Lant** beton gudang tua ini terasa sedingin es di bawah telapak kakiku yang te*******, tetapi rasa dingin itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan denyut panas yang menjalar dari pangkal telingaku. Aku menyeret langkah melewati tumpukan peti kayu busuk dan mesin-mesin berkarat yang sudah puluhan tahun membisu. Bau oli mati dan debu yang menyesakkan menyambut kedatanganku, memberikan rasa aman semu yang sangat aku butuhkan. Di sini, di pinggiran kota yang terlupakan, aku berharap tidak akan ada seorang pun yang bisa kujangkau. Tidak ada mangsa untuk sosok yang bersembunyi di balik simfoni ini.
Aku menyentuh pinggiran headset yang sekarang terasa seperti bagian dari anatomi tubuhku sendiri. Kabel-kabel hitam itu tidak lagi sekadar melingkar; mereka telah melesak ma**k ke bawah kulit leherku, menciptakan tonjolan-tonjolan biru keunguan yang berdenyut seirama dengan tempo musik.
"Hentikan... tolong, berhenti," bisikku, suaraku parau dan pecah di udara yang lembap.
Sebagai jawaban, melodi *ragtime* yang ceria—namun terdengar sangat menyimpang—meledak di gendang telingaku. Musik itu tidak berasal dari speaker; itu bergema langsung di dalam tengkorakku. Elias Thorne sedang tertawa melalui nada-nada piano itu. Aku bisa merasakannya, sebuah kesadaran dingin dan tajam yang perlahan-lahan mengikis pinggiran identitasku, seperti air laut yang menggerus tebing pasir.
Aku menemukan sebuah tiang besi yang tertanam kuat di tengah ruangan. Dengan tangan gemetar, aku mengambil rant** berkarat yang tergeletak di sudut dan mulai melilitkannya ke pergelangan tanganku sendiri. Aku harus mengunci diriku sendiri. Aku tidak boleh membiarkan dia menggunakan tanganku lagi. Aku tidak ingin melihat darah orang lain di bawah kuku-kukuku saat aku terbangun nanti.
*“Kau pikir ini akan menahanku, Nak?”*
Suara itu bukan berupa kata-kata, melainkan sebuah perubahan frekuensi yang mendadak. Musik yang tadinya ceria berubah menjadi orkestra gesek yang sangat rendah dan disonan. Suaranya begitu berat hingga dadaku terasa sesak.
"Aku tidak akan membiarkanmu keluar," geramku, mengencangkan simpul rant** hingga besi kasar itu melukai kulitku. "Ini tubuhku. Aku yang memegang kendali!"
Tiba-tiba, volume musik itu melonjak drastis.
*BOOM.*
Duniaku jungkir balik. Seolah-olah seseorang menghantamkan palu godam tepat ke pelipisku. Aku jatuh berlutut, berteriak sekencang-kencangnya, namun suaraku tenggelam oleh raungan simfoni yang m****akkan telinga. Pikiranku dipenuhi dengan bayangan-bayangan hitam: siluet Elias Thorne yang berdiri di atas genangan darah, memegang pisau bedah dengan keanggunan seorang konduktor.
"Argh! Berhenti! Sakit!"
Setiap kali aku mencoba menarik rant** itu lebih kencang, volume musik naik satu tingkat lagi. Itu bukan sekadar suara; itu adalah rasa sakit fisik murni yang berbentuk gelombang audio. Rasanya seolah-olah otakku sedang direbus di dalam cairan logam panas. Aku bisa merasakan cairan hangat mengalir keluar dari liang telingaku—darah.
Aku mencakar lant** beton, mencoba mengalihkan rasa sakit di kepalaku, namun kabel-kabel di leherku justru semakin mempererat cengkeramannya. Mereka berdenyut liar, menyedot energi dari saraf-sarafku. Di balik kelopak mataku yang terpejam, aku melihat memori yang bukan milikku: jalanan London yang berkabut, aroma tembakau murah, dan kilatan mata seorang pria yang menikmati setiap jeritan korbannya.
*“Berdiri,”* perintah musik itu. Sebuah nada tinggi yang melengking panjang, menyiksa saraf sensorikku hingga aku hampir muntah. *“Ada seseorang yang mendekat, Fajar. Seseorang yang sangat ingin tahu.”*
"Tidak... tidak ada siapa-siapa di sini..." aku terengah-engah, keringat dingin memba****i wajahku.
Aku mencoba menahan tanganku yang mulai bergerak sendiri, meraih kunci gembok yang tadi kulemparkan ke dekat tumpukan kayu. Otot-otot lenganku menegang, berkontraksi melawan keinginanku. Aku bertarung melawan diriku sendiri, sebuah perang saudara yang terjadi di bawah kulitku. Namun, rasa sakit itu tak tertahankan. Setiap kali aku melawan, musik itu berubah menjadi suara jeritan ribuan jiwa yang digiling bersamaan.
Lalu, aku mendengarnya. Bukan di dalam kepalaku, tapi dari luar.
*Krieeet.*
Pintu gudang yang berat dan berkarat itu bergeser pelan. Cahaya bulan ma**k melalui celah sempit, menyinari debu-debu yang menari di udara. Jantungku mencelos.
"Halo? Ada orang di dalam?"
Suara itu. Itu suara Pak Dadang, penjaga malam tua yang biasanya berpatroli di area gudang ini. Suaranya terdengar ragu dan penuh ketakutan.
"Pak... pergi! Lari!" aku mencoba berteriak, namun yang keluar dari mulutku hanyalah suara erangan yang teredam oleh dentum bass yang menggetarkan rahangku.
Volume musik mendadak turun, berubah menjadi melodi biola yang sangat lembut, sangat merayu, dan sangat mematikan. Ini adalah bagian paling mengerikan: keheningan yang dipaksakan. Elias sedang mempersiapkan panggungnya.
Aku merasa jemariku tidak lagi kaku. Rant** yang tadi melilitku terasa seringan kapas saat tanganku—yang digerakkan oleh sesuatu yang lain—mulai membuka lilitannya dengan kecepatan yang tidak wajar. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjatuhkan diriku, untuk membenturkan kepalaku ke beton agar pingsan, tetapi tubuhku berdiri tegak dengan keanggunan yang asing.
Aku bisa merasakan bibirku tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang bukan milikku. Di dalam kepalaku, 'playlist' itu beralih ke lagu berikutnya: sebuah mars pemakaman yang megah.
"Nak Fajar? Kamu di situ?" suara Pak Dadang terdengar semakin dekat, langkah kakinya gemetar di atas lant** kayu yang rapuh.
Aku melihat tanganku meraih sepotong besi tajam dari meja kerja tua di dekatku. Aku ingin menjerit, aku ingin memperingatkannya, tetapi lidahku terasa kelu, tertutup oleh rasa logam yang kuat. Di telingaku, musik itu mulai membangun crescendo yang luar biasa, menelan semua nurani yang tersisa.
*Mainkan bagiannya, Fajar,* bisik sebuah kesadaran dingin di sudut gelap benakku. *Pertunjukan harus terus berjalan.*
Saat bayangan Pak Dadang muncul dari balik pilar, aku merasakan tubuhku meluncur maju dengan kecepatan predator, sementara musik di telingaku meledak menjadi simfoni kematian yang paling indah yang pernah kudengar.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!