Hawa dingin di dalam toko malam ini terasa berbeda. Bukan sekadar embusan AC yang kering, melainkan rasa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang, seolah-olah suhu di sekitar kasir merosot tajam setiap kali jam dinding berdetak. Andini merapatkan rompi seragamnya, menggosok-gosokkan kedua telapak tangan yang mulai pucat.
Di atas meja kasir, sebuah nota pesanan dari entitas tanpa wajah yang baru saja pergi masih tergeletak. Pelanggan ituβsesosok bayangan setinggi dua meter dengan suara seperti gesekan amplasβmeminta "potongan segar" untuk dibawa pulang. Masalahnya, stok daging di etalase depan sudah ludes sejak jam dua pagi tadi.
Andini melirik Buku Panduan Keselamatan yang sampulnya mulai mengelupas. *Aturan Nomor 14: Jika stok daging di rak display habis sebelum pukul 04:00, ambil pasokan baru di lemari pendingin belakang. Jangan pernah ma**k tanpa membawa senter, dan jangan pernah bertanya dari mana asal daging itu.*
"Hanya mengambil daging, Andini. Ambil, bawa ke depan, potong, selesai," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya terdengar asing di tengah sunyinya toko yang hanya diisi oleh dengung lampu neon yang berkedip.
Ia melangkah menuju pintu baja berat di sudut belakang toko. Pintu itu selalu terkunci, namun malam ini, kuncinya seolah terbuka sendiri sebelum ia sempat menyentuh gagangnya. Suara *klik* yang dihasilkan terdengar seperti tulang yang patah. Begitu pintu terbuka, uap dingin menyembur keluar, menyelimuti kakinya dengan kabut putih yang tebal.
Andini menyalakan senter. Cahayanya membelah kegelapan ruangan yang luasnya tidak ma**k akal jika dibandingkan dengan ukuran bangunan toko dari luar. Ruangan itu lebih mirip gudang industri raksasa daripada gudang minimarket. Di langit-langit yang tinggi, deretan pengait besi berkarat menggantung di rel logam yang meliuk-liuk seperti ular.
Langkah kakinya menggema di lant** beton yang licin oleh lapisan es tipis. *Sret... sret...*
Baunya mulai tercium. Bukan bau busuk daging yang rusak, melainkan bau anyir darah yang dicampur dengan aroma disinfektan yang sangat kuat. Andini menyorotkan senternya ke arah kiri, ke deretan bongkahan daging besar yang dibungkus plastik bening. Beberapa di antaranya berbentuk paha yang terlalu panjang, sementara yang lain menyerupai tumpukan organ yang sulit dikenali.
Ia terus berjalan lebih dalam, mencari label "Stok Utama" seperti yang diinstruksikan dalam manual. Di bagian paling belakang, di bawah cahaya lampu pijar yang remang-remang dan bergoyang, ia menemukan sebuah rak gantung yang tertutup tirai plastik tebal yang kusam.
Andini menyibak tirai itu. Tangannya gemetar hebat. Di sana, tergantung tiga potong bagian tubuh besar yang masih tampak merah segar. Es kristal menempel di permukaannya, berkilauan seperti berlian di bawah cahaya senter.
Napas Andini tertahan. Matanya terpaku pada salah satu potongan yang tergantung di tengah. Itu adalah bagian bahu hingga pinggang. Namun, bukan tekstur dagingnya yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
Ada sesuatu yang melekat di sana.
Andini mendekatkan senternya, berharap penglihatannya salah karena kelelahan. Namun, semakin dekat cahayanya, semakin nyata kengerian itu. Di permukaan daging yang membeku itu, tertempel sisa-sisa kain berwarna biru tua dan garis merah di bagian ujungnyaβpola yang sangat ia kenali setiap kali ia bercermin sebelum mulai bekerja.
Itu adalah potongan seragam kasir *Gerbang Antah Berantah*.
Tangan Andini yang bebas menutup mulutnya, menahan pekikan yang nyaris lolos. Ia mengarahkan senter sedikit lebih ke atas, ke arah saku dada yang masih menempel secara ajaib pada fragmen otot tersebut. Di sana, tertempel sebuah *nametag* plastik keras yang sedikit retak.
*RIAN.*
Darah Andini terasa membeku lebih cepat daripada suhu di ruangan itu. Rian. Nama itu pernah disebut oleh Pak Hadi, manajer toko yang misterius, sebagai "karyawan yang memutuskan untuk berhenti secara mendadak" seminggu sebelum Andini diterima bekerja. Pak Hadi bilang Rian pulang ke kampung halamannya tanpa pamit.
Andini memundurkan langkah, namun kakinya justru menendang sebuah ember logam di bawah gantungan daging. Suara dentangan keras itu memecah kesunyian, bergema berkali-kali di lorong-lorong gelap lemari pendingin.
Tiba-tiba, pengait besi yang menahan potongan daging "Rian" berderit. Beban itu seolah bergerak, berayun perlahan ke arahnya. Andini menyadari satu hal yang lebih mengerikan: di balik sisa seragam itu, ada bekas jahitan kasar yang membentuk pola angka.
*Stok No. 04. Kedaluwarsa: Selamanya.*
Pikirannya berputar. Jika Rian adalah stok nomor empat, dan dia adalah kasir kelima yang bekerja di sini dalam tiga bulan terakhir, maka peringatan di manual tentang "menjadi stok daging" bukan sekadar metafora atau ancaman kosong untuk membuatnya bekerja keras. Itu adalah deskripsi pekerjaan yang sebenarnya bagi mereka yang gagalβatau mungkin, bagi mereka yang terlalu tahu banyak.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari arah pintu ma**k gudang yang tadi ia tinggalkan. Langkah itu lambat, diseret, dan diiringi suara napas yang berat dan basah.
"Andini..." sebuah suara memanggil dari kegelapan. Itu suara Pak Hadi, tapi terdengar lebih rendah, lebih serak, seolah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. "Kenapa lama sekali? Pelanggannya sudah mulai tidak sabar. Kamu tahu kan, mereka benci menunggu?"
Andini mematikan senternya secara refleks. Kegelapan total langsung menelannya. Di tengah kesunyian yang mencekam, ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar, beradu dengan suara derit rel logam di atas kepalanya yang menandakan ada sesuatu yang sedang bergerak mendekat di antara deretan daging gantung itu.
Ia tidak sendirian di dalam lemari pendingin ini, dan pintu keluar yang jauh itu kini terasa seperti jarak antar dimensi yang mustahil ditempuh. Namun, yang lebih menakutkan adalah kenyataan bahwa seragam yang ia kenakan saat ini memiliki ukuran yang sama persis dengan potongan kain yang menempel pada tubuh Rian.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!