Dentuman bas itu tidak lagi terasa seperti getaran suara, melainkan seperti detak jantung raksasa yang memukul dinding tengkorakku. Setiap kali kabel headset gaming tua itu berdenyut, aku bisa merasakan urat-urat di leherku ikut menegang, seolah-olah tembaga di dalamnya telah bersenyawa dengan saraf-saraf motorikku. Musiknyaβsebuah komposisi jazz era 1920-an yang megah namun sumbangβmerambat ma**k, mencairkan kesadaranku menjadi genangan hitam yang pekat.
"Berhenti... kumohon, berhenti," bisikku, meskipun aku tahu suaraku hanya bergema di dalam ruang kosong pikiranku sendiri.
Pandanganku mulai mengabur. Kamar kostku yang berantakan perlahan-lahan melenyap, digantikan oleh kabut kelabu yang dingin. Aku mencoba menggerakkan jemariku untuk melepas paksa bando headset itu, tapi tanganku tidak menuruti perintahku. Sebaliknya, tangan itu justru terangkat perlahan, meraba tekstur kabel yang kini terasa seperti kulit manusia yang lembap. Kemudian, kegelapan itu datang. Bukan kegelapan tidur yang tenang, melainkan kegelapan yang penuh dengan suara tawa parau dan gesekan pisau pada batu asah.
Itu adalah *blackout* yang paling absolut. Seolah-olah seseorang telah mencabut kabel daya dari jiwaku dan membiarkanku melayang di ruang hampa.
Saat kesadaranku mulai kembali, hal pertama yang kusadari bukanlah cahaya, melainkan bau. Bau karat yang menyengat, bercampur dengan aroma sampah busuk dan air selokan yang menggenang. Aku mengerang, mencoba membuka kelopak mata yang terasa seberat timah. Pening yang luar biasa menghantam belakang kepalaku, seirama dengan melodi biola yang masih melengking halus di telingakuβsisa-sisa playlist yang tak pernah berakhir.
Aku terbaring di atas aspal yang kasar dan dingin. Cahaya lampu jalan yang remang-remang memantul di genangan air di depanku. Dengan gemetar, aku mendorong tubuhku untuk duduk. Seluruh sendiku terasa kaku, seolah-olah aku baru saja melakukan maraton atau perkelahian hebat.
"Di mana aku?" suaraku serak, hampir tak terdengar.
Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Aku berada di sebuah gang sempit yang diapit oleh dinding bata merah yang kusam dan penuh coretan grafiti. Ini bukan area dekat kostku. Pikiranku berputar, mencoba mengingat bagaimana aku bisa sampai di sini, namun memori itu terhapus bersih, menyisakan lubang besar yang menganga.
Lalu, aku melihat tanganku.
Di bawah remang cahaya kuning lampu merkuri, jemariku tidak lagi berwarna sawo matang pucat. Mereka terbungkus oleh sesuatu yang gelap, kental, dan lengket. Cairan itu meresap ke dalam kuku-kukuku, menjalar hingga ke pergelangan tangan. Aku menunduk melihat kaos abu-abu favoritku. Bagian depannya basah kuyup, memamerkan noda merah pekat yang mulai mengering dan menghitam di tepiannya.
Darah. Begitu banyak darah.
Jantungku mencelos, menghantam rusukku dengan keras. Aku meraba dadaku, mencari luka, mencari rasa sakit yang mungkin menjelaskan asal muasal cairan merah ini. Tapi aku tidak menemukan apa pun. Tidak ada robekan di kulitku. Tidak ada perih yang menandakan luka sayat.
Ini bukan darahku.
"Tidak... tidak mungkin," gumamku, napas mulai memburu dan pendek-pendek. Serangan panik mulai merayap naik ke tenggorokanku.
Aku bangkit berdiri dengan kaki yang goyah, bersandar pada dinding bata yang kasar untuk menjaga keseimbangan. Saat itulah, sebuah kilasan memori melintas sekejap mataβbukan memoriku, melainkan memori *dia*. Aku melihat sepasang tangan (tanganku sendiri, tapi dengan gerakan yang jauh lebih anggun dan presisi) memegang sebilah pisau lipat yang berkilau di bawah bulan. Aku melihat bayangan seseorang yang meringkuk di sudut gang ini, memohon dengan suara yang kini hanya terdengar seperti distorsi statis di telingaku.
Dan yang paling mengerikan adalah perasaan yang tertinggal: sebuah kepuasan yang dingin. Sebuah euforia yang berasal dari harmoni antara jeritan dan irama musik jazz di kepalaku.
"Elias..." desis kegelapan di sudut pikiranku.
Aku terhuyung mundur, mataku liar mencari korban yang mungkin tergeletak di sekitar sini. Di balik tumpukan kardus basah, beberapa meter dariku, aku melihat ujung sepatu kain yang menyembul. Warnanya putih, atau setidaknya dulu putih sebelum bersimbah noda merah yang sama dengan yang ada di bajuku.
Aku ingin mendekat, ingin memastikan, tapi kakiku justru membawaku lari ke arah yang berlawanan. Aku berlari keluar dari gang itu, mengabaikan rasa perih di otot-ototku. Setiap langkah yang kuambil terasa seperti dikomandoi oleh sisa-sisa ritme yang masih berdenyut di headset yang entah sejak kapan sudah melingkar kembali di leherku dengan tenang, seolah-olah benda itu tidak pernah melakukan kesalahan apa pun.
Aku terus berlari hingga mencapai jalan raya yang mulai sepi. Di sebuah kaca etalase toko yang gelap, aku berhenti sejenak untuk mengatur napas. Aku menatap pantulan diriku sendiri. Wajahku pucat pasi, mataku merah, dan ada cipratan darah di pipi kananku yang menyerupai tanda nada.
Namun, bukan itu yang membuatku membeku. Di dalam pantulan kaca itu, di belakang bayanganku sendiri, aku melihat sosok pria dengan setelan jas rapi tahun 1920-an dan topi fedora yang menutupi matanya. Ia berdiri tepat di belakangku, menyeringai tipis, sambil menyesuaikan posisi headset yang melingkar di leherku.
Ketika aku berkedip, sosok itu hilang. Namun, bisikan dingin merambat di telingaku, lebih jernih dari melodi mana pun yang pernah kudengar.
*"Pertunjukan baru saja dimulai, Fajar. Dan kau adalah instrumen terbaikku."*
Aku meraba saku celanaku dan menemukan sesuatu yang keras. Aku merogohnya dan menarik keluar sebuah dompet kulit wanita yang tak kukenali. Di dalamnya, ada kartu identitas seorang mahasiswi dari kampusku. Darah segar menetes dari sudut dompet itu, membasahi ujung sepatuku.
Tiba-tiba, suara sirene polisi memecah kesunyian malam dari kejauhan, semakin lama semakin mendekat ke arah gang tempat aku terbangun tadi. Kesadaranku tersentak; aku bukan lagi sekadar penonton. Aku adalah pemain utama dalam simfoni kematian ini, dan playlist-nya baru saja mema**ki lagu kedua.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!