Keheningan di sini bukan jenis keheningan yang menenangkan. Ini adalah kesunyian yang berdengung, seperti frekuensi rendah yang terus-menerus menekan gendang telinga hingga terasa hampir pecah. Aku tidak lagi merasakan berat tubuhku. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan kabut abu-abu yang berdenyut seirama dengan detak jantung yang bukan milikku. Di sinilah aku, di ruang sempit di sudut kesadaranku sendiri, terkurung sementara sesuatu yang lain memegang kemudi.
"Kau terlalu tegang, Nak. Rilekslah sedikit. Nikmati komposisinya."
Suara itu tidak datang dari luar. Ia merayap dari dasar tenggorokanku, bergema di dalam tengkorak seolah-olah otakku adalah ruang konser yang kosong. Aku berputar, mencari sosoknya, meski aku tahu fisik tidak berlaku di sini. Di tengah kabut, sebuah siluet mulai memadat.
Elias Thorne berdiri di sana. Ia mengenakan setelan jas wol tiga lapis yang kaku, gaya khas pria kelas atas tahun 1920-an. Wajahnya pucat, hampir transparan, dengan garis rahang yang tajam dan mata yang cekung, menyimpan kegelapan yang lebih pekat dari malam mana pun yang pernah kulihat. Ia memegang sebatang rokok imajiner, asapnya melilit di udara seperti unt**an kabel headset yang kini menjadi bagian dari sistem sarafku.
"Keluar dari kepalaku, Elias," desisku. Suaraku terdengar tipis, seperti rekaman kaset tua yang nyaris terhapus.
Elias terkekeh, sebuah suara parau yang mengingatkanku pada gesekan pisau di atas piring porselen. "Keluar? Kita sudah menyatu, Fajar. Kabel-kabel itu... mereka bukan lagi logam dan plastik. Mereka adalah pembuluh darahmu yang baru. Aku adalah melodi, dan kau adalah instrumennya. Tanpaku, kau hanya sebuah sunyi yang tidak berarti."
Ia melangkah mendekat. Setiap langkahnya menimbulkan suara *statik* yang menyakitkan di telingaku. Aku mencoba mundur, tapi kakiku terasa seperti tertanam di lumpur hisap.
"Kau monster," kataku, gigi-gigiku gemeretak. Bayangan tentang apa yang dia lakukan dengan tanganku di babak sebelumnya—darah yang hangat, jeritan yang tiba-tiba terputus—membuat mualku memuncak.
"Aku adalah seorang seniman," koreksi Elias dengan nada tersinggung yang dibuat-buat. Ia mengibaskan tangannya ke udara, dan tiba-tiba, dinding-dinding kabut di sekitar kami menampilkan fragmen memori. Gambar-gambar buram yang bergetar. "Aku mencari nada yang sempurna. Jeritan manusia saat mereka menyadari ajalnya... itu adalah satu-satunya frekuensi yang murni. Dan kau, Fajar, kau memberiku akses ke dunia yang begitu penuh dengan kebisingan yang indah."
Ia berhenti tepat di depanku. Nafasnya berbau seperti ozon dan tembaga tua. Tangannya yang dingin dan pucat terulur, seolah ingin membelai wajahku, tapi ia berhenti tepat di depan mataku.
"Namun, simfoni ini membutuhkan sebuah *crescendo*," gumamnya, matanya tiba-tiba berkilat dengan gairah yang mengerikan. "Aku telah menyisir ingatanmu. Mencari getaran yang paling resonan. Dan aku menemukannya. Seorang gadis dengan tawa yang terdengar seperti lonceng perak di pagi hari."
Jantungku—jantung fisikku yang berada di luar sana—berdegup kencang. Aku merasakannya melalui koneksi aneh ini. "Jangan," bisikku, rasa dingin yang lebih tajam dari es mulai menjalar di punggungku.
"Siapa namanya? Ah, ya... Nadin," Elias menyebut nama itu dengan cara yang begitu penuh selera, seolah-olah nama itu adalah anggur mahal.
"Jangan sentuh dia, Elias! Urusanmu denganku, bukan dia!" aku berteriak, mencoba menerjangnya, tapi tubuh mental-ku hanya terhuyung tak berdaya.
Elias tidak bergeming. Ia justru tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi yang terlalu rapi untuk seseorang yang sudah mati seratus tahun. "Kau sangat mencint**nya, bukan? Bahkan setelah dia meninggalkanmu karena kau terlalu 'terobsesi' dengan duniamu sendiri. Aku bisa merasakan sisa-sisa patah hatimu di sudut-sudut otak ini. Itu adalah bahan bakar yang luar biasa untuk lagu berikutnya."
Dinding kabut di sekitar kami berubah. Kini menampilkan sosok Nadin yang sedang berjalan sendirian di bawah lampu jalan yang remang-remang, pulang dari perpustakaan kampus. Ia sedang memakai earphone, tidak menyadari bahwa di dunia nyata, tubuhku—yang kini dikendalikan oleh Elias—sedang membuntutinya dari bayang-bayang pepohonan.
Aku bisa melihat tangan "ku" meraba saku jaket, mencari cutter yang telah disiapkan Elias. Aku bisa merasakan dinginnya gagang besi itu di telapak tanganku, meski aku berada di sini, di ruang mental ini.
"Dia akan menjadi mahakaryaku, Fajar," bisik Elias tepat di telingaku, suaranya kini menyatu dengan melodi surgawi yang memuakkan dari headset itu. "Bayangkan suara yang akan ia keluarkan saat senar-senar ini melilit lehernya. Itu akan menjadi nada penutup yang paling indah yang pernah kau dengar."
"Aku tidak akan membiarkanmu!" teriakku, mengerahkan seluruh sisa energiku untuk merebut kembali kendali. Aku mencoba membayangkan jemariku bergerak, mencoba menghentikan langkah kaki yang terus maju mendekati Nadin.
Namun, Elias hanya tertawa. Suaranya meledak menjadi simfoni orkestra yang m****akkan telinga, menenggelamkan kesadaranku. "Kau hanya penonton, Nak. Duduklah manis dan dengarkan. Lagunya baru saja dimulai."
Di luar sana, melalui mata tubuhku sendiri yang terasa seperti lensa kamera yang asing, aku melihat punggung Nadin hanya berjarak sepuluh meter. Tanganku terangkat, kabel hitam dari headset di leherku berdenyut liar, memanjang dan menggeliat seperti ular yang haus darah, siap untuk menerkam mangsa yang paling berharga dalam hidupku.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!