Dunia ini bukan lagi tentang cahaya atau gelap; bagiku, dunia adalah rentetan frekuensi yang menyiksa. Di dalam kepalaku, simfoni itu tidak pernah berhenti. Musik klasik yang seharusnya menenangkan kini terdengar seperti ribuan pisau bedah yang menggores permukaan kaca secara serentak. Dan di tengah hiruk-pikuk melodi terkutuk itu, suara Elias Thorne berbisik, serak dan penuh kemenangan, seolah dia sedang menghirup aroma ketakutanku.
"Kau tidak bisa lari, Fajar," gumam Elias melalui pita suaraku sendiri. Aku bisa merasakan otot-otot wajahku bergerak tanpa kendali, membentuk seringai keji yang bukan milikku. "Kita adalah satu komposisi yang belum selesai. Dan malam ini, kita akan menulis gerakan terakhirnya dengan darah."
Aku meringkuk di sudut bangsal isolasi yang remang-remang. Bau karbol yang tajam menusuk hidung, namun tak mampu menutupi bau logam—bau tembaga dari darahku sendiri yang merembes di sela-sela kabel hitam yang ma**k ke lubang telingaku. Kabel-kabel itu tidak lagi sekadar menempel; mereka berdenyut, sinkron dengan detak jantungku yang tidak beraturan. Aku bisa merasakan serat-serat plastik dan tembaga itu menjalar di bawah kulit rahangku, menancap jauh ke dalam saraf pusat.
C**up. Aku tidak bisa membiarkannya mengambil alih lebih jauh lagi.
Tanganku yang gemetar meraba-raba lant** dingin, hingga jemariku menyentuh sesuatu yang tajam—sebuah sendok logam yang berhasil kuselundupkan dari nampan makan malam tadi, yang ujungnya telah kuasah di dinding beton selama berjam-jam. Ini adalah satu-satunya instrumen yang tersisa untuk menghentikan konser kematian ini.
"Apa yang kau lakukan, Nak?" Suara Elias terdengar panik, nada otoriter yang biasanya dingin kini bergetar. "Tanpa musik ini, kau hanyalah cangkang kosong! Kita bisa menjadi abadi!"
"Aku lebih baik mati sebagai manusia yang c**** daripada hidup sebagai wadah bagimu," bisikku, suaraku pecah dan parau.
Dengan sisa-sisa kemauan terakhir, aku mengangkat sendok tajam itu. Mataku menatap pantulan diriku di kaca jendela yang gelap. Wajahku pucat pasi, mataku merah karena kurang tidur, dan di kedua sisi kepalaku, *headset* gaming vintage itu tampak seperti parasit mekanis yang sedang melahap inangnya. Lampu indikator kecil di penutup telinganya berkedip merah—seperti detak jantung s****.
Aku mengarahkan ujung sendok itu ke celah antara kulit telingaku dan plastik keras *headset* tersebut.
*Srak!*
Rasa sakit yang luar biasa meledak, melampaui segala jenis penderitaan yang pernah kubayangkan. Itu bukan sekadar rasa sakit fisik; rasanya seolah-olah jiwaku sedang ditarik keluar melalui lubang jarum. Aku berteriak, namun suara yang keluar adalah perpaduan antara pekikanku dan raungan Elias yang menggelegar di dalam batok kepalaku.
Aku mendorong sendok itu lebih dalam, memutus jaringan saraf yang telah menyatu dengan kabel. Cairan hangat—darah yang bercampur dengan minyak mesin hitam yang aneh—mulai memba****i leherku. Melodi di telingaku berubah menjadi distorsi yang m****akkan telinga, suara statis yang seakan-akan merobek gendang telingaku menjadi serpihan.
"HENTIKAN!" teriak Elias. "KAU AKAN MENGHANCURKAN KITA BERDUA!"
Aku tidak peduli. Dengan satu sentakan brutal, aku mengungkit bagian *headset* itu menjauh dari pelipisku. Bunyi *kretek* tulang yang retak beradu dengan suara kabel yang putus. Aku merasakan sesuatu yang vital di dalam otakku tersentak, seperti senar biola yang dipaksa putus. Pandanganku seketika memutih. Napasku tercekat di tenggorokan saat kegelapan mulai merayap dari pinggir visiku.
Lalu, keheningan.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang terasa seperti selamanya, musik itu berhenti. Elias Thorne lenyap, suaranya terhapus oleh kekosongan yang dingin. Aku ambruk ke lant**, merasakan kesadaran perlahan memudar seiring dengan genangan darah yang mendingin di sekelilingku.
***
Aku terbangun dengan suara *tit... tit... tit...* yang ritmis. Bukan musik, melainkan bunyi monitor jantung.
Mataku sulit terbuka karena bengkak. Saat aku mencoba menggerakkan kepala, rasa sakit yang tumpul dan berat langsung menyerang. Aku berada di sebuah ruangan yang seluruh dindingnya dilapisi busa putih—bangsal isolasi tingkat tinggi. Tanganku terikat ke sisi tempat tidur dengan sabuk kulit yang tebal.
Seorang dokter ma**k, wajahnya tersembunyi di balik masker bedah. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—antara rasa kasihan dan kengerian yang murni.
"Kau beruntung bisa hidup, Fajar," suaranya terdengar sangat jauh, seperti berbicara dari bawah air. Telinga kiriku sama sekali tidak berfungsi, dan telinga kananku hanya menangkap dengung samar yang c****.
Aku mencoba berbicara, tapi mulutku terasa kaku. "Apakah... apakah dia sudah pergi?"
Dokter itu tidak menjawab. Dia hanya menghela napas panjang dan mengarahkan sebuah cermin kecil ke arahku.
Aku menahan napas. Di sisi kepalaku, di mana seharusnya telingaku berada, kini hanya ada gumpalan jaringan parut yang mengerikan dan logam yang menyatu. Namun, yang paling mengerikan adalah fakta bahwa *headset* itu tidak hilang. Meski aku telah mencoba memotongnya, sisa-sisa kerangka plastik dan kabel-kabel hitam itu kini telah tumbuh *ke dalam* kulitku, menutupi area yang kurobek. Logam itu telah menggantikan tulang rawan, dan kabel-kabel kecil terlihat merambat di bawah kulit pipiku seperti urat nadi yang membusuk.
Aku telah memutus sinyalnya, tapi aku tidak bisa membuang perangkatnya. Aku kini adalah monumen hidup dari keg***an Elias Thorne.
"Kami tidak bisa mengangkat sisanya tanpa membunuhmu," kata dokter itu pelan. "Saraf pendengaranmu sudah sepenuhnya tergantikan oleh serat optik itu. Kau sekarang... secara permanen terhubung."
Aku memejamkan mata, mencoba mencari kedamaian dalam kesunyian ini. Namun, di tengah keheningan total itu, aku merasakan sebuah getaran halus di dasar tengkorakku. Itu bukan suara, melainkan frekuensi rendah yang membuat gigiku bergemeletuk.
Getaran itu mulai membentuk pola. Sebuah irama yang sangat pelan, sangat lambat, namun tak terbantahkan. Sebuah lagu baru sedang tercipta, bukan dari *headset* itu, melainkan dari dalam sumsum tulangku sendiri. Dan kali ini, aku menyadari dengan ngeri bahwa aku tidak lagi hanya mendengarkan musiknya.
Aku adalah instrumennya.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!