Detik jam dinding di atas pintu ma**k tidak lagi berdetak. Ia berdenyut. Setiap kali jarum panjang bergeser ke angka dua belas, ada getaran rendah yang merambat dari ubin marmer tua ke telapak kakiku, membuat bulu kudukku berdiri kaku. Di luar kaca jendela yang biasanya menampilkan kerlip lampu jalanan kota, kini hanya ada kabut abu-abu pekat yang seolah menelan dunia.
Aku menelan ludah, mengeratkan peganganku pada tepian meja kasir. Di hadapanku, mesin kasir merk 'Acheron' yang tampak antik itu masih tertutup rapat. Layar digitalnya tidak menunjukkan angka nol, melainkan sebuah kalimat pendek yang berkedip merah: *MA**KKAN JAMINAN PEMBUKAAN.*
Aku membuka Buku Panduan Keselamatan yang sampul kulitnya terasa dingin seperti menyentuh daging beku. Jariku gemetar saat membalik halaman ke bagian 'Prosedur Awal Shift'.
*"Poin 4: Gerbang tidak akan terbuka tanpa kunci emosional. Untuk mengaktifkan sistem transaksi dimensi, kasir wajib menyetorkan satu unit Memori Bahagia Tingkat Menengah sebagai jaminan. Kegagalan memberikan jaminan dalam sepuluh menit pertama akan dianggap sebagai pengunduran diri sukarela (Lihat: Prosedur Pengolahan Limbah Organik di Basement)."*
Napas duniaku terasa sesak. Pengunduran diri sukarela di tempat ini berarti aku akan berakhir di lemari pendingin, menjadi potongan daging tanpa identitas. Aku tidak punya pilihan.
"Hanya satu memori," bisikku pada diri sendiri, suaraku terdengar asing di tengah keheningan toko yang mencekam. "C**up satu, Andini. Pilih yang paling tidak berguna."
Aku memejamkan mata, mencoba mengaduk-aduk laci ingatan di kepalaku. Aku butuh sesuatu yang manis, sesuatu yang c**up berharga untuk mesin si**** ini, tapi tidak terlalu berharga sampai aku merasa kehilangan separuh nyawaku.
Aku teringat saat memenangkan lomba mewarnai di TK. Tidak, itu terlalu hambar. Bagaimana dengan saat aku mendapat pujian dari guru SMA? Mesin kasir itu mengeluarkan suara geraman rendah, seolah bisa membaca keraguanku.
*Cepat,* desis angin yang entah datang dari mana, mengacak-acak rambutku.
Lalu, memori itu muncul. Aku berusia tujuh tahun. Sore itu hujan turun sangat deras, mengubah halaman rumah kami menjadi sungai kecil. Ayah pulang membawa payung kuning yang ujungnya sudah patah, tapi di balik jas hujannya yang basah, ia menyembunyikan sebuah kantong plastik berisi martabak manis cokelat kacang. Kami duduk di teras, kaki kecilku berayun-ayun di atas genangan air, sementara Ayah menyuapkan sepotong martabak yang masih hangat. Bau mentega yang gurih bercampur dengan aroma tanah basah. Ayah tertawa melihat pipiku belepotan cokelat, lalu mengusap kepalaku dengan tangannya yang kasar namun hangat.
"Ini saja," gumamku, air mata tiba-tiba menggenang di sudut mata. "Aku berikan yang ini."
Aku meletakkan telapak tangan kananku di atas pemindai kaca yang ada di samping mesin kasir. Kaca itu terasa panas membara. Tiba-tiba, aku merasakan tarikan yang sangat kuat di pangkal otakku. Rasanya seperti ada jarum halus yang menusuk ma**k dan menyedot sesuatu dari dalam sana.
Pemandangan sore hujan itu mulai memudar. Warna payung kuning itu perlahan berubah menjadi abu-abu, lalu bening, lalu hilang. Tawa Ayah perlahan menjauh, menjadi gema yang tak bermakna, hingga akhirnya sunyi total. Aku mencoba mengingat rasa martabak itu, tapi lidahku hanya mengecap rasa hambar. Aku tahu ada sesuatu yang terjadi di teras itu, aku tahu Ayah ada di sana, tapi aku tidak bisa lagi merasakan kehangatannya. Aku kehilangan *rasa* dari memori itu. Yang tersisa hanyalah catatan fakta kering di kepalaku: *Aku pernah makan martabak dengan Ayah saat hujan.*
*KLIK.*
Laci mesin kasir terbuka dengan denting logam yang nyaring. Di dalamnya, bukan uang kertas yang kulihat, melainkan gumpalan cahaya kecil yang berdenyut seperti kunang-kunang di dalam kompartemen plastik. Itulah modal awal transaksiku malam ini.
Aku menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungku yang mengg***. Rasa hampa di dadaku terasa seperti lubang hitam kecil. Belum sempat aku meratapi hilangnya memori itu, lonceng di atas pintu berdenting.
*Ting.*
Suaranya tidak seperti lonceng biasa; lebih seperti benturan tulang kering. Kabut di luar pintu tersingkap, dan sesosok mahluk melangkah ma**k. Ia mengenakan setelan jas hitam yang tampak sangat mahal, namun di atas lehernya tidak ada kepala. Sebagai gantinya, ada sebuah sangkar burung kuningan yang di dalamnya berisi sepasang mata manusia yang terus berputar-putar liar.
Mahluk itu berjalan mendekat dengan langkah yang tidak bersuara. Bau busuk yang manisβseperti bunga mawar yang mulai membusuk di atas pemakamanβlangsung memenuhi ruangan. Ia meletakkan sebuah botol kaca kecil di atas meja kasir. Di dalam botol itu, sesuatu yang tampak seperti jari manis manusia yang masih segar terendam dalam cairan biru elektrik.
"Aku butuh... penyesalan," suara itu tidak keluar dari sangkar di lehernya, melainkan bergema langsung di dalam kepalaku. "Dua liter penyesalan murni. Berikan yang paling pahit yang kau punya di rak belakang."
Tanganku gemetar hebat saat meraih pemindai harga. Aku teringat aturan di buku panduan: *Jangan pernah menatap mata pelanggan terlalu lama.* Tapi mata di dalam sangkar itu tiba-tiba berhenti berputar. Keduanya menatap lurus ke arahku, seolah-olah mereka tahu bahwa aku baru saja membuang satu-satunya kenangan hangat yang tersisa tentang ayahku.
"Kau berbau segar, Kasir Baru," mahluk itu condong ke depan, sangkarnya berderit. "Memori yang kau berikan tadi... aromanya sangat lezat. Apakah kau punya lagi untuk ditukarkan dengan tip?"
Aku membeku. Di belakang mahluk itu, di antara lorong-lorong rak yang gelap, aku melihat bayangan-bayangan lain mulai bermunculan, menunggu giliran mereka. Dan aku menyadari satu hal yang tidak tertulis secara eksplisit di buku panduan: di toko ini, mereka tidak hanya menginginkan barang daganganβmereka menginginkan setiap bagian dari diriku yang masih terasa 'manusia'.
Jari mahluk itu, yang panjang dan pucat seperti lilin, mulai mengetuk-ngetuk meja kasir dengan irama yang tidak sabar. Aku harus melayaninya sekarang, atau aku akan menjadi bagian dari inventaris toko ini sebelum fajar menyingsing.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!