Bau hangus dan apek kayu lembap menyapa indra penciuman Fajar saat ia melangkah lebih dalam ke reruntuhan gudang di belakang toko barang antik yang kini sudah rata dengan tanah itu. Setiap langkahnya menimbulkan bunyi krieit yang m****akkan telinga dari papan lant** yang rapuh. Namun, suara itu nyaris tak terdengar oleh Fajar sendiri. Di telinganya, simfoni orkestra tahun 1920-an terus mengalun, sebuah melodi biola yang melengking indah namun terasa menyakitkan, seolah-olah busur biolanya sedang digesekkan langsung ke saraf pusatnya.
Fajar menyentuh pinggiran headset yang melingkar di kepalanya. Jarinya gemetar saat merasakan tekstur kabel yang kini bukan lagi plastik dingin, melainkan gumpalan urat yang berdenyut selaras dengan detak jantungnya. Kulit di sekitar telinganya telah membiru, membengkak di mana ujung kabel itu menghujam ma**k ke dalam pori-porinya.
"Diam... kumohon, diam sebentar saja," bisik Fajar dengan suara parau.
Suara Elias Thorne di dalam kepalanya hanya terkekeh, sebuah tawa kering yang terdengar seperti gesekan amplas pada logam. *“Musik ini baru saja dimulai, Nak. Kau adalah panggungku sekarang.”*
Fajar menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan gelap Thorne yang terus membisikkan instruksi untuk mencari 'instrumen' baru—yang ia tahu berarti korban baru. Ia harus menemukan cara untuk melepaskan benda terkutuk ini. Matanya yang sembap menyisir sisa-sisa puing, hingga ia melihat sebuah sudut yang tidak sepenuhnya terbakar. Sebuah lemari besi kecil yang sudah miring, tertimbun oleh balok kayu yang menghitam.
Dengan tenaga yang tersisa, Fajar menggeser balok tersebut. Otot lengannya menegang, dan rasa sakit menusuk telinganya setiap kali ia bergerak ekstrem, seolah headset itu tidak suka ia melakukan aktivitas fisik yang bukan 'pertunjukannya'. Di dalam lemari itu, ia menemukan sebuah buku bersampul kulit kusam yang sebagian sisinya telah hangus.
Itu adalah buku harian milik Pak Salim, pemilik toko antik yang menghilang secara misterius sesaat setelah menjual headset itu pada Fajar.
Fajar duduk di lant** yang kotor, menyandarkan punggungnya pada dinding yang retak. Dengan tangan gemetar, ia membuka halaman-halaman yang rapuh. Tinta di dalamnya mulai memudar, namun tulisan tangan yang miring dan terburu-buru itu masih bisa terbaca.
*14 November — Ia mulai bernyanyi lagi. Aku bisa mendengarnya dari balik pintu gudang. Piringan hitam itu tidak butuh listrik. Ia butuh lebih dari itu. Aku membuat kesalahan besar dengan menyimpannya.*
Fajar membalik halaman dengan cepat. Nafasnya memburu.
*20 Desember — Thorne tidak akan pernah mati selama melodi itu terus berputar. Headset itu bukan sekadar alat pendengar. Itu adalah 'Piringan Hitam Hidup'. Aku melihatnya sendiri pada korban terakhir. Jarum-jarum halus dari kabelnya tidak hanya mengambil alih saraf, tapi mereka menghisap esensi kehidupan.*
Mata Fajar terpaku pada satu paragraf yang digarisbawahi dengan tinta merah yang sudah kecokelatan.
*Musik ini adalah parasit. Ia tidak akan berhenti kecuali piringannya diberi makan. Darah adalah pelumasnya. Semakin banyak darah yang mengalir ke dalam sirkuitnya, semakin jernih suaranya, dan semakin kuat kendali Thorne atas inangnya. Jika musiknya mulai melambat atau terdengar sumbang, itu adalah tanda bahwa ia lapar. Dan ia akan mengoyak inangnya dari dalam jika permintaannya tidak dipenuhi.*
Tiba-tiba, alunan biola di telinga Fajar berubah. Nada yang tadinya melengking megah mendadak merosot, menjadi distorsi suara yang berat dan mengerikan, seperti pita kaset yang kusut. Kepalanya terasa seperti dihantam palu godam. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari titik di mana kabel headset menyatu dengan rahangnya.
"Argh!" Fajar mencengkeram kepalanya, terguling di lant** debu.
Melalui pandangannya yang kabur, ia melihat kabel-kabel hitam yang menempel di lehernya mulai berdenyut liar. Mereka tidak lagi hanya menempel; mereka menggeliat di bawah kulitnya, merayap menuju dadanya seperti cacing yang kelaparan. Suara musik itu kini terdengar seperti jeritan ribuan jiwa yang tersiksa, tumpang tindih dengan perintah dingin Thorne.
*“Aku lapar, Fajar... Berikan aku ritmenya.”*
Fajar melihat ke arah buku harian itu lagi, tepat di halaman terakhir yang sempat ditulis Pak Salim sebelum ia melarikan diri atau mungkin tewas.
*Jangan biarkan musiknya berhenti. Jika ia berhenti sebelum ia kenyang, ia akan memutar jantungmu sebagai pengganti piringan hitamnya.*
Fajar merasakan cairan hangat mengalir dari telinganya. Ia menyentuhnya dengan jari dan melihat warna merah pekat. Darah. Headset itu mulai menghisapnya. Melodi yang tadinya sumbang perlahan-lahan kembali menjadi jernih seiring dengan darahnya yang mengalir membasahi kabel-kabel tersebut. Setiap tetes darah yang keluar membuat musik itu terdengar lebih 'HD', lebih megah, dan lebih menghanyutkan.
Kesadaran Fajar mulai menipis, digantikan oleh dorongan primitif yang bukan miliknya. Ia menatap tangannya sendiri yang kini bergerak tanpa perintahnya. Jarinya memungut sebuah pecahan kaca tajam yang tergeletak di dekatnya.
"Tidak... jangan lagi," rintih Fajar, namun mulutnya justru membentuk seringai lebar yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.
Thorne mengambil alih kendali motoriknya sepenuhnya. Fajar hanya bisa menonton dari balik matanya sendiri saat tubuhnya berdiri dengan tegak, sementara musik di kepalanya kini berubah menjadi lagu dansa klasik yang riang namun terasa sangat satir di tengah reruntuhan itu.
*“Lihat itu, Fajar,”* suara Thorne bergema, penuh kemenangan. *“Ada seseorang yang datang. Kurasa mereka mendengar musik kita.”*
Di ujung gudang, Fajar melihat siluet seseorang yang sedang membawa senter, memanggil-manggil namanya. Itu adalah suara yang ia kenali. Suara yang seharusnya membuatnya merasa aman, namun kini hanya memicu rasa lapar yang luar biasa dari benda yang melekat di kepalanya.
Headset itu berdenyut kencang, menuntut tumbal agar lagu ini tidak berakhir dalam keheningan yang mematikan. Fajar ingin berteriak menyuruh orang itu lari, namun yang keluar dari tenggorokannya hanyalah senandung kecil mengikuti irama kematian yang sedang diputar.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!