Symphony of the Scourge: Playlist Tanpa Henti

Bab 5: Bab 5 - Pergi ke dokter untuk meminta bantuan melepaska...

Pengaturan Membaca

Lant** rumah sakit yang dingin dan beraroma karbol tajam biasanya memberikan ketenangan semu bagi orang sakit, namun bagi Fajar, setiap langkah di koridor ini terasa seperti berjalan menuju tiang gantungan. Di balik tudung *hoodie* hitamnya yang ditarik rapat, simfoni biola gubahan Elias Thorne mengalun semakin kencang, seolah-olah sang konduktor hantu itu sedang merayakan penderitaannya.

Fajar meremas jemarinya yang gemetar. Di bawah kulit telinganya, ia bisa merasakan kabel-kabel tembaga itu berdenyut—seirama dengan detak jantungnya, namun dengan frekuensi yang lebih gelap. Ia merasa seperti membawa bom waktu yang terbungkus plastik dan busa *earcup* usang.

"Saudara Fajar?" suara perawat memecah lamunan traumatisnya.

Fajar berdiri dengan kaku. Ia ma**k ke ruangan dr. Aris, seorang spesialis bedah saraf senior yang wajahnya tampak sekeras beton. Fajar duduk, menghindari kontak mata, sementara musik di kepalanya berubah menjadi tempo *presto* yang liar.

"Jadi," dr. Aris membuka catatan medis di layarnya, "keluhannya adalah... alat pendengar yang tidak bisa dilepas?" Ia mengangkat kacamata, menatap Fajar dengan dahi berkerut. "Kamu sedang bercanda, Nak? Ini bukan klinik reparasi barang elektronik."

Fajar tidak menjawab. Dengan tangan gemetar, ia menurunkan tudung *hoodie*-nya. Dr. Aris terdiam. Matanya membelalak saat melihat bagaimana pinggiran plastik hitam headset itu tampak tenggelam ke dalam kulit di sekitar pelipis Fajar. Kulit di sana meradang, berwarna ungu kebiruan, dengan urat-urat menonjol yang polanya terlalu simetris untuk disebut alami.

"Saya sudah mencobanya, Dok," bisik Fajar, suaranya parau. "Ayah saya mencoba menariknya dengan tang. Tapi... semakin ditarik, dia semakin ma**k."

Dr. Aris bangkit, mengenakan sarung tangan lateks, dan mendekat. Saat jemari dokter itu menyentuh pinggiran headset, Fajar m****ik. Bukan karena rasa sakit fisik belaka, tapi karena saat itu juga, melodi biola itu berubah menjadi jeritan statis yang menyiksa, seolah benda itu menolak disentuh oleh tangan asing.

"Ini... ini tidak ma**k akal," gumam dr. Aris. Ia mencoba menyelipkan spatula bedah kecil di antara kulit dan plastik, namun alat itu justru tertahan oleh sesuatu yang keras di dalam daging Fajar. "Kita perlu foto rontgen sekarang juga. Suster!"

Tiga puluh menit kemudian adalah waktu yang paling sunyi sekaligus paling bising dalam hidup Fajar. Di dalam ruang radiologi yang dingin, ia berbaring diam sementara mesin X-ray berdengung di atas kepalanya. Di telinganya, suara Elias Thorne berbisik, *“Jangan biarkan mereka memisahkan kita, Fajar. Kita adalah karya agung yang belum selesai.”*

Fajar memejamkan mata rapat-rapat hingga air mata merembes keluar. "Pergi... pergi dari kepalaku," bisiknya tanpa suara.

Ketika dr. Aris memanggilnya kembali ke ruang konsultasi, wajah dokter itu tidak lagi keras. Wajahnya pucat pasi, tangannya memegang hasil cetakan film X-ray dengan gemetar yang tak bisa disembunyikan. Ia menempelkan film itu ke kotak lampu (lightbox).

Fajar merasa jantungnya berhenti berdetak saat melihat gambar hitam-putih tengkoraknya sendiri.

Itu bukan sekadar headset. Di dalam gambar itu, kabel-kabel tembaga yang seharusnya berada di luar, telah berubah menjadi ribuan serat halus menyerupai akar pohon yang merambat ma**k melalui lubang telinga. Serat-serat itu menembus tulang pelipis, menjalar dengan presisi yang mengerikan, dan berkumpul di satu titik yang paling vital.

"Ini mustahil," suara dr. Aris nyaris hilang. "Serat tembaga ini... mereka sudah bermigrasi melampaui saluran telinga tengah. Mereka telah melilit batang otakmu, Fajar. Batang otak. Pusat dari seluruh fungsi hidupmu."

Fajar menatap layar itu dengan ngeri. Ia melihat bayangan putih kawat-kawat itu membentuk jaring laba-laba yang mencekik medula oblongata-nya.

"Dok, tolong," isak Fajar. "Potong saja. Lakukan operasi. Saya tidak peduli jika saya harus tuli, asal benda ini hilang!"

Dr. Aris menggelengkan kepala perlahan, mundur selangkah seolah-olah Fajar adalah spesimen yang terkutuk. "Saya tidak bisa, Fajar. Jika saya memotong satu saja dari serat ini, sistem saraf otonommu akan lumpuh. Jantungmu akan berhenti berdetak, paru-parumu akan lupa cara bernapas. Melakukan operasi ini sama saja dengan melakukan eksekusi mati di meja bedah."

"Tapi saya akan mati jika benda ini tetap di sini!" seru Fajar, suaranya naik satu oktav, bersaing dengan volume musik yang tiba-tiba melonjak drastis.

"Risikonya seratus persen kematian, Fajar. Tidak ada rumah sakit di dunia ini yang akan menyetujui prosedur ini," dr. Aris melepaskan kacamatanya, memijat pangkal hidung dengan lelah. "Secara medis... kamu sudah bukan lagi hanya seorang manusia. Kamu adalah inang bagi sesuatu yang tidak saya mengerti."

Fajar bangkit berdiri, kursi yang didudukinya terlempar ke belakang hingga menghantam dinding. Kepalanya terasa berat, seolah-olah Elias Thorne sedang menekan pusat kesadarannya dengan sepatu bot berlapis besi. Musik itu kini bukan lagi biola, melainkan suara dentuman piano yang kacau, memicu amarah yang bukan miliknya.

"Jadi Dokter membiarkan saya membusuk dengan musik ini?" Fajar mendekat, matanya yang biasanya redup kini berkilat dengan keg***an yang asing.

"Fajar, tenanglah—"

Tiba-tiba, tangan Fajar bergerak sendiri. Bukan karena kehendaknya, melainkan karena otot-otot lengannya ditarik oleh 'kabel' yang kini telah mengendalikan motorik tubuhnya. Ia menyambar gunting bedah di atas meja dr. Aris dengan kecepatan yang tidak manusiawi.

"Fajar! Apa yang kamu lakukan?" teriak sang dokter.

Fajar menatap tangannya sendiri yang memegang gunting itu dengan ngeri. Ia ingin melepaskannya, tapi jemarinya mengunci rapat. Di telinganya, melodi itu mencapai klimaks yang megah. Elias Thorne tertawa, sebuah tawa yang bergema dari masa lalu yang berdarah.

*“Dia ingin menghentikan musiknya, Fajar,”* bisikan itu kembali, dingin dan tajam. *“Beri dia alasan untuk diam.”*

Fajar berjuang melawan tubuhnya sendiri, keringat dingin mengucur deras. "Dok... lari..." rintihnya di sela gigi yang terkatup rapat. Namun, kakinya justru melangkah maju, menutup pintu ruangan dokter dan menguncinya dari dalam.

Musik itu menolak untuk berhenti, dan playlist kematian baru saja memulai lagu berikutnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca