Symphony of the Scourge: Playlist Tanpa Henti

Bab 2: Bab 2 - Mencoba headset untuk pertama kalinya dan meras...

Pengaturan Membaca

Bau apek kulit tua dan logam berkarat memenuhi indra penciumanku saat aku meletakkan headset itu di atas meja kayu yang permukaannya sudah terkelupas. Di bawah pendar lampu belajar yang remang, benda itu tampak seperti artefak dari era yang salah. Earcup-nya besar, dibalut kulit yang retak-retak seperti sisik reptil purba, dan kabelnya—tebal, hitam, dengan tekstur jalinan benang yang terasa agak lembap saat disentuh—melingkar di atas meja layaknya seekor ular yang sedang tertidur.

Aku mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan debar jantung yang tak beralasan. Sebagai mahasiswa desain grafis yang menghabiskan separuh hidupnya dengan telinga tertutup headphone studio kelas atas, aku tahu seharusnya aku tidak seantusias ini pada rongsokan dari toko barang antik yang terpencil. Namun, ada sesuatu pada berat logamnya yang terasa... berwibawa.

"Mari kita lihat seberapa hebat frekuensi yang bisa kau hasilkan," gumamku pada kesunyian kamar.

Ujung konektornya berbentuk jack 6,3mm yang aneh, berwarna tembaga kusam dengan ukiran halus yang menyerupai sulur tanaman atau mungkin aksara kuno yang tidak kukenali. Dengan sedikit ragu, aku memasangkannya ke amplifier tabung kesayanganku. Begitu ujung logam itu bertemu dengan lubang port, suara *klik* yang dihasilkan terdengar begitu memuaskan, seolah-olah dua kepingan takdir baru saja menyatu.

Aku duduk di kursi kerja, menarik napas dalam-dalam, lalu mengenakan headset itu.

Dingin. Bagian earcup-nya terasa sedingin es saat menyentuh kulit pelipis dan daun telingaku. Namun, dalam hitungan detik, rasa dingin itu berubah menjadi kehangatan yang menjalar. Headset ini terasa sangat pas, seolah-olah ia memang dirancang khusus untuk anatomi kepalaku. Tekanannya presisi, menciptakan kedap suara yang absolut. Suara dengung kipas laptop dan bising kendaraan di luar apartemenku lenyap seketika. Aku berada dalam kehampaan yang murni.

Lalu, musik itu dimulai.

Bukan dimulai dengan sentakan, melainkan merayap ma**k seperti kabut. Awalnya hanya sebuah nada cello yang rendah dan dalam, bergetar di dasar tengkorakku. Kualitas suaranya luar biasa. Tidak, 'luar biasa' adalah penghinaan. Suara ini terasa multidimensi. Aku bisa merasakan gesekan bulu kuda pada dawai, aku bisa mendengar napas sang pemain musik yang teratur, bahkan aku bisa merasakan resonansi kayu instrumennya seolah-olah dadaku sendiri adalah kotak suaranya.

"Ya Tuhan..." bisikku, meskipun aku bahkan tidak bisa mendengar suaraku sendiri karena kejernihan melodi itu.

Melodi itu berkembang. Ma**klah dentingan harpa yang terdengar seperti tetesan air di atas kristal, diikuti oleh harmoni biola yang meratap namun indah. Ini bukan sekadar audio; ini adalah euforia murni. Setiap frekuensi terasa seperti belaian di saraf-saraf otakku. Aku menyandarkan kepala, memejamkan mata, dan membiarkan diriku hanyut. Aku merasa seolah-olah tubuhku kehilangan beratnya, melayang di ruang hampa yang hanya diisi oleh simfoni surgawi ini.

Ada sebuah ritme tersembunyi di balik melodi itu, sebuah denyutan konstan yang sinkron dengan detak jantungku. *Thump-thump. Thump-thump.* Aku merasa lebih fokus, lebih hidup, lebih... utuh. Obsesiku pada audio berkualitas tinggi terasa terbayar lunas dalam satu malam ini. Aku mulai membayangkan proyek desainku akan menjadi jauh lebih hebat jika aku mendengarkan ini setiap saat.

Namun, setelah sekitar sepuluh menit dalam kondisi trans yang memabukkan itu, aku mulai merasakan sesuatu yang aneh.

Ada rasa gatal yang halus di sekitar lubang telingaku. Seperti ada rambut kecil yang merayap di sana. Aku mencoba mengabaikannya, namun rasa gatal itu berubah menjadi sensasi menyengat yang samar. Aku membuka mata, bermaksud untuk mengecilkan volume atau sekadar melepas headset sejenak untuk menggaruk telinga.

Tanganku meraba sisi earcup, mencari roda volume atau tombol kontrol apa pun. Nihil. Permukaannya hanya logam dingin yang halus. Aku beralih ke amplifier di meja. Aku memutar kenop volume ke arah kiri, mentok sampai ke titik nol.

Musik itu tidak mengecil. Justru, suaranya terasa semakin kaya, semakin intim.

Aku mengerutkan kening. Mungkin ada masalah pada kabelnya? Aku meraih ujung kabel yang tertancap di amplifier dan menariknya keluar.

Kabel itu terlepas. Ujung jack-nya menggantung bebas di udara. Namun, simfoni itu tetap bermain di telingaku. Tanpa listrik. Tanpa input.

Jantungku mulai berdegup kencang, kali ini karena kecemasan yang mendadak menyerang. Aku meraih bagian atas headset, bersiap untuk mengangkatnya dari kepalaku. Aku menariknya ke atas, namun headset itu tidak bergerak. Rasanya seolah-olah beratnya bertambah sepuluh kali lipat.

"Apa-apaan..." suaraku terdengar parau, teredam oleh musik yang kini beralih menjadi tempo yang lebih cepat, lebih agresif.

Aku menarik lebih keras, kali ini dengan kedua tangan, hingga otot leherku menegang. Rasa sakit yang tajam menusuk telingaku. Aku merintih. Di dalam pantulan cermin kecil di depanku, aku melihat sesuatu yang membuat darahku membeku.

Kabel hitam yang menjulur dari earcup itu tidak lagi sekadar bersandar di leherku. Kabel itu berdenyut. Ia melilit leherku dengan gerakan yang sangat lambat namun pasti, dan di pangkal earcup yang menempel di telingaku, aku melihat serat-serat hitam halus—seperti akar tanaman—mulai merayap keluar dari bantalan kulit, ma**k ke dalam pori-pori kulitku.

Aku mencoba berteriak, namun melodi biola di telingaku berubah menjadi nada tinggi yang melengking, merobek kesadaranku. Aku mencoba meraih ponsel untuk meminta bantuan, namun tanganku gemetar hebat. Musik itu kini bukan lagi terdengar 'di luar' telingaku, melainkan seolah-olah diproduksi dari dalam otakku sendiri.

Aku mencoba melepaskan paksa headset itu sekali lagi, menjambaknya dengan putus asa. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah aku mencoba merobek kulit kepalaku sendiri. Cairan hangat mulai mengalir dari sela-sela earcup, membasahi pipiku. Aku menyekanya dengan tangan yang gemetar dan melihat warna merah yang pekat.

Darah.

Di tengah kepanikan itu, musiknya berubah lagi. Instrumen klasik itu perlahan memudar, digantikan oleh suara statis yang kasar, dan dari balik suara statis itu, terdengar sebuah bisikan. Bukan bisikan digital, melainkan suara berat, parau, dan sangat tua yang berbicara langsung ke pusat kesadaranku.

*"Lagu ini belum selesai, Fajar... Kita baru saja mulai."*

Aku terengah-engah, mataku terbelalak menatap cermin. Di dalam pantulan itu, aku melihat bayanganku sendiri, namun ada sesuatu yang berbeda pada sorot mataku. Sesuatu yang dingin, tajam, dan penuh dengan kebencian yang telah lama membeku.

Aku ingin bergerak, ingin lari keluar kamar, namun kakiku tidak menurut. Tanganku yang tadinya gemetar hebat kini perlahan-lahan menjadi tenang, lalu dengan gerakan yang sangat halus—gerakan yang bukan milikku—ia mengambil sebilah cutter yang tergeletak di atas meja desain.

Musiknya terus berputar, semakin keras, semakin megah, menenggelamkan jeritan batinku yang tak berdaya. Playlist kematian itu telah dimulai, dan tombol 'pause' tidak pernah ada.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca