Jam dinding di atas rak rokok berdetak dengan suara yang tiba-tiba terdengar seperti hantaman palu di dalam keheningan pukul tiga pagi. Udara di dalam toko mendadak berubah; aroma pembersih lant** yang tajam menghilang, digantikan oleh bau ozon dan keharuman bunga kamboja yang memuakkan. Suhu turun drastis, hingga napas Andini keluar dalam bentuk kabut putih tipis.
Lonceng pintu berdenting—bukan suara denting ceria yang biasanya, melainkan bunyi logam yang beradu berat, seolah pintu itu sendiri enggan terbuka.
Andini segera berdiri tegak di balik meja kasir. Jemarinya mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih. Sesuai dengan instruksi di Bab 4 Buku Manual: *Jika udara berubah menjadi dingin dan jarum jam seolah melambat, hentikan semua aktivitas. Berdiri tegak. Jangan pernah menurunkan pandangan, tapi jangan pula menatap matanya secara langsung.*
Sesosok pria melangkah ma**k. Ia mengenakan setelan jas abu-abu arang yang terpotong sangat rapi—terlalu rapi hingga tidak ada lipatan tunggal di kainnya. Kulitnya pucat menyerupai porselen mahal, dan rambutnya klimis ke belakang tanpa ada sehelai pun yang mencuat. Namun, yang membuat perut Andini mulas adalah wajahnya. Wajah itu tampak seperti topeng karet yang ditarik terlalu kencang; bibirnya tipis dan melengkung dalam senyum permanen yang tidak mencapai matanya yang berwarna kuning pekat seperti mata reptil.
"Selamat pagi, Andini," suara itu berat dan bergema, seolah-olah ia berbicara dari dasar sumur yang dalam. "Atau harus kukatakan, selamat berjuang?"
"Selamat pagi, Pak Manajer," jawab Andini, suaranya sedikit bergetar meski ia sudah berusaha keras untuk terdengar tenang. Ia memfokuskan pandangannya pada simpul dasi pria itu yang berwarna merah darah.
Sang Manajer tidak membalas. Ia mulai berjalan mengelilingi toko. Langkah kakinya tidak mengeluarkan suara, seolah-olah ia mengambang beberapa milimeter di atas ubin putih yang meng***p. Ia mengenakan sarung tangan putih bersih. Ia berhenti di depan rak minuman dingin, tempat botol-botol berisi cairan bercahaya biru—memori masa kecil yang diekstrak—berjejer.
Jari telunjuknya yang terbungkus sarung tangan putih menyapu bagian atas rak. Ia menarik tangannya, mengamati ujung jarinya dengan saksama. Andini menahan napas. Ia sudah menyeka rak itu tiga kali sebelum tengah malam, tapi di tempat ini, debu bisa muncul dari dimensi lain dalam hitungan detik.
"Kebersihan adalah representasi dari ketertiban dimensi," gumam Sang Manajer tanpa menoleh. "Satu butir debu adalah benih kekacauan. Dan kekacauan... adalah sesuatu yang tidak bisa ditoleransi oleh manajemen."
Ia berbalik perlahan, matanya yang kuning menatap tajam ke arah lemari pendingin daging di pojok belakang. Di sana, potongan-potongan 'stok' dari karyawan sebelumnya tersimpan dalam plastik vakum.
"Kenapa suhu di *Chiller* 3 naik 0,5 derajat?" tanya Sang Manajer tiba-tiba. Suaranya kini terdengar seperti gesekan pisau di atas kaca.
Andini tersentak. Ia segera memeriksa layar monitor di bawah kasir. "Ada lonjakan energi dari pelanggan sebelumnya, Pak. Entitas kategori *Wraith* yang mampir sepuluh menit lalu meninggalkan sisa suhu panas. Saya sudah menyesuaikan termostatnya secara manual."
Sang Manajer berjalan mendekati meja kasir. Setiap langkahnya membuat lampu neon di langit-langit berkedip-kedip gelisah. Ia berhenti tepat di depan Andini. Bau formaldehida kini menusuk hidung Andini, membuatnya ingin mual, namun ia tetap berdiri mematung.
Pria itu meletakkan tangannya yang bersarung tangan di atas meja. "Kau tahu apa yang terjadi pada pendahulumu, Andini? Dia sangat berempati. Suatu malam, dia membiarkan seorang pelanggan 'berhutang' sepotong ingatan tentang cara mengikat tali sepatu. Dia pikir itu hal kecil."
Sang Manajer mencondongkan tubuhnya. Andini bisa melihat pori-pori kulit pria itu yang sama sekali tidak ada. Wajah itu benar-benar palsu.
"Keesokan harinya, rak ini tidak lagi bersih," bisik Sang Manajer. "Rak ini penuh dengan jamur hitam yang tumbuh dari rasa iba. Toko ini tidak butuh hati, Andini. Toko ini butuh akurasi."
Tiba-tiba, Sang Manajer menyambar pergelangan tangan Andini. Cengkeramannya sedingin es dan sekuat catut besi. Andini terpekik kecil, tapi tidak berani menarik tangannya.
"Kau berbau seperti rasa bersalah," Sang Manajer mengendus udara di dekat leher Andini. Senyum permanennya tampak semakin lebar, nyaris merobek sudut mulutnya. "Bau kematian seorang ayah yang belum tuntas. Kau membawanya ke dalam toko ini. Itu adalah kontaminasi."
"Saya... saya bekerja sesuai manual, Pak," bisik Andini, air mata mulai menggenang di sudut matanya karena rasa sakit di pergelangan tangannya. "Saya tidak pernah terlambat, saya menghitung setiap pecahan memori dengan teliti. Saya..."
"Kau masih menyimpan foto itu di kantong seragammu, bukan?" Sang Manajer melepaskan tangan Andini dengan sentakan kasar. "Sebuah benda dari dunia luar. Sebuah sauh yang menarikmu kembali ke sana."
Andini terdiam. Tangannya secara tidak sadar menyentuh saku kecil di dadanya, tempat ia menyimpan foto usang ayahnya yang tersenyum di depan bengkel tua mereka. Itu adalah satu-satunya hal yang mengingatkannya bahwa ia masih manusia.
Sang Manajer mengitari meja kasir, ma**k ke area terlarang bagi pelanggan. Ia berdiri di samping Andini, tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan panjang yang seolah hidup dan merayap di lant**. Ia membuka laci kasir dengan sekali sentak. Di dalamnya, tumpukan koin perak yang terbuat dari air mata yang membeku bergemerincing.
"Aku akan melakukan audit total malam ini," kata Sang Manajer sambil mengeluarkan sebuah buku hitam kecil dari balik jasnya. "Jika ada satu memori yang tidak sinkron, jika ada satu mili liter emosi yang hilang dari pembukuan, kau tidak akan pulang pagi ini saat matahari terbit."
Ia membuka buku itu dan mulai mencatat sesuatu dengan pena bulu yang tintanya berwarna perak berkilauan. "Dan Andini... aku melihat ada noda kecil di lant** dekat pintu ma**k. Tampaknya seperti tetesan darah yang tidak dibersihkan dengan benar."
Andini menoleh ke arah pintu. Lant** itu tampak bersih sempurna di matanya. Namun, saat ia menyipitkan mata, ia melihatnya—sebuah noda merah redup yang mulai berdenyut, seolah-olah lant** itu sendiri sedang bernapas.
"Bersihkan itu sekarang. Dengan tanganmu sendiri," perintah Sang Manajer tanpa menatapnya. "Dan jangan gunakan pembersih biasa. Gunakan cairan dari botol di bawah wastafel. Kau tahu kan, botol yang labelnya tertulis 'Penghapus Eksistensi'?"
Andini menelan ludah. Ia tahu cairan itu. Cairan itu sangat korosif; ia akan mengikis kulitnya jika ia tidak hati-hati.
"Baik, Pak," jawab Andini patuh.
Ia berjalan menuju pintu, berlutut di atas ubin yang dingin, dan mulai menggosok noda yang berdenyut itu. Namun, saat jarinya menyentuh noda tersebut, sebuah suara bisikan yang sangat ia kenal terdengar dari bawah ubin.
*“Andini... tolong Ayah...”*
Andini membeku. Suara itu berasal dari noda darah tersebut. Ia mendongak dan melihat Sang Manajer sedang memperhatikannya dari balik meja kasir dengan tatapan lapar, seolah pria itu memang sengaja menjebaknya dalam ujian ini.
"Kenapa berhenti, Andini?" tanya Sang Manajer, suaranya kini terdengar sangat dekat di telinganya, padahal pria itu masih berdiri di balik meja. "Apakah kau baru saja mendengar sesuatu yang melanggar kontrak kerjamu?"
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!