Rasa berdenyut di bawah kulit telingaku kini bukan lagi sekadar gangguan pelan, melainkan detak jantung kedua yang menuntut perhatian penuh. Setiap kali melodi biola dari headset itu mencapai nada tinggi yang melengking, kabel hitam yang melingkar di leherku terasa seperti urat nadi yang hidup, memompa sesuatu yang lebih kental dan lebih dingin daripada darah ke dalam otakku.
Aku mencengkeram kemudi mobil tuaku dengan buku jari yang memutih. Keringat dingin mengucur dari pelipis, membasahi kerah kaus yang sudah lembap. Aku harus menemukan toko itu. Pria tua dengan mata keruh dan bau kayu lapuk itu harus bertanggung jawab. Dia harus melepaskan benda ini dariku sebelum suara pria lainβsuara yang terdengar seperti gesekan pisau di atas beludruβmengambil alih pikiranku sepenuhnya.
"Tinggal satu belokan lagi," bisikku pada diri sendiri, suaraku parau dan asing di telingaku sendiri.
Aku ingat betul jalannya. Jalanan pinggiran kota yang retak-retak, deretan pohon m***ni yang meranggas, dan sebuah papan reklame tua yang catnya sudah mengelupas hingga menyisakan seringai karatan. Toko barang antik itu berada tepat di pojok jalan, di antara bengkel las yang tutup dan gudang tua. Namanya *The Echoes of Time*. Nama yang sekarang terdengar seperti sebuah ejekan jahat.
Mobilku berderit saat aku menginjak rem dengan kasar. Jantungku berdegup kencang, seirama dengan tempo musik *waltz* yang m****akkan telinga di dalam kepalaku. Aku melompat keluar, mengabaikan pintu mobil yang masih terbuka lebar.
Namun, langkahku terhenti tepat di tepi trotoar yang hancur.
"Tidak... tidak mungkin," gumamku.
Di depanku, di tempat yang seharusnya berdiri sebuah bangunan batu bata tua dengan jendela etalase yang penuh debu, hanya ada sebuah lahan kosong. Tidak ada pintu kayu jati yang berat. Tidak ada aroma dupa dan kertas lama. Yang ada hanyalah hamparan tanah merah yang ditumbuhi rumput ilalang setinggi pinggang, beberapa tumpukan kayu busuk, dan pagar kawat berduri yang sudah reyot.
Aku berlari ke tengah lahan itu, kakiku tersandung bongkahan semen yang pecah. Aku berputar-putar, mataku membelalak liar mencari tanda-tanda keberadaan toko itu. "Di sini! Seharusnya di sini!" teriakku, suaraku tenggelam oleh simfoni megah yang hanya bisa kudengar sendiri.
Aku berlutut di tanah, meraba-raba permukaan bumi seolah-olah aku bisa menemukan fondasi bangunan yang tersembunyi. Namun, jemariku hanya menyentuh tanah yang dingin dan lembap. Pohon m***ni di belakangku bergoyang ditiup angin, mengeluarkan suara gemerisik yang seolah menertawakan keputusasaanku.
Lahan ini sudah ditinggalkan selama bertahun-tahun. Karat pada pagar kawat itu menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang ma**k ke sini dalam satu dekade terakhir. Tapi aku baru di sini dua hari yang lalu! Aku memegang kuitansi pembelian di sakuku, kertas kumal yang terasa nyata di jemariku. Aku merogoh saku, menarik keluar secarik kertas kecil itu dengan tangan gemetar.
Kertas itu kosong. Tidak ada tinta, tidak ada stempel, hanya selembar perkamen tua yang tampak seperti kulit manusia yang mengering.
"Kau mencari apa, Nak?"
Sebuah suara serak mengejutkanku. Aku berbalik dengan cepat, hampir kehilangan keseimbangan. Seorang pria tua dengan pakaian lusuh, mungkin seorang pemulung, berdiri di tepi jalan sambil memandangi aku dengan tatapan curiga.
"Tokonya," kataku terengah-engah, menunjuk ke lahan kosong itu. "Toko barang antik. *The Echoes of Time*. Pemiliknya seorang pria tua dengan kacamata bulat. Di mana dia?"
Pria tua itu mengernyitkan dahi, lalu meludah ke samping. "Toko? Tidak ada toko di sini sejak aku tinggal di daerah ini, dan itu sudah lima belas tahun yang lalu. Lahan ini bekas gudang tekstil yang terbakar habis tahun sembilan puluhan. Orang-orang bilang tempat ini terkutuk, jadi tidak ada yang berani membangun apa pun di atasnya."
Duniaku serasa berputar. "Itu tidak mungkin. Saya membeli ini..." Aku menyentuh headset di kepalaku, mencoba menunjukkan padanya, tapi tanganku terhenti di udara.
Pria itu menatapku dengan tatapan ngeri. "Membeli apa? Kau tidak memakai apa-apa di kepalamu, Nak. Tapi telingamu..." Dia mundur selangkah, wajahnya memucat. "Telingamu berdarah."
Aku meraba telingaku. Cairan hangat dan kental mengalir di jariku. Bukan darah merah segar, melainkan cairan hitam pekat yang berbau seperti tembaga dan kematian. Dan saat itulah, musik di kepalaku berhenti mendadak. Kesunyian yang tercipta jauh lebih menakutkan daripada melodi apa pun.
Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menghantam pangkal tengkorakku. Aku terjatuh dengan tangan dan lutut menumpu tanah. Penglihatanku mulai mengabur, digantikan oleh bayangan hitam putih seperti film tua yang bergetar. Aku melihat diriku sendiri, tapi bukan dari mataku. Aku melihat seorang pria tinggi dengan setelan jas formal tahun 1920-an, berdiri di sebuah ruangan mewah yang remang-remang, memegang sebuah pisau bedah yang berkilau di bawah cahaya lampu gas.
*"Jangan melawan, Fajar,"* suara itu muncul lagi, kali ini bukan dari headset, tapi dari dalam dadaku sendiri. Suara Elias Thorne. *"Toko itu hanyalah pintu ma**k. Dan pintunya sudah tertutup di belakangmu."*
Aku mencoba berteriak, tapi otot rahangku mengeras seolah-olah dikendalikan oleh benang-benang yang tak terlihat. Tangan kananku, di luar kehendakku, mulai bergerak menuju saku jaket. Jemariku meraba sesuatu yang tajam di sanaβsebuah alat grafis yang biasanya kugunakan untuk memotong kertas, tapi sekarang terasa seperti senjata yang haus darah.
Pria tua pemulung itu masih berdiri di sana, menatapku dengan cemas. "Nak? Kau baik-baik saja? Perlu kupanggilkan ambulans?"
Dia mulai melangkah mendekat, berniat menolong.
Di dalam kepalaku, simfoni itu kembali meledak. Kali ini lebih keras, lebih cepat, sebuah *staccato* yang memacu adrenalin. Aku bisa merasakan sudut bibirku terangkat, membentuk sebuah seringai yang bukan milikku. Aku ingin menyuruh pria itu lari, ingin memintanya pergi sejauh mungkin, tapi lidahku kelu.
"Kau punya suara yang bagus untuk bagian tenor, Pak Tua," ucap mulutku, namun suara yang keluar adalah bariton dingin yang berwibawa, suara dari masa lalu yang haus akan nyawa.
Saat tanganku mulai terangkat dengan pisau kecil itu, aku menyadari satu hal yang mengerikan: aku tidak lagi berada di kursi penonton. Aku sekarang adalah instrumen yang sedang dimainkan. Dan pertunjukan berdarah ini baru saja dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!