Lonceng di atas pintu berdenting, tetapi suaranya tidak nyaring. Bunyinya seperti benturan dua tulang kering yang kering dan rapuh. Dingin yang ganjil segera merayap ma**k, menyapu lant** ubin putih minimarket yang terlalu bersih, membawa aroma tanah basah dan karat yang menyengat.
Andini berhenti mengelap meja kasir. Ia menarik napas panjang, membiarkan oksigen yang terasa tipis itu memenuhi paru-parunya sebelum menatap ke arah pintu.
Empat sosok berdiri di sana. Mereka tinggi, jangkung melebihi ambang pintu, dengan tubuh yang dibungkus kain kafan abu-abu yang compang-camping di bagian bawah. Wajah mereka tersembunyi di balik tudung, namun Andini bisa melihat tetesan cairan hitam kental jatuh dari balik kain tersebut, menodai lant** yang baru saja ia pel.
Mereka bergerak serempak, bukan berjalan, melainkan meluncur pelan seolah kaki mereka tidak benar-benar menapak bumi. Suara gesekan kain mereka terdengar seperti bisikan ribuan serangga.
"Kami... lapar," suara itu bukan berasal dari satu mulut, melainkan koor serak yang bergema langsung di dalam kepala Andini. "Hampa ini... membakar."
Andini menelan ludah, tangannya yang tersembunyi di bawah konter mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. "Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?" suaranya sedikit bergetar, namun ia berhasil menjaga nada bicaranya tetap profesional. Sesuai buku panduan: *Jangan tunjukkan rasa takut, karena rasa takut adalah bumbu penyedap bagi mereka.*
"Rasa sakit," salah satu dari mereka maju, tangannya yang panjang dan kurusβhanya tulang yang dibalut kulit sewarna memarβmenunjuk ke arah Rak 4. "Kami butuh... dosis yang segar."
Andini mengangguk kaku. "Silakan, Rak 4 di bagian belakang sebelah kiri."
Ia memperhatikan keempat makhluk itu meluncur menuju Rak 4, tempat di mana biasanya barang-barang 'Abstrak' disimpan. Di sana, di antara botol-botol berisi 'Tawa Bayi' dan kaleng 'Rindu Dendam', seharusnya terdapat stok 'Rasa Sakit' dalam bentuk kristal kecil berwarna ungu gelap atau cairan kental dalam botol vial.
Namun, saat makhluk-makhluk itu berhenti di depan rak, hening yang mencekam menyelimuti ruangan. Andini melihat bahu salah satu makhluk itu menegang.
"Kosong..." desis mereka. "Kenapa... kosong?"
Jantung Andini seakan berhenti berdetak. Ia segera keluar dari balik konter dan menghampiri rak tersebut. Benar saja, barisan botol vial 'Rasa Sakit' yang seharusnya penuh kini melompong. Hanya ada debu perak yang tersisa di sana. Ia lupa memeriksa stok barang abstrak setelah insiden dengan 'Pelanggan Tanpa Wajah' kemarin malam.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya," Andini membungkuk rendah, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Stok kami baru saja habis di rak, tapi saya yakin masih ada di gudang. Mohon tunggu sebentar."
"Cepat," salah satu makhluk itu mendekatkan wajahnya ke arah Andini. Bau anyir darah segar menguar dari balik tudungnya. "Hampa ini... mulai merobek kami dari dalam. Jika kami tidak makan, kami akan mencari... pengganti."
Andini tahu apa artinya 'pengganti'. Ia teringat noda darah permanen di pojok gudang yang tidak pernah bisa ia bersihkan sepenuhnya. Tanpa membuang waktu, ia meraih kunci kuno yang tergantung di pinggangnya dan bergegas menuju pintu abu-abu di pojok belakang toko yang bertuliskan: *Staf Saja - Lant** Bawah*.
Ia membuka pintu itu. Udara yang keluar dari balik pintu terasa sepuluh derajat lebih dingin daripada area toko. Andini menyalakan senter kecilnya karena lampu neon di tangga menuju gudang bawah tanah sudah lama mati dan tidak ada yang berani menggantinya.
Langkah kakinya menggema di tangga beton yang sempit. Setiap langkah terasa seperti menuju ke liang lahat. Gudang bawah tanah minimarket ini bukan sekadar ruang penyimpanan; tempat ini adalah labirin yang strukturnya bisa berubah-ubah.
"Hanya ambil 'Rasa Sakit', lalu naik kembali. Jangan menoleh," bisik Andini pada dirinya sendiri, mencoba mengusir bayangan ayahnya yang tiba-tiba muncul di benaknyaβbayangan saat sang ayah terbaring lemah di rumah sakit, memohon maaf karena meninggalkan beban hutang yang begitu besar.
Di bawah, cahaya senternya menyapu deretan peti kayu tua yang tertumpuk hingga ke langit-langit yang rendah. Suasana di sini sangat sunyi, tipe sunyi yang membuat telinga berdenging. Andini menyusuri lorong di antara peti-peti itu, matanya mencari label bertuliskan 'Kategori: Penderitaan & Turunannya'.
Ia menemukannya di ujung lorong yang paling gelap. Sebuah peti hitam dengan ukiran rant**. Namun, saat ia mencoba menarik laci peti itu, lacinya macet.
"Ayo, ayolah..." Andini menyentak laci itu dengan segenap tenaganya.
*KRAK.*
Laci itu terbuka, namun sentakannya membuat senter di tangan kirinya terlepas dan jatuh ke lant**, menggelinding jauh ke bawah rak yang gelap. Cahayanya berkedip-kedip sebelum akhirnya padam total.
Kegelapan pekat langsung menyergap. Andini membeku. Ia berada di tengah gudang bawah tanah yang luas, tanpa cahaya, sementara empat entitas kelaparan menunggunya di atas.
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki dari arah tangga. Langkah itu berat dan terseret. *Sret... sret... sret...*
Itu bukan langkah kaki makhluk kafan di atas. Langkah ini terasa familiar, namun sangat salah.
"Andini..." sebuah bisikan parau memanggil namanya dari kegelapan. Suara itu terdengar persis seperti suara ayahnya. "Sakit, Nak... Bapak sakit sekali di sini..."
Bulu kuduk Andini meremang. Ia tahu itu bukan ayahnya. Panduan Keselamatan Bab 2, Aturan 7: *Gudang bawah tanah akan menggunakan penyesalan terbesarmu untuk membuatmu menetap selamanya.*
Andini memejamkan mata erat-erat, meraba-raba ke dalam laci peti yang terbuka. Jemarinya menyentuh sesuatu yang dingin dan tajam seperti pecahan kaca. Ia meraup sebanyak mungkin botol vial yang bisa ia genggam, mengabaikan rasa perih saat salah satu botol yang pecah mengiris telapak tangannya.
"Kau berjanji akan menjagaku, Andini..." suara itu sekarang terdengar tepat di belakang telinganya. Hawa dingin yang menusuk menyentuh tengkuknya.
Andini menggigit bibirnya hingga berdarah untuk menahan teriakan. Dengan tangan kanan mendekap botol-botol vial ke dadanya dan tangan kiri meraba dinding, ia mulai bergerak merayap dalam kegelapan, mencoba mengingat jalur kembali ke tangga.
Namun, saat ia melangkah, kakinya tidak menyentuh lant** beton. Ia merasa seperti menginjak sesuatu yang lunak dan basah. Sesuatu yang mulai melilit pergelangan kakinya.
Di saat yang sama, dari lant** atas, terdengar suara geraman parau yang tidak sabar. Makhluk-makhluk kafan itu mulai turun.
"Mana... pesanan... kami?"
Andini terjebak. Di bawah, sesuatu yang menyerupai kenangannya tentang sang ayah mulai menarik kakinya ke dalam kegelapan yang lebih dalam. Di atas, para pelanggan yang lapar sudah kehilangan kesabaran. Dan di genggamannya, botol-botol 'Rasa Sakit' itu mulai bergetar, seolah-olah mereka juga ingin ikut menyiksa sang pembawa.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!