Dunia di sekitarku bukan lagi terdiri dari udara dan cahaya, melainkan gelombang suara yang berdenyut kasar. Di balik kelopak mataku, frekuensi audio berubah menjadi garis-garis merah yang menari mengikuti irama simfoni terkutuk yang dimainkan langsung ke dalam saraf pusatku. Kabel-kabel hitam dari headset vintage itu tidak lagi sekadar melingkari telingaku; mereka telah berakar, menembus dermis, melilit tulang rahang, dan menyatu dengan pembuluh darah karotis. Setiap kali bass berdentum, aku merasakan jantungku dipaksa berdetak dalam ritme yang sama.
Aku adalah penonton di barisan terdepan dalam tubuhku sendiri.
*“Dengarkan crescendo ini, Nak,”* bisik sebuah suara yang bukan milikku—dingin, berwibawa, dan berbau tembakau lama serta formalin. Elias Thorne. *“Satu ketukan lagi, dan komposisi ini akan abadi.”*
Lenganku terangkat secara mekanis. Tanganku menggenggam sebuah pisau bedah karat yang kutemukan di sudut bengkel bawah tanah ini. Aku mencoba berteriak, memohon pada otot-otot jariku untuk melepaskan benda tajam itu, namun yang keluar dari mulutku hanyalah senandung kecil yang merdu. Elias sedang menggunakan pita suaraku untuk menyempurnakan melodi kematiannya.
Di depanku, terikat pada kursi kayu yang reyot, adalah korban terakhir yang dibutuhkan Elias. Namun, sebelum pisau itu sempat menyentuh kulit, pintu besi di ujung ruangan terbanting terbuka dengan bunyi dentum yang m****akkan telinga.
"Jatuhkan senjatanya! Fajar, angkat tanganmu!"
Cahaya senter yang menyilaukan membelah kegelapan, menyapu wajahku. Di balik silau itu, aku mengenali siluet tegap Detektif Harris. Napasnya memburu, uap dingin keluar dari mulutnya, dan moncong pistol Glock-nya mengarah tepat ke dadaku.
"Detektif... lari..." aku mencoba berbisik, tapi lidahku terasa kelu, terganjal oleh kabel yang menjalar ma**k ke tenggorokan.
*“Tamu yang tidak diundang,”* Elias terkekeh di dalam kepalaku, getarannya membuat gigiku gemeretak. *“Tapi dia memiliki detak jantung yang sangat stabil. Sinkronisasi yang sempurna untuk penutup simfoni ini.”*
Tubuhku berputar perlahan menghadap Harris. Aku bisa melihat ketakutan di mata detektif itu, namun yang lebih mendominasi adalah kebingungan. Dia melihat Fajar, mahasiswa yang dikenalnya sebagai pemuda pendiam, kini berdiri dengan kabel-kabel yang berdenyut di bawah kulit lehernya, mata yang sepenuhnya hitam tanpa selerat, dan senyum seringai yang bukan milik manusia.
"Fajar, aku tidak ingin menembakmu. Letakkan pisaunya!" suara Harris bergetar. Dia melangkah maju, sepatunya menginjak genangan air yang membawa bau anyir darah.
*“Bunuh dia, Fajar. Atau aku akan menghancurkan kesadaranmu selamanya dan membiarkanmu menyaksikan aku mencabik-cabik setiap orang yang pernah kau cint**,”* ancam Elias. Kabel di telingaku semakin mengerat, mengirimkan rasa sakit seperti ribuan jarum panas yang menusuk otak.
Aku merasakan tubuhku mulai bergerak maju. Langkahku ringan, hampir seperti menari mengikuti irama musik klasik yang kini mencapai tempo *prestissimo*. Harris mundur selangkah, jarinya mulai menekan pelatuk.
"Jangan mendekat! Aku peringatkan kau!"
Dalam sepersekian detik, aku berada dalam persimpangan yang mustahil. Elias menarik saraf motorikku untuk menerjang Harris, sementara nuraniku meronta di sudut gelap jiwaku. Jika aku membiarkan Elias menyerang, Harris akan mati, dan 'playlist' ini akan selesai, menyegel Elias di dalam tubuhku selamanya. Aku akan menjadi penumpang abadi dalam raga seorang pembant**.
Tapi ada satu frekuensi yang kudengar. Sebuah distorsi kecil di antara melodi surgawi itu. Getaran itu berasal dari sambungan kabel utama yang menempel di pangkal tengkorakku. Jika aku bisa memutus ritmenya, mungkin aku bisa menghentikan Elias, meski risikonya adalah sistem sarafku sendiri akan hancur.
*“Jangan berani-berani, bocah!”* Elias berteriak, menyadari niatku. Dia mengirimkan gelombang rasa sakit yang luar biasa, membuat pandanganku memutih.
Aku memaksa tanganku yang gemetar—bukan tangan yang digerakkan Elias, melainkan sisa-sisa kemauanku sendiri. Aku menjatuhkan pisau bedah itu, namun tanganku tidak menuju ke arah Harris. Alih-alih, aku merogoh kabel tebal yang menancap di belakang telingaku.
"Fajar, apa yang kau lakukan?" teriak Harris, bingung melihatku mulai mencakar leherku sendiri hingga berdarah.
Aku bisa merasakan ujung kabel itu, dingin dan licin karena darah. Aku menggenggamnya kuat-kuat. Suara musik di kepalaku berubah menjadi pekikan statis yang menyiksa. Elias menggeram, mencoba mengambil alih kembali kendali kakiku untuk melompat ke arah Harris demi memicu tembakan sang Detektif.
"Tembak aku, Detektif!" teriakku, kali ini suaraku sendiri pecah di antara jeritan Elias. "Akhiri ini! Tembak headset-nya!"
Harris ragu. Moncong pistolnya bergoyang. Di saat yang sama, Elias berhasil memaksaku melompat ke depan dengan kecepatan yang tidak manusiawi, tangan kiriku yang dikendalikan olehnya mencengkeram leher Harris.
*“Terlambat,”* bisik Elias lewat bibirku, tepat di telinga Harris.
Aku mengerahkan seluruh sisa tenagaku. Dengan satu sentakan brutal, aku menarik kabel utama yang menyatu dengan tulang belakangku. Rasa sakitnya melampaui apa pun yang pernah kubayangkan—seolah-olah jiwaku sedang dikuliti hidup-hidup.
Suara *krak* yang mengerikan menggema di ruangan itu. Melodi surgawi itu tiba-tiba berubah menjadi desis statis yang m****akkan telinga. Pandanganku kabur, tertutup cairan merah yang hangat mengalir dari telingaku.
*DOOOOOM!*
Sebuah ledakan suara frekuensi rendah menghantam ruangan, melemparkan Harris ke dinding. Aku jatuh berlutut, merasakan sesuatu di dalam kepalaku seolah-olah terbakar.
Dunia menjadi hening sejenak. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama. Di dalam kegelapan yang menyelimuti kesadaranku, aku mendengar satu suara baru. Bukan musik Elias, bukan pula suara Harris.
Itu adalah suara detak jantungku sendiri, yang kini melambat, diikuti oleh suara langkah kaki yang berat dan ritmis dari arah kegelapan di belakang Harris. Sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih lapar dari Elias Thorne baru saja terbangun karena distorsi yang kubuat.
Kabel di telingaku berdenyut lagi, kali ini dengan cahaya biru pucat yang dingin. Playlist baru saja dimulai, dan kali ini, tidak ada tombol jeda.
"Detektif..." bisikku, saat tanganku mulai memanjang dan kuku-kukunya berubah menjadi hitam tajam. "Lari... sekarang juga."
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!