Dengung statis itu bukan lagi sekadar gangguan teknis. Ia telah menjelma menjadi detak jantung kedua yang berdenyut di bawah kulit pelipisku. Setiap kali aku mencoba menyelipkan ujung jari di antara bantalan kulit headset dan telingaku, rasa sakit yang tajam—seperti sayatan sembilu yang dialiri listrik—langsung menyengat saraf pusatku. Kabel hitam yang menjunt** itu kini tidak lagi terasa seperti plastik dingin; ia hangat, berdenyut, dan jika aku berkaca c**up lama, aku bisa melihat gurat keunguan merambat dari rahangku menuju leher, seolah-olah ada akar parasit yang sedang mencari jalan menuju jantung.
Musik yang mengalun saat ini adalah simfoni gesekan biola yang melankolis, namun ada sesuatu yang salah dengan frekuensinya. Nadanya terlalu tajam, seolah-olah busur biolanya tidak digesekkan pada senar, melainkan pada saraf te*******.
*“Kau terlalu lama berdiam diri di kamar yang apek ini, Nak,”*
Aku tersentak. Aku menoleh ke sekeliling kamar kosku yang berantakan, mencari sumber suara itu. Tidak ada siapa-siapa. Ponselku tergeletak mati di atas ka**r, namun musik tetap mengalir deras ke telingaku.
*“Dunia di luar sana sudah banyak berubah, tapi aromanya tetap sama... aroma ketakutan yang ranum,”* suara itu muncul lagi, terselip di antara lirik lagu jazz tua yang mendadak berubah liriknya. Suara itu berat, serak, dengan aksen formal yang kaku, mengingatkanku pada rekaman-rekaman dari masa lalu yang berderak.
"Siapa kau?" bisikku dengan suara gemetar. Tenggorokanku terasa kering seperti baru menelan pasir.
*“Namaku adalah gema yang kau undang,”* musik itu melambat, berubah menjadi dentuman piano yang berat. *“Elias Thorne. Dan aku bosan melihat tumpukan baju kotor dan dinding pucatmu. Kita butuh panggung yang lebih besar. Kita butuh... kerumunan.”*
"Keluar dari kepalaku!" teriakku, tanganku secara refleks menjambak rambutku sendiri. "Lepaskan headset si**** ini!"
Aku berlari ke arah cermin di atas meja rias kecilku. Mataku merah, dikelilingi lingkaran hitam karena kurang tidur. Namun, yang membuatku nyaris muntah adalah pemandangan di area telingaku. Kabel headset itu tidak lagi sekadar menempel; kulitku telah tumbuh menyelimuti bagian konektornya. Mereka menyatu dalam sebuah simbiosis yang mengerikan.
*“Jangan melawan, Fajar. Semakin kau menarik, semakin dalam aku mencengkeram. Aku bisa merasakan setiap aliran darahmu, setiap keraguanmu. Sekarang, berdiri tegak. Pakai jaketmu. Kita akan pergi ke Mal Grand Nusantara.”*
"Tidak. Aku tidak mau ke mana-mana," kataku tegas, meski kakiku mulai gemetar hebat.
Tiba-tiba, musik di telingaku berubah menjadi pekikan nada tinggi yang menyakitkan. Kepalaku terasa seperti sedang dihantam palu godam berkali-kali. Aku jatuh tersungkur di lant**, mengerang sambil memegangi kepalaku.
*“Aku tidak meminta, Nak. Aku memerintah,”* suara Elias Thorne kini terdengar sangat dekat, seolah-olah dia berdiri tepat di belakang punggungku, membisikkan kata-kata itu langsung ke lubang telinga. *“Pergi sekarang, atau aku akan membuatmu merasakan bagaimana rasanya saraf pendengaran yang meledak satu per satu.”*
Rasa sakit itu tak tertahankan. Seolah-olah ada ribuan jarum panas yang ditusukkan ke dalam otakkku. Tanpa sadar, tanganku bergerak sendiri. Seperti digerakkan oleh benang-benang tak kasat mata, tubuhku bangkit berdiri. Aku menyaksikan dengan horor bagaimana tanganku menyambar jaket hoodie hitam di kursi, lalu memakainya untuk menutupi headset yang kini menjadi bagian dari anatomi tubuhku.
Aku mencoba menahan langkahku di ambang pintu, mencengkeram kusen kayu hingga kuku-kukuku memutih. Namun, kakiku terus melangkah maju dengan ritme yang asing—langkah yang tegap, elegan, dan penuh percaya diri. Itu bukan caraku berjalan. Itu adalah cara berjalan seorang predator.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanyaku dalam hati, berharap dia bisa mendengarnya tanpa aku harus bersuara.
*“Aku hanya merindukan suara riuh rendah manusia,”* lirik lagu di telingaku kini berubah menjadi senandung rendah yang membuat bulu kuduk berdiri. *“Dan aku butuh instrumen baru. Kau tahu, Fajar... musik terbaik diciptakan dari jeritan yang paling murni. Di tempat keramaian, tidak ada yang akan menyadari satu atau dua nyawa yang menghilang di balik kebisingan.”*
Aku dipaksa berjalan keluar dari gang kosku, menuju jalan raya yang masih sibuk oleh kendaraan malam. Cahaya lampu jalanan terasa menyilaukan, dan suara klakson terdengar seperti musik latar yang kacau bagi Elias. Aku merasa seperti penumpang di dalam tubuhku sendiri. Aku bisa melihat, aku bisa merasakan angin malam yang dingin menembus jaket, tapi kemudinya bukan lagi milikku.
Setiap kali aku mencoba mengambil alih kendali, denyut di pelipisku mengencang, mengingatkanku pada rasa sakit yang siap menghancurkan kesadaranku jika aku membangkang.
Kami tiba di depan Mal Grand Nusantara. Pusat perbelanjaan itu berkilauan dengan lampu neon dan dipenuhi oleh ratusan orang yang hilir mudik. Remaja yang tertawa, pasangan yang berpegangan tangan, keluarga yang sibuk dengan belanjaan mereka. Bagi mereka, ini adalah akhir pekan biasa. Bagiku, ini adalah ladang pembant**an yang sedang dipersiapkan.
*“Bagus... sangat bagus,”* suara Elias Thorne terdengar sangat puas, hampir seperti desahan nikmat. *“Begitu banyak detak jantung. Begitu banyak irama yang bisa kita hentikan.”*
Aku melangkah ma**k melewati sensor keamanan. Satpam di depan hanya mengangguk sopan, tak menyadari bahwa pemuda dengan hoodie di depannya ini membawa monster di dalam kepalanya. Musik di telingaku kini berganti menjadi melodi waltz yang megah namun penuh kegelapan.
*“Cari satu yang sendirian, Fajar,”* perintahnya, lirik lagu itu bergetar di dalam tengkorakku. *“Seseorang yang tidak akan dicari dalam satu jam ke depan. Kita harus mulai menyusun playlist malam ini.”*
Mataku—atau lebih tepatnya, mata *kami*—mulai memindai kerumunan dengan ketelitian seorang pemburu yang lapar. Di tengah keriuhan mal yang gemerlap, aku merasakan haus yang bukan milikku mulai membakar tenggorokanku. Tanganku meraba saku jaket, dan di sana, aku merasakan dinginnya sebuah benda logam kecil yang entah sejak kapan sudah ada di sana.
Elias tertawa pelan, sebuah suara yang bergema pahit di balik simfoni yang tak kunjung berhenti.
*“Target terkunci. Di dekat lift servis, Nak. Ayo, tunjukkan padaku betapa merdunya suara ketakutan mereka.”*
Aku hanya bisa menangis dalam diam saat kakiku mulai melangkah menuju bayang-bayang di sudut lorong, menjauh dari cahaya lampu menuju kegelapan yang telah menanti.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!