Lampu neon di langit-langit kantor pusat *DataSphere* berpendar pucat, memantul di permukaan meja kaca yang steril. Di hadapanku, tiga layar monitor menampilkan tarian baris kode dan grafik fluktuasi yang bagi kebanyakan orang terlihat seperti benang kusut, tetapi bagiku adalah bahasa paling jujur di dunia. Angka tidak pernah berbohong. Angka tidak memiliki suasana hati yang buruk, dan angka tidak akan meninggalkanmu hanya karena merasa "percikan cintanya sudah hilang."
Aku menyesap kopi hitamku yang sudah mendingin, membiarkan rasa pahitnya menekan rasa kantuk yang mulai menyerang. Di tengah keheningan ruang divisi analisis, sebuah notifikasi muncul di layar tengah, ditandai dengan ikon berwarna ungu ametis yang elegan.
*Ametis: Versi Beta 0.1 β Siap untuk Pengujian Internal.*
Ini dia. Mahakarya perusahaan kami. Sebuah algoritma kencan yang diklaim mampu memetakan takdir manusia melalui sekuens DNA dan jejak digital. Tim pengembang sesumbar bahwa mereka telah berhasil mengeliminasi faktor "ketidakteraturan manusia" hingga menyisakan ruang galat hanya sebesar 0,1%.
"Masih mencoba mencari celah untuk menghancurkan kerja keras departemen pengembang, Livia?"
Suara bariton yang berat dan penuh percaya diri itu membuat jemariku membeku di atas keyboard. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di ambang pintu bilikku. Aroma parfum *sandalwood* yang mahal dan aura arogansi yang kental sudah lebih dulu memenuhi ruangan.
Adrian Dirgantara. Senior Data Scientist sekaligus rival abadi yang sepertinya didesain semesta hanya untuk menguji kesabaranku.
"Aku hanya sedang melakukan tugasku, Adrian," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Validasi data adalah kunci. Kau tentu tahu, klaim 99,9% akurasi terdengar lebih seperti takhayul daripada sains jika kita tidak membedah metodenya."
Aku mendengar langkah kakinya mendekat. Adrian bersandar di pinggiran mejaku, melipat lengan di depan dada. Kemeja putihnya yang disetrika sempurna tampak kontras dengan penampilanku yang sedikit berantakan setelah lembur sepuluh jam.
"Takhayul?" Adrian terkekeh, suara yang selalu berhasil membuat saraf di pelipis merahku berdenyut. "Kau hanya takut, Liv. Kau takut karena algoritma ini membuktikan bahwa cintaβsesuatu yang selama ini kau anggap sebagai variabel acak yang tidak ma**k akalβternyata bisa diprediksi secara matematis."
Aku berputar di kursi kerjaku, menatapnya tajam. "Cinta adalah reaksi kimia jangka pendek yang diikuti oleh serangkaian keputusan emosional yang sering kali irasional. Mencoba mema**kkannya ke dalam rumus biner adalah bentuk kenaifan yang luar biasa."
Adrian mencondongkan tubuh, senyum miring tersungging di wajahnya yang terlalu simetris untuk ukuran seorang pria yang menghabiskan waktunya di depan komputer. "Atau mungkin, kau skeptis karena kau tidak punya c**up data untuk memahaminya? Berapa lama kau sudah naksir Leo? Sejak sekolah dasar? Dua puluh tahun tanpa progres?"
Darahku berdesir naik ke wajah. Bagaimana dia bisa tahu? Oh, tentu saja. Adrian adalah seorang predator data. Dia mungkin sudah membaca log pesanku atau menganalisis frekuensi interaksiku dengan Leo di media sosial.
"Leo adalah sahabatku. Hubungan kami didasarkan pada loyalitas, bukan sekadar algoritma konyolmu," desisku.
"Loyalitas hanyalah kata lain untuk ketakutan akan perubahan," balas Adrian sant**. Dia menegakkan tubuh, lalu mengetuk layar monitorku dengan ujung jari telunjuknya. "Besok adalah peluncuran internal. Semua staf diwajibkan mengunggah profil dan data kesehatan mereka ke Ametis untuk uji kecocokan. Aku tidak sabar melihat hasilmu. Bayangkan jika aplikasi ini menemukan bahwa belahan jiwamu adalah seseorang yang sangat kau benci."
"Kemungkinannya nol persen," kataku tegas.
"Dalam statistik, tidak pernah ada yang benar-benar nol, Livia. Kau seharusnya tahu itu." Adrian mengedipkan sebelah mata sebelum berbalik pergi, meninggalkan aroma parfumnya yang masih tertinggal di udara seperti sebuah tantangan yang menghina.
Aku kembali menatap layar, ke arah logo Ametis yang terus berkedip. Hatiku berdegup sedikit lebih kencang, sebuah variabel fisik yang sangat kubenci karena sulit dikendalikan. Di dalam kepalaku, aku sudah mulai membayangkan hasilnya. Jika Ametis memang seakurat yang mereka katakan, maka besok aplikasi itu akan menampilkan namaku bersandingan dengan nama Leo. Itulah satu-satunya hasil yang logis. Leo adalah sosok yang kukenal luar dalam, pria yang selalu ada untukku, dan satu-satunya orang yang membuatku merasa angka-angka di layar ini tidak lagi penting.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadaku. Besok, aku akan membuktikan pada Adrian bahwa sains mendukung perasaanku. Aku akan membuktikan bahwa 99,9% itu adalah milikku dan Leo.
Namun, saat aku mulai mengunggah data pribadiku ke dalam server, sebuah peringatan kecil muncul di sudut layar. Sebuah pesan *error* singkat yang hanya muncul selama satu milidetik sebelum hilang ditelan proses enkripsi.
*Error 0.1%: Anomaly Detected.*
Aku mengerutkan kening. Apakah itu hanya bug visual, ataukah ada sesuatu di dalam tumpukan data itu yang tidak mampu dibaca oleh algoritma paling canggih di dunia ini? Aku mencoba mengabaikannya, mematikan monitor, dan meraih tas tanganku. Tidak ada gunanya mencemaskan galat sekecil itu.
Besok, angka akan memberikan jawabannya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berharap angka-angka itu tidak hanya sekadar benar, tapi juga berpihak padaku. Namun, jauh di lubuk hatiku, bayangan senyum sombong Adrian terus menghantui, seolah dia sudah mengetahui sesuatu yang belum berani kuakui pada diriku sendiri.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!