ini. Jika aku melakukan kesalahan sedikit saja dalam proses penarikan memori ini, aku tahu botol berikutnya di rak itu mungkin akan berisi bola mataku sendiri.

Tangannya semakin dekat, ujung kuku hitamnya nyaris menyentuh kulitku. Aku bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa mulai merayap ma**k ke dalam pikiranku, mencari-cari celah untuk menarik keluar potongan hidupku sebagai alat bayar.

"Tunggu," bisikku saat sebuah det**l kecil di buku panduan terlintas di benakku. Aku melirik cepat ke arah tangan makhluk itu. Di pergelangan tangannya, ada sebuah gelang perak yang tampak sangat kontras dengan penampilannya yang mengerikan. "Tuan, Anda... Anda pelanggan tetap nomor anggota 444?"

Makhluk itu mendadak kaku. Jarinya berhenti hanya beberapa milimeter dari keningku. Suasana di dalam toko menjadi semakin mencekam saat lampu neon di atas kami meledak, meninggalkan kami dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh cahaya biru mesin kasir yang redup.

Dia mengeluarkan suara desisan panjang, dan untuk pertama kalinya, aku melihat matanya yang besar dan tanpa kelopak mata itu melebar. Dia menyadari sesuatu yang aku sendiri baru saja sadari dari catatan kaki di halaman sepuluh: pelanggan nomor 444 tidak pernah membayar dengan memorinya sendiri. Dia membayar dengan memori orang yang melayaninya.

Dan aku baru saja menyetujui transaksi itu.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca