Jam digital di atas meja kasir menunjukkan pukul 02:14. Suara dengung lampu neon di langit-langit toko terdengar lebih nyaring dari biasanya, seolah-olah gas di dalam tabung kaca itu sedang menjerit dalam frekuensi rendah. Andini menggosok lengannya yang meremang. Suhu di dalam minimarket ini selalu merosot tajam setelah tengah malam, tetapi udara kali ini terasa berbeda—lembab dan berbau seperti logam berkarat yang dicelupkan ke dalam air mawar busuk.
Mata Andini beralih ke deretan monitor CCTV yang berkedip-kedip di sudut ruangan. Di layar yang menampilkan Lorong Tiga—rak berisi bahan makanan kaleng dan bumbu dapur—ia melihat sesuatu yang tidak beres. Sebuah noda gelap merayap dari bawah rak pendingin, membentuk genangan lebar yang memantulkan cahaya neon dengan cara yang salah. Cairan itu tidak sekadar diam; ia berdenyut, seirama dengan detak jantung yang entah milik siapa.
Andini menghela napas panjang, tangannya gemetar saat membuka laci di bawah kasir. Ia menarik keluar sebuah buku bersampul kulit kusam dengan tulisan *Manual Keselamatan Kasir* yang dicetak dengan huruf timbul berwarna emas memudar. Ia membolak-balik halamannya dengan tergesa hingga menemukan Bagian IV: *Sanitasi dan Kontaminasi Dimensi.*
*Aturan Nomor 14: Jika menemukan tumpahan berwarna hitam pekat di lorong mana pun, jangan pernah menggunakan pel biasa. Gunakan campuran garam industri dan c**a apel dari gudang belakang. Pastikan tumpahan tersebut tidak menyentuh kulit te*******. Jika tumpahan mulai mengeluarkan suara desis, segera tinggalkan area tersebut dan jangan menoleh.*
"Bagus," bisik Andini pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar asing di tengah kesunyian toko yang menekan. "Hanya membersihkan lant**. Kau bisa melakukan ini, Andini. Ingat hutang Ibu. Ingat tagihan rumah sakit Ayah yang masih menggantung."
Andini berjalan menuju gudang belakang dengan langkah yang diseret. Kakinya terasa berat, seolah-olah atmosfer di dalam toko ini telah berubah menjadi cairan kental yang menghambat setiap geraknya. Setelah mencampur bahan-bahan yang diinstruksikan ke dalam ember logam, ia kembali ke Lorong Tiga.
Genangan itu telah meluas. Kini, cairan hitam itu tampak seperti oli mesin yang sangat pekat, namun memiliki tekstur yang menyerupai daging cair. Baunya semakin menyengat, membuat perut Andini mual. Ia berdiri sekitar dua meter dari tepi genangan, lalu mencelupkan kain pel ke dalam larutan garam dan c**a.
Begitu helai-helai kain pel menyentuh pinggiran cairan itu, suara desis yang tajam merobek kesunyian. Asap putih tipis membumbung tinggi. Cairan itu berkerut, menarik diri seolah-olah merasa kesakitan.
"Cuma tumpahan kimia dari dimensi lain," gumam Andini, mencoba meyakinkan logikanya yang mulai retak. "Bukan makhluk hidup. Hanya residu."
Ia mulai menggosok dengan gerakan teratur. Namun, setiap kali ia menyeka, cairan itu seakan melawan. Teksturnya berubah menjadi lengket, menarik-narik kain pelnya dengan kekuatan yang tidak ma**k akal. Andini harus mengerahkan seluruh tenaganya hanya untuk menarik kembali gagang pel tersebut.
Tiba-tiba, lampu di Lorong Tiga berkedip mati.
Andini membeku. Dalam kegelapan yang mendadak, cairan hitam itu tidak lagi terlihat hitam; ia berpendar dengan cahaya ungu redup yang bergerak-gerak di bawah permukaannya. Dan di sanalah ia melihatnya—di dalam genangan itu, muncul belasan mata kecil yang terbuka serentak, menatap langsung ke arahnya.
Andini tersentak mundur, namun terlambat.
Lant** di bawah kakinya terasa amblas. Cairan itu bergerak secepat kilat, merayap naik ke atas sepatu botnya, lalu membelit pergelangan kakinya seperti tentakel yang terbuat dari tar panas. Andini menjerit, namun suaranya seolah tertelan oleh keheningan toko.
"Lepaskan!" ia berteriak, meronta sekuat tenaga.
Cairan itu dingin—dingin yang membakar hingga ke tulang. Andini merasakan tekanan yang kuat, seolah-olah ada tangan-tangan tak kasat mata yang mencoba menariknya ma**k ke dalam lant** semen yang padat. Ia jatuh terduduk, tangannya meraba-raba rak di sampingnya, menjatuhkan beberapa kaleng kornet yang mendarat dengan suara dentuman keras di lant**.
Ingatannya mendadak terlempar pada malam di rumah sakit, saat ia memegang tangan ayahnya yang semakin mendingin. Rasa tidak berdaya yang sama menghantam dadanya. Saat itu, ia tidak bisa menarik ayahnya kembali dari kematian. Sekarang, apakah ia juga akan ditarik ke tempat yang sama?
"Tidak... tidak sekarang!" Andini menggeram. Amarah mulai menggeser rasa takutnya.
Ia meraih ember yang tadi dibawanya. Dengan sisa tenaga, ia menyiramkan seluruh isi cairan garam dan c**a itu langsung ke pergelangan kakinya yang terjerat.
Suara jeritan melengking—bukan dari mulut Andini, melainkan dari lant** itu sendiri—memenuhi ruangan. Cairan hitam itu melepuh, mengeluarkan gelembung-gelembung besar yang pecah dengan bau busuk yang luar biasa. Andini merasakan cengkeraman itu melonggar. Ia menendang dengan keras, kakinya terlepas dengan suara *plop* yang menjijikkan, meninggalkan noda hitam yang meresap ke dalam kain celananya.
Andini merangkak menjauh, napasnya tersengal-sengal. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia menatap genangan itu yang kini menyusut, kembali menjadi noda diam yang tampak tidak berbahaya di bawah cahaya lampu yang tiba-tiba menyala kembali.
Ia bangkit dengan gemetar, menyeka keringat dingin di dahinya dengan punggung tangan. Ia berhasil. Ia masih hidup.
Namun, saat ia berbalik untuk kembali ke meja kasir, langkahnya terhenti. Di ujung lorong, berdiri sesosok bayangan tinggi yang mengenakan mantel hujan panjang yang basah kuyup, meski di luar tidak sedang hujan. Wajah sosok itu tertutup oleh tudung, namun Andini bisa merasakan sepasang mata merah yang menatapnya dari balik kegelapan kain tersebut.
Sosok itu memegang sebuah keranjang belanja kosong.
*Ting!*
Bunyi lonceng pintu depan berdenting, menandakan ada pelanggan lain yang ma**k. Namun, pelanggan yang berdiri di depan Andini saat ini tidak datang melalui pintu depan. Ia muncul dari kegelapan di antara rak-rak makanan.
Andini melirik jam dinding. Masih pukul 02:45. Perjalanannya malam ini masih sangat panjang, dan "tumpahan" di lant** tadi hanyalah hidangan pembuka.
"Selamat datang," suara Andini bergetar, nyaris tidak terdengar. "Ada yang bisa saya bantu... Tuan?"
Sosok bermantel itu tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya yang pucat dan panjang, lalu menunjuk ke arah noda hitam yang baru saja dibersihkan Andini. Dari balik tudungnya, terdengar suara parau yang terdengar seperti gesekan dua batu nisan.
"Kau... telah menyakiti peliharaanku."
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!