Aroma tembaga yang kental menusuk indra penciuman Detektif Harris sesaat setelah ia melangkahi garis polisi kuning yang melintang di pintu ma**k apartemen tua itu. Di luar, hujan rintik-rintik membasahi aspal Jakarta yang tak pernah benar-benar bersih, tapi di dalam ruangan ini, udara terasa kering dan pengap, seolah-olah waktu telah berhenti berputar sejak beberapa dekade yang lalu.
Harris membetulkan letak kerah mantelnya yang lembap. Ia adalah pria berusia lima puluhan dengan kantung mata yang menceritakan ribuan jam tanpa tidur dan ribuan ka**s yang lebih suka ia lupakan. Namun, pemandangan di tengah ruangan itu membuat jemarinya yang memegang senter sedikit bergetar.
"Sama persis seperti yang di arsip, Pak," suara sersan muda di sampingnya, Andi, terdengar serak. Andi tampak pucat, tangannya menutupi mulut dengan saputangan.
Harris tidak menjawab. Ia melangkah mendekat, sepatunya berdecit di atas lant** kayu yang rapuh. Di tengah ruangan, seorang wanita muda terduduk kaku di sebuah kursi beludru merah yang tampak sangat kuno—mungkin dari era 1920-an. Wanita itu mengenakan gaun sutra putih yang kini basah oleh darah, tetapi bukan cara ia mati yang membuat bulu kuduk Harris berdiri.
Korban diposisikan sedemikian rupa hingga menyerupai seorang pemain cello yang sedang beraksi. Tangan kanannya memegang sebuah pisau bedah perak seolah itu adalah penggesek alat musik, sementara tangan kirinya mencengkeram lehernya sendiri yang sudah terkoyak dengan presisi bedah yang mengerikan. Sayatan di tenggorokannya tidak sembarangan; luka itu menganga membentuk pola yang menyerupai lubang-F pada instrumen dawai.
"Elias Thorne," gumam Harris pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin yang menyusup dari celah jendela.
"Maaf, Pak?" tanya Andi bingung.
"Sang Konduktor Mayat," Harris menoleh ke arah asistennya dengan tatapan kosong. "Itu julukannya di tahun 1926. Dia tidak hanya membunuh; dia 'menggubah' korbannya. Pola sayatan ini, sudut kemiringan kepala korban, bahkan penataan jari-jarinya... ini bukan sekadar peniruan. Ini adalah replika yang sempurna. Terlalu sempurna."
Harris berjongkok di samping mayat itu, menyinari area lant** dengan senter LED-nya. Ia mencari sesuatu yang aneh, sesuatu yang tidak selaras dengan kemegahan kematian yang dipentaskan ini. Di sudut mata, ia menangkap kilatan sesuatu di atas meja kayu di dekat korban.
Sebuah piringan hitam tua berputar tanpa suara di atas gramofon yang terlihat masih berfungsi, meski tidak ada jarum yang menyentuh permukaannya. Seolah-olah musiknya hanya bisa didengar oleh mereka yang sudah mati.
"Tim forensik sudah selesai menyisir?" tanya Harris tanpa mengalihkan pandangan dari gramofon itu.
"Hampir, Pak. Mereka menemukan beberapa jejak di ambang jendela dan di sekitar meja ini," jawab Andi sambil menyerahkan sebuah tablet digital berisi laporan awal. "Tapi ada yang aneh. Lokasi ini bersih dari sidik jari korban—si pembunuh nampaknya menggunakan sarung tangan kain yang sangat halus. Tapi..."
"Tapi?" Harris menaikkan alisnya, merasakan firasat buruk mulai merayap di tulang belakangnya.
Andi menelan ludah, jarinya menggeser layar tablet untuk menunjukkan sebuah foto makro hasil pemindaian serbuk sidik jari. "Kami menemukan satu set sidik jari yang tertinggal di gagang gramofon itu. Si pelaku tampaknya sempat melepas sarung tangannya atau mungkin dia tidak sengaja menyentuhnya saat mencoba menyalakan alat itu."
Harris mengambil tablet tersebut, matanya menyipit membaca data yang keluar dari sistem identifikasi pusat. Ia mengharapkan nama seorang residivis, seorang psikopat tua, atau mungkin seseorang yang memiliki sejarah panjang dengan gangguan jiwa.
Namun, nama yang muncul di layar sama sekali tidak sesuai dengan bayangannya tentang seorang monster yang mampu melakukan kekejaman seartistik ini.
"Fajar...?" Harris mengeja nama itu dengan nada tidak percaya. "Fajar Pratama. Usia dua puluh dua tahun. Mahasiswa Desain Grafis."
"Tidak ada catatan kriminal, Pak," tambah Andi, suaranya kini dipenuhi keraguan. "Dia tinggal di sebuah kos-kosan tidak jauh dari kampus. Tetangganya bilang dia anak yang pendiam, introvert, tipe orang yang bahkan tidak akan berani memukul lalat."
Harris menatap foto profil Fajar yang muncul di layar. Wajah pemuda itu terlihat polos, sedikit lesu dengan lingkaran hitam di bawah mata—tipikal mahasiswa yang terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar komputer. Namun, ada sesuatu di mata pemuda itu dalam foto tersebut, sebuah kekosongan yang entah mengapa membuat Harris merasa tidak nyaman.
"Mahasiswa desain?" Harris berdiri, kembali menatap mahakarya berdarah di depannya. "Bagaimana mungkin seorang bocah dua puluh dua tahun bisa mengetahui teknik bedah Elias Thorne yang bahkan dirahasiakan dari publik selama satu abad? Teknik ini hanya ada di dalam berkas ka**s yang terkunci di gudang arsip kepolisian pusat."
Harris berjalan mengitari mayat itu sekali lagi, mencoba menemukan logika di tengah keg***an ini. Pikirannya berpacu. Jika Fajar adalah pelakunya, bagaimana ia melakukannya tanpa meninggalkan jejak lain? Bagaimana ia bisa memiliki kekuatan untuk mengatur adegan seberat ini sendirian?
Tiba-tiba, Harris menyadari sesuatu. Ia mendekatkan telinganya ke arah tubuh korban. Untuk sesaat, di tengah keheningan ruangan yang mencekam itu, ia merasa seolah mendengar sayup-sayup melodi orkestra. Itu bukan suara dari luar, melainkan suara yang seolah bergetar dari dalam tulang-tulang korban itu sendiri. Sebuah frekuensi tinggi yang menyakitkan, berdenyut selaras dengan detak jantungnya sendiri yang mulai berpacu.
Harris tersentak mundur, tangannya secara refleks memegang telinganya.
"Pak? Anda baik-baik saja?" Andi tampak khawatir.
Harris menggelengkan kepala, mencoba mengusir denging aneh itu. "Perintahkan tim penangkap sekarang juga. Kita jemput Fajar Pratama di kediamannya."
"Tapi Pak, sidik jari itu bisa saja..."
"Andi," potong Harris dengan suara rendah yang tegas. "Sidik jari itu ditemukan di benda yang tidak mungkin disentuh oleh sembarang orang di lokasi ini. Dan perhatikan posisi mayat ini baik-baik. Ini bukan sekadar pembunuhan. Ini adalah sebuah pertunjukan. Dan jika Fajar adalah konduktornya, kita harus menghentikannya sebelum dia memulai lagu berikutnya."
Harris melangkah keluar dari apartemen itu, membiarkan kilatan lampu strobo polisi yang berwarna biru dan merah menyinari wajahnya yang pucat. Di kepalanya, melodi asing itu masih enggan pergi, seolah-olah sebuah playlist yang rusak sedang berputar tanpa henti, menuntut sebuah akhir yang lebih berdarah.
Di dalam saku mantelnya, ponsel Harris bergetar. Sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak dikenal. Isinya hanya satu baris kalimat pendek dalam bahasa Latin yang sering ia lihat di catatan lama ka**s Elias Thorne:
*“Musica est anima mundi, sed silentium est mors.”* (Musik adalah jiwa dunia, tapi kesunyian adalah kematian).
Harris meremas ponselnya. Ia tahu, perburuan ini baru saja dimulai, dan apa yang ia hadapi mungkin bukan sekadar manusia biasa, melainkan sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih haus darah yang kini bersembunyi di balik wajah seorang mahasiswa biasa.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!