Pukul 03:15 pagi. Keheningan di dalam minimarket ini terasa seperti lapisan debu tebal yang menyumbat paru-paru. Lampu neon di langit-langit berkedip tidak teratur, menciptakan bayangan yang seolah-olah memiliki nyawa sendiri di sela-sela rak stok mi instan. Tidak ada pelanggan sejak entitas tanpa wajah yang membeli sekantong empedu harimau pergi sepuluh menit lalu. Hanya ada suara dengung rendah dari lemari pendingin dan detak jam dinding yang entah mengapa terdengar seperti ketukan palu di atas peti mati.
Andini meremas pinggiran meja kasir yang dingin. Jemarinya gemetar, bukan karena suhu pendingin ruangan yang disetel terlalu rendah, melainkan karena kerinduan yang mendesak. Sudah dua minggu ia terjebak dalam siklus shift malam yang g*** ini. Dunianya kini menyempit menjadi lorong-lorong sempit berisi barang belanjaan yang tidak ma**k akal dan kontrak kerja yang ditulis dengan tinta yang berbau karat.
Matanya beralih ke telepon kabel berwarna krem kusam yang terletak di sudut meja kasir. Sebuah benda kuno dengan dial putar yang tampak aneh di antara teknologi modern kasir. Dalam Buku Panduan Keselamatan, Aturan Nomor 14 tertulis dengan tinta merah tebal: *Jangan pernah menggunakan telepon toko untuk menghubungi dunia luar. Telepon ini hanya menerima pangg***n, tidak untuk melakukan pangg***n. Melanggar aturan ini berarti mengundang telinga yang tidak seharusnya mendengar.*
"Cuma sekali," bisik Andini pada kesunyian. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Hanya untuk memastikan Ibu baik-baik saja."
Rasa bersalah yang selama ini ia pendam—tentang ayahnya yang pergi terlalu cepat dan utang-utang yang menumpuk—menjadi bahan bakar keberaniannya yang nekat. Ia butuh mendengar suara manusia yang normal. Ia butuh diingat oleh seseorang dari dunia di mana matahari masih bersinar.
Andini mengangkat gagang telepon. Suara *dial tone* yang ia dengar bukanlah nada datar yang biasa, melainkan desisan panjang yang menyerupai tarikan napas seseorang yang sedang menderita asma. Ia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seperti kertas amplas. Dengan jari yang bergetar, ia mulai memutar nomor telepon rumahnya.
*Kret... kret... kret...*
Suara putaran dial itu terdengar sangat keras di dalam toko yang sepi. Setiap angka yang kembali ke posisi semula terasa seperti detik bom waktu. Setelah digit terakhir, Andini menempelkan gagang telepon itu erat-erat ke telinganya.
*Tut... tut...*
Satu nada sambung. Jantung Andini berdegup kencang, menghantam rongga dadanya.
*Tut...*
Tiba-tiba, suara statis yang tajam menusuk gendang telinganya, diikuti oleh suara klik yang menandakan pangg***n diangkat. Keheningan sesaat menyelimuti garis telepon itu.
"Ibu?" tanya Andini lirih. Matanya mulai berkaca-kaca. "Bu, ini Andini. Maaf Andini belum bisa pulang. Andini cuma mau bilang—"
Andini terdiam. Tidak ada jawaban dari seberang sana, namun ia bisa mendengar suara latar yang sangat familiar. Itu adalah suara denting lonceng pintu minimarket tempatnya bekerja sekarang. *Ting!*
Lalu, sebuah suara pecah. Bukan suara ibunya.
"Tolong! Siapa pun, tolong!"
Andini tersentak. Tubuhnya membeku. Suara di seberang telepon itu adalah suara seorang wanita. Suaranya serak, penuh dengan keputusasaan yang murni, dan yang paling mengerikan—suara itu adalah suaranya sendiri.
"Siapa ini?" Andini bertanya, suaranya hampir hilang. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
"Jangan buka pintunya!" teriak suara itu dari gagang telepon. Andini bisa mendengar dirinya sendiri di seberang sana sedang terengah-engah, seolah sedang berlari menghindari sesuatu yang sangat dekat. "Andini, kalau kau mendengar ini, jangan pernah buka pintu gudang belakang! Dia sudah menunggu! Dia memakai kulit Ayah!"
Andini melepaskan gagang telepon itu seolah benda itu tiba-tiba berubah menjadi bara api. Gagang telepon itu terjatuh dan berayun-ayun di kabelnya, menghantam sisi meja kasir dengan bunyi *duk... duk... duk...* yang ritmis.
Namun, suara jeritan itu tidak berhenti. Meski gagang telepon tidak lagi menempel di telinganya, suara dirinya sendiri dari masa depan—atau entah dari dimensi mana—masih m****ik nyaring, memenuhi ruangan toko yang sempit itu. Suara itu kini berubah menjadi jeritan kesakitan yang memilukan, seolah-olah pemilik suara itu sedang dikuliti hidup-hidup.
"Hentikan... tolong hentikan..." Andini menutup telinganya dengan kedua tangan, meringkuk di bawah meja kasir.
Tiba-tiba, suara jeritan di telepon itu terputus dengan suara *krek* yang keras, seperti tulang yang patah. Keheningan kembali menyergap, lebih pekat dari sebelumnya.
Andini memberanikan diri untuk mengintip dari balik meja. Telepon itu kini tergeletak diam. Namun, matanya tertuju pada cermin cembung di sudut langit-langit toko. Di dalam pantulan cermin itu, ia melihat pintu gudang belakang yang seharusnya terkunci rapat, perlahan-lahan bergeser terbuka.
Dari celah pintu yang gelap itu, sebuah tangan pucat dengan kuku-kuku yang panjang dan hitam mulai menjulur keluar. Dan yang membuat napas Andini tercekat adalah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan pucat itu; jam tangan kuno milik ayahnya yang seharusnya sudah ikut dikubur dua tahun lalu.
Lonceng pintu depan berbunyi. *Ting!*
Andini menoleh ke arah pintu ma**k, berharap ada pelanggan—siapa pun itu, bahkan monster sekalipun—yang bisa mengalihkan perhatiannya dari pintu gudang. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya udara kosong yang dingin.
Lalu, telepon di atas meja kembali berdering. Kali ini suaranya bukan lagi desisan, melainkan suara tawa berat yang keluar dari corong bicara, memenuhi seluruh ruangan.
"Andini..." panggil sebuah suara dari arah gudang belakang. Suara itu berat, serak, namun memiliki nada yang sangat mirip dengan cara ayahnya memanggil namanya saat ia masih kecil. "Kenapa kau menelepon? Ayah sudah ada di sini."
Andini menyadari satu hal yang terlambat ia baca di Buku Panduan. Ia tidak hanya melanggar aturan; ia baru saja membuka jalur komunikasi yang seharusnya tetap tertutup selamanya. Kini, apa pun yang ada di seberang telepon itu telah menemukan jalan untuk ma**k ke dunianya.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!