Kabel-kabel hitam itu tidak lagi terasa seperti benda asing; mereka telah menjadi urat nadi baru yang berdenyut dengan irama yang salah di bawah kulit leherku. Setiap kali bass dari simfoni terkutuk itu menghentak, aku bisa merasakan jantungku dipaksa mengikuti temponya. Aku bukan lagi pengemudi di dalam tubuhku sendiri. Aku hanyalah seorang penumpang yang terikat di kursi belakang, dipaksa menyaksikan melalui mataku sendiri bagaimana jemariku mencengkeram setir mobil dengan kekuatan yang tidak pernah kumiliki sebelumnya.
"Berhenti... kumohon, berhenti," bisikku di dalam ruang gelap di benakku, tempat kesadaranku kini meringkuk.
*“Ah, Fajar. Jangan merusak crescendo-nya,”* suara itu menyahut, bukan melalui telinga, melainkan langsung bergema di sumsum tulangku. Elias Thorne. Suaranya terdengar seperti gesekan biola tua yang tidak pernah diselubungi damar—kasar, elegan, dan mematikan. *“Gadis ini... Maya, bukan? Dia memiliki frekuensi yang sangat murni. Aku bisa mendengarnya bahkan dari jarak tiga blok. Ketakutannya akan menghasilkan melodi yang sangat indah.”*
Aku mencoba menarik tangan kananku dari kemudi. Seluruh energiku kupusatkan pada biseps, memerintahkan otot-otot itu untuk memberontak. Tubuhku tersentak hebat. Mobil itu meliuk ke kiri, bannya menjerit di atas aspal malam yang basah. Kepalaku membentur kaca jendela dengan keras, tapi Elias hanya tertawa.
Tiba-tiba, tangan kiriku bergerak sendiri, menampar wajahku dengan keras hingga bibirku pecah. Rasa besi dari darah memenuhi mulutku.
*“Jangan melawan konduktormu, Nak,”* desis Elias. *“Atau aku akan membuatmu merasakan setiap inci sarafmu dicabik-cabik sebelum pertunjukan dimulai.”*
Koordinasi tubuhku menjadi kacau balau. Elias mencoba menginjak gas, sementara aku dengan sisa kekuatanku berusaha menekan rem. Mobil itu bergerak tersentak-sentak, melompat maju lalu berhenti dengan kasar, seperti seekor binatang yang sedang sekarat. Lampu jalan yang remang-remang menyinari pantulan wajahku di spion tengah. Mataku tidak lagi berwarna cokelat madu; pembuluh darah di sekitarnya menghitam, membentuk pola jaring laba-laba yang menjalar ke arah telinga, tempat headset itu melekat permanen, menyatu dengan tulang rahangku.
Aku terlihat seperti mayat yang digerakkan oleh listrik.
"Aku tidak akan... membiarkanmu menyentuhnya," erangku. Suaraku keluar sebagai geraman rendah yang nyaris tidak manusiawi.
Setiap gerakanku terasa seperti menyeret beban ribuan ton di dalam air. Aku berhasil mematikan mesin saat mobil kami berhenti tepat di depan pagar rumah kecil yang sangat kukenal. Rumah Maya. Di jendela lant** dua, cahaya kuning hangat merembes keluar. Aku tahu dia sedang di sana, mungkin sedang belajar atau mendengarkan musik—musik yang normal, yang tidak menuntut tumbal jiwa.
Elias mendengus kesal. *“Kau keras kepala sekali untuk ukuran anak muda yang penyendiri.”*
Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menusuk dari belakang telingaku. Kabel-kabel itu seolah-olah sedang menggali lebih dalam, membelit saraf tulang belakangku. Aku menjerit, tapi yang keluar hanyalah nada tinggi yang menyayat hati, selaras dengan lengkingan biola yang tiba-tiba memenuhi kepalaku. Pandanganku memutih.
Sesaat kemudian, aku kehilangan kendali sepenuhnya. Elias mengambil alih dengan kasar.
Tubuhku keluar dari mobil. Gerakannya tidak lagi canggung. Dia menggerakkan kakiku dengan keanggunan seorang predator, meskipun aku bisa merasakan sendi-sendiku berderit karena dipaksa bergerak di luar batas alami mereka. Aku melihat tanganku sendiri meraba saku jaket, mengeluarkan pisau lipat kecil yang dulu biasa kugunakan untuk memotong kertas desain. Di bawah cahaya bulan, bilahnya berkilat dingin.
*“Lihat betapa tenang tangannya sekarang, Fajar,”* ejek Elias. Dia berjalan menuju pagar kayu rendah itu.
Aku mencoba berteriak, mencoba memperingatkan Maya, tapi lidahku kelu. Aku hanya bisa merasakan sensasi dingin dari udara malam di kulitku, sementara di dalam kepalaku, musik itu berubah menjadi mars kematian yang megah. Terompet-terompet gaib meledak di telingaku, merayakan setiap langkah yang membawa kami semakin dekat ke pintu depan.
Langkah kaki itu terasa ringan, seolah-olah Elias sedang berdansa di atas panggung Broadway tahun 1920-an. Dia berhenti di depan pintu kayu jati milik Maya. Tanganku terangkat, jemarinya menekuk, bersiap untuk mengetuk.
*Tuk. Tuk. Tuk.*
Iramanya teratur. Sopan. Menipu.
"Siapa?" suara Maya terdengar dari dalam. Lembut dan penuh rasa ingin tahu. Jantungku berdegup kencang, mencoba memberi tahu jantung Elias—yang kini adalah jantungku juga—untuk meledak saja agar semua ini berakhir.
"Ini aku, Maya," mulutku berucap. Suaranya adalah suaraku, tapi nadanya... nadanya memiliki getaran kuno yang tidak pernah kumiliki. Ada pesona mematikan yang terselip di balik setiap silabel.
*“Bagus sekali,”* bisik Elias di sudut gelap pikiranku. *“Biarkan dia membuka pintu keabadiannya sendiri.”*
Aku mendengar kunci diputar. Klik. Pegangan pintu mulai bergerak turun. Aku berteriak di dalam ruang hampa jiwaku, mencoba membangun tembok, mencoba memutuskan kabel-kabel si**** itu dengan kemauan murni, namun melodi itu semakin keras, menenggelamkan segala bentuk perlawananku.
Pintu terbuka sedikit, menampakkan wajah Maya yang bingung, yang kemudian berubah menjadi senyum lega saat melihatku. "Fajar? Ada apa malam-malam begini? Kamu terlihat... pucat sekali."
Tanganku yang memegang pisau di balik punggung bergetar hebat. Itu adalah satu-satunya bagian dari diriku yang masih bisa kulawan. Elias mengeram marah, memaksa tanganku untuk bergerak maju, sementara aku mengerahkan seluruh sisa kewarasanku untuk menahannya tetap di belakang.
"Maya... lari..." bisikku, nyaris tak terdengar di antara deru simfoni yang kini mencapai puncaknya.
Maya mengernyit, melangkah satu tindak lebih dekat. "Apa? Fajar, kamu sakit? Kamu berkeringat dingin—"
Tepat saat itu, headset di telingaku berdenyut merah. Sebuah nada distorsi yang m****akkan telinga meledak, menghancurkan pertahananku. Elias Thorne mengambil kendali penuh dengan sentakan yang memuakkan. Senyum lebar yang bukan milikku terkembang di wajahku.
"Dia bilang, dia merindukanmu, Sayang," ucap Elias melalui bibirku, saat tanganku yang memegang pisau terayun ke depan dengan kecepatan yang tidak bisa kuhindari.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!