Jam digital di atas rak pendingin menunjukkan pukul 03.14 pagi. Ini adalah jam di mana realitas terasa paling tipis, di mana dengung lampu neon di langit-langit toko terdengar seperti bisikan ribuan serangga yang kelaparan. Andini mengusap tengkuknya yang meremang. Suhu di dalam toko mendadak turun drastis, hingga napasnya membentuk kabut tipis di udara.
Lonceng pintu berdenting—suara yang biasanya memicu lonjakan adrenalin dan rasa mual di perut Andini. Namun, kali ini, sosok yang melangkah ma**k tidak memiliki tungkai yang terlalu panjang atau wajah yang meleleh. Ia tampak seperti seorang kakek biasa, mengenakan kemeja batik usang dan peci yang sedikit miring. Namanya—atau setidaknya julukan yang Andini berikan—adalah Pak Damar. Dia adalah satu-satunya 'pelanggan tetap' yang tidak membuat Andini ingin segera bersembunyi di balik meja kasir.
"Malam, Nduk," sapa Pak Damar lembut. Suaranya terdengar seperti gesekan daun kering, namun ada kehangatan manusiawi di sana yang membuat Andini sedikit rileks.
"Malam, Pak Damar. Mencari minyak kayu putih lagi?" tanya Andini, mencoba memaksakan senyum di bibirnya yang pucat.
Pak Damar mengangguk pelan. Ia berjalan menuju lorong tiga dengan langkah yang sedikit menyeret, seolah-olah beban di pundaknya lebih berat daripada yang terlihat. Andini memperhatikannya melalui cermin cembung di sudut ruangan. Di cermin itu, bayangan Pak Damar tidak memiliki kaki, hanya kepulan asap kelabu yang memudar di lant** ubin. Tapi di toko ini, itu dianggap 'normal'.
Beberapa menit kemudian, Pak Damar meletakkan sebotol minyak kayu putih dan sebungkus kecil permen jahe di atas meja kasir. Andini segera memindai barang-barang tersebut. Bunyi *beep* dari mesin kasir terasa m****akkan telinga dalam keheningan yang mencekam ini.
"Semuanya jadi tiga puluh gram penyesalan, Pak," ucap Andini pelan.
Pak Damar merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah botol kaca mungil berisi gumpalan cahaya abu-abu yang berdenyut lambat. Ia meletakkannya di atas meja. Saat jemari Andini bersentuhan dengan botol itu, sekilas ia merasakan kesedihan yang mendalam—bayangan tentang sebuah janji yang tak sempat ditepati. Ia cepat-cepat mema**kkan pembayaran itu ke dalam laci kasir sebelum emosi itu menelannya bulat-bulat.
"Kamu masih baru di sini, kan?" tanya Pak Damar tiba-tiba, matanya yang keruh menatap Andini dengan tatapan yang sulit diartikan. Pity? Kasihan?
Andini mengangguk. "Sudah ma**k minggu kedua, Pak. Saya masih berusaha... beradaptasi."
Pak Damar terdiam sejenak, lalu tangannya yang keriput meraih buku manual keselamatan bersampul merah yang selalu tergeletak di samping mesin kasir. Ia membolak-balik halamannya dengan gerakan yang sangat pelan. "Buku ini adalah nyawamu. Tapi kamu tahu, Nduk, tinta hitam seringkali digunakan untuk menutupi hal yang paling penting."
Andini mengerutkan kening. "Maksud Bapak?"
Pak Damar menghentikan jemarinya di halaman tengah. Ia memutar buku itu ke arah Andini. "Coba cari Aturan Nomor 13."
Andini dengan cepat membolak-balik halaman buku itu. Matanya menyusuri daftar aturan yang ditulis dengan font kaku. Aturan 11: *Jangan pernah menatap mata pelanggan yang menangis darah.* Aturan 12: *Jika ada suara yang memanggil namamu dari gudang belakang, abaikan.* Lalu, matanya terhenti. Di bawah aturan nomor 12, terdapat sebuah ruang kosong yang c**up lebar, diikuti langsung oleh Aturan Nomor 14.
Tidak ada nomor 13. Bukan hanya kosong, tapi bagian kertas itu tampak sedikit lebih tebal, seolah-olah ada sesuatu yang ditempelkan di sana untuk menutupi tulisan aslinya, atau mungkin sengaja dihapus dengan sihir yang sangat kuat hingga meninggalkan noda abu-abu yang samar.
"Tidak ada, Pak," bisik Andini, jantungnya mulai berdegup kencang. "Halamannya... kosong."
Pak Damar condong ke depan, aroma tanah basah dan bunga kamboja menguar dari tubuhnya. "Itu bukan karena tidak sengaja terlewat. Mereka menghapusnya karena aturan itu adalah satu-satunya jalan keluar. Dan mereka—pemilik toko ini—tidak ingin kamu keluar sebelum kontrakmu menjadi abadi."
Tangan Andini gemetar. Ia teringat pada manajer toko yang hanya muncul dalam bentuk suara dari interkom, suara dingin yang tidak pernah mengizinkannya pulang lebih awal meski ia memohon. "Apa isi aturan itu, Pak?"
Pak Damar menatap ke arah pintu ma**k, seolah-olah takut ada sesuatu yang menguping dari kegelapan di luar. Ia merogoh sesuatu dari balik saku batiknya—sebuah potongan kertas kecil yang tepiannya hangus terbakar. Ia meletakkannya dengan cepat di atas telapak tangan Andini.
"Ingat ini, Nduk," bisik Pak Damar dengan nada mendesak. "Aturan 13 adalah tentang 'Harga dari Sebuah Nama'. Jika kau mendengar lonceng berbunyi tiga kali berturut-turut tanpa ada orang yang ma**k, jangan melihat ke cermin. Dan jangan pernah, dalam kondisi apa pun, menyebutkan nama lengkapmu jika pelanggan itu memintanya."
"Tapi... kenapa?"
"Karena begitu mereka memiliki namamu, mereka memiliki jiwamu sebagai stok baru di lemari pendingin," suara Pak Damar kini hanya berupa desisan. "Toko ini tidak hanya menjual barang, Andini. Toko ini menjual eksistensi manusia. Aturan itu dihapus agar kau melakukan kesalahan fatal itu tanpa sadar."
Tiba-tiba, lampu toko berkedip keras. Suara dengung listrik berubah menjadi geraman rendah. Dari arah gudang belakang, terdengar suara gesekan logam yang berat, seolah-olah sesuatu yang besar sedang diseret di atas lant** beton.
"Aku harus pergi," kata Pak Damar dengan terburu-buru. Ia mengambil barang belanjaannya. "Jangan biarkan mereka tahu kau sudah tahu. Dan ingat, Andini... jangan pernah berempati pada mereka yang sudah kehilangan wajah."
Pak Damar melangkah pergi, tubuhnya memudar bahkan sebelum ia mencapai pintu. Lonceng berdenting sekali saat ia keluar.
Andini berdiri mematung, meremas potongan kertas kecil di tangannya. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Ia perlahan membuka kepalan tangannya untuk membaca sisa tulisan di kertas hangus itu.
*Aturan 13: Jika Pelanggan Tanpa Wajah menanyakan namamu, berikan nama orang yang paling kau benci. Jika kau memberikan namamu sendiri, maka—*
Tiba-tiba, lampu di atas kepala Andini meledak, memercikkan bunga api dan menyisakan kegelapan total. Dalam kesunyian yang mencekam itu, suara lonceng pintu terdengar.
*Ting.*
*Ting.*
*Ting.*
Tiga kali. Persis seperti peringatan Pak Damar.
Andini menahan napas, tangannya meraba-raba meja kasir yang dingin. Di kegelapan yang pekat, ia bisa merasakan ada sesuatu yang berdiri tepat di depan mejanya. Sesuatu yang tidak memiliki napas, namun memiliki kehadiran yang sangat menyesakkan.
Lalu, sebuah suara yang terdengar persis seperti suara mendiang ayahnya berbisik lembut dari kegelapan. "Andini... itu kamu, Nak? Sebutkan namamu agar Ayah bisa melihatmu..."
Andini merasakan air mata mulai menggenang. Itu suara Ayah. Sangat mirip, hingga hatinya terasa remuk. Ia nyaris membuka mulut untuk menjawab, namun peringatan Pak Damar terngiang-ngiang seperti alarm di kepalanya. Ia menutup matanya rapat-rapat, menggigit bibir hingga berdarah, sementara jemarinya meraba permukaan meja, mencari keberadaan cermin cembung yang kini terasa seperti lubang hitam yang siap menelannya.
Tiba-tiba, lampu menyala kembali dengan satu kedipan tajam, dan di depan meja kasir, berdirilah sesosok makhluk dengan setelan jas rapi, namun di tempat wajahnya seharusnya berada, hanya ada permukaan kulit rata tanpa mata, hidung, ataupun mulut.
"Selamat malam, Nona Kasir," suara ayahnya keluar lagi dari 'wajah' rata itu. "Boleh saya tahu siapa nama gadis cantik yang melayani saya malam ini?"
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!