Dengung itu tidak pernah benar-benar hilang. Bahkan saat kelopak mataku memberat dan kesadaranku mulai terseret ke dalam palung tidur yang gelap, melodi biola yang melengking rendah itu tetap merayap di balik tempurung kepalaku. Kabel-kabel headset yang melilit leherku terasa hangat, hampir seperti sentuhan kulit manusia, berdenyut seirama dengan detak jantungku yang melambat.
Lalu, kegelapan kamarku memudar.
Aku tidak lagi berbaring di atas ka**r tipis kosanku yang berbau detergen murah. Udara di sekitarku mendadak berubah menjadi berat dan menyesakkan, sarat dengan aroma tembakau cerutu yang pekat, parfum mawar yang menyengat, dan bau alkohol ilegal yang tajam. Cahaya lampu gantung kristal yang remang-remang memantul pada lant** kayu yang dipoles meng***p.
Aku berada di sebuah aula dansa. *The Velvet Needle*, begitu papan nama neon di luar gedung tadi terbaca dalam benakku, meski aku tak ingat pernah ma**k ke sana.
Suara musik jazz meledak di sekelilingku. Terompet meraung-raung, sinkopasi piano yang g***, dan betotan kontrabas yang menggetarkan dada. Orang-orang mengenakan setelan jas tuksedo dan gaun flapper yang berkilauan, bergerak mengikuti irama musik yang cepat. Namun, ada yang salah dengan wajah-wajah mereka. Fitur wajah mereka tampak kabur, seperti foto lama yang terpapar cahaya terlalu lama.
Tangankuβatau tangan siapa pun yang sedang kupinjam saat iniβmerogoh saku dalam mantel panjang berbahan wol. Jariku menyentuh permukaan dingin dari gagang logam yang diukir halus.
"Elias, kau terlambat," sebuah suara berat berbisik di dekat telingaku.
Aku menoleh. Seorang pria bertubuh tegap dengan kumis tipis yang dipangkas rapi berdiri di sampingku, menyesap segelas gin. Ia tidak melihatku; ia melihat ke arah panggung, ke arah seorang penyanyi wanita yang sedang meratap di depan mikrofon perak besar.
"Dia sudah menunggu di ruang ganti belakang," lanjut pria itu tanpa ekspresi. "Pastikan melodi ini tidak terputus, Elias. Kau tahu betapa dia membenci keheningan."
Aku melangkah. Kakiku terasa ringan, namun setiap langkahku meninggalkan jejak yang berat dan pasti. Musik jazz itu mendadak melambat, berubah menjadi serangkaian nada disonan yang menyakitkan telinga. Di setiap sudut ruangan, aku bisa melihat bayangan hitam yang menggeliat, seolah-olah dinding-dinding itu sendiri bernapas.
Aku mendorong pintu kayu berat menuju lorong belakang yang gelap. Di sana, seorang wanita berdiri membelakangiku di depan cermin rias. Rambutnya ditata dalam gelombang klasik tahun 20-an. Saat aku mendekat, suara musik di telingaku berubah menjadi raungan statis yang m****akkan, bercampur dengan tawa dingin yang bukan milikku.
Tanganku bergerak sendiri. Logam dingin itu keluar dari saku. Pisau lipat dengan bilah yang berkilau di bawah lampu bohlam kuning.
Wanita itu berbalik. Matanya melebar, bukan karena terkejut, melainkan karena pengakuan. "Elias," bisiknya, suaranya terdengar seperti gesekan ampelas di atas kayu kering. "Kau akhirnya membawakan bagian penutupnya."
Aku ingin berteriak. Aku ingin memberitahunya bahwa aku bukan Elias, bahwa aku hanyalah Fajar, seorang mahasiswa yang hanya ingin mendengarkan musik dengan kualitas audio yang bagus. Namun, lidahku kelu. Tubuhku bergerak maju dengan presisi yang mematikan. Saat bilah itu terayun menuju leher jenjang wanita itu, musik di kepalaku mencapai klimaks yang memuakkanβsuara jeritan yang diubah menjadi nada biola yang tinggi.
*Crat!*
Sensasi hangat dan anyir menyemprot wajahku. Aku bisa merasakan detak jantung terakhir wanita itu melalui gagang pisau yang kugenggam.
"C**up, Elias," sebuah suara bergema di dalam kepalaku. Bukan suara di dalam mimpi, melainkan suara yang datang dari kabel yang merayap di bawah kulitku. "Lagu ini sudah selesai."
Aku tersentak bangun.
Napas kuterengah-engah, memburu oksigen seolah-olah aku baru saja tenggelam dalam lumpur. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku, membuat kaos yang kukenakan melekat erat di kulit. Jantungku berpacu, menghantam tulang rusukku dengan ritme yang kacau.
Aku masih di kamarku. Gelap. Hanya ada cahaya rembulan yang ma**k melalui celah gorden, membasahi lant** dengan warna perak yang pucat. Telingaku berdenging hebat, sisa dari melodi g*** di dalam mimpi tadi.
Aku mencoba mengusap wajahku, namun tanganku terasa aneh. Berat. Dan dingin.
Mataku perlahan menyesuaikan diri dengan kegelapan. Aku melihat ke bawah, ke arah tangan kananku. Jemariku mencengkeram sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana. Cahaya bulan memantul pada bilah besi yang panjang dan tajam.
Itu pisau dapur milikku. Pisau yang biasanya tersimpan rapi di rak kayu kecil di samping kompor listrikku.
Bagaimana benda ini bisa ada di tanganku? Aku tidak ingat bangun dari tempat tidur. Aku tidak ingat berjalan ke dapur yang jaraknya hanya lima langkah dari ranjangku.
Aku mencoba melepaskannya, namun jemariku terasa kaku, seolah-olah otot-ototku menolak untuk patuh. Kepalaku berdenyut hebat. Saat itulah aku menyadarinyaβsensasi geli yang menjalar dari telingaku.
Aku meraba pinggiran headset yang masih menempel erat di kepalaku. Kabelnya tidak lagi sekadar melilit; kabel itu tampak lebih pendek, lebih kencang. Dengan ngeri, aku menyentuh area di belakang telingaku. Kulit di sana terasa bengkak dan kasar. Saat jemariku menelusuri jalurnya, aku menyadari bahwa kabel plastik hitam itu tidak lagi berada di permukaan kulit. Ia ma**k ke dalam, menembus dermis, menyatu dengan pembuluh darah yang berdenyut di leherku.
"Fajar..."
Suara itu sangat pelan, hampir menyerupai desis statis dari radio tua. Itu bukan suara dari luar. Itu berasal dari dalam tempurung kepalaku, merambat melalui tulang rahangku.
"Fajar, lihat ke pintu."
Aku membeku. Perlahan, aku mengalihkan pandanganku ke arah pintu kamar kosku yang tertutup rapat. Di bawah celah pintu, aku melihat bayangan seseorang yang berdiri di luar. Seseorang yang diam, namun kehadirannya terasa seperti tekanan udara yang mendadak anjlok.
Lalu, terdengar suara ketukan. Tiga kali. Lambat dan berirama.
*Tok. Tok. Tok.*
Sama persis dengan ketukan pintu ruang ganti di mimpiku tadi.
Aku menunduk menatap pisau di tanganku. Kilat di bilahnya menunjukkan pantulan mataku sendiri, namun di balik pupilku yang melebar, aku bersumpah aku melihat bayangan seorang pria dengan mantel wol dan topi fedora, tersenyum tipis sambil memegang pisau yang sama.
Tanganku yang memegang pisau mulai terangkat perlahan, sepenuhnya di luar kendaliku, sementara musik jazz yang distorsi mulai bermain kembali di dalam telingaku, lebih keras dari sebelumnya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!