Layar ponselku gelap. Tidak ada notifikasi dari Ametis yang mendikte ke mana kami harus pergi, apa yang harus kami pesan, atau topik pembicaraan apa yang harus kami bahas untuk meningkatkan skor keintiman. Malam ini, atas permintaan Adrian yang tidak biasa, kami memutuskan untuk mengabaikan panduan algoritma.
Aku berdiri di depan sebuah kedai ramen kecil di sudut jalan yang agak tersembunyi, jauh dari gemerlap distrik bisnis tempat kantor kami berada. Udara malam Seoul yang dingin mulai merayap ma**k ke balik mantelku. Aku meremas tali tasku, merasa te******* tanpa dukungan data di tanganku. Bagaimana jika kami tidak punya bahan pembicaraan? Bagaimana jika 0,1% error itu sebenarnya adalah jurang yang tak terperebutkan?
"Kau terlihat seperti sedang menghitung prob***litas ledakan di gedung ini, Liv."
Suara bariton itu memutus lamunanku. Adrian berdiri di sana, hanya beberapa langkah dariku. Dia tidak memakai setelan jas mahalnya. Hanya sweater *turtleneck* hitam dan jaket denim yang membuatnya terlihat sepuluh tahun lebih mudaβdan sepuluh kali lebih berbahaya bagi pertahanan duniaku yang terukur.
"Aku hanya sedang berpikir bahwa tempat ini tidak ada dalam rekomendasi Ametis," jawabku, mencoba mengembalikan nada datarku yang biasa.
Adrian terkekeh, suara rendah yang bergetar di udara dingin. "Itu poin utamanya. Ayo ma**k, aku lapar."
Di dalam kedai, uap panas dari kuah kaldu memenuhi ruangan, membawa aroma gurih yang menenangkan. Kami duduk di pojok, di atas bangku kayu yang agak goyang. Tidak ada pelayan yang mengarahkan kami; hanya ada seorang pria tua yang sibuk dengan panci besarnya.
"Dua ramen spesial dan gyoza," ujar Adrian tanpa melihat menu. Dia menoleh padaku. "Kau tidak alergi udang, kan? Aku ingat kau pernah menghindari kerupuk udang saat rapat tahun lalu."
Aku tertegun sejenak. "Kau memperhatikan itu?"
"Aku memperhatikan lawanku dengan sangat teliti, Livia. Itu kunci kemenangan," katanya dengan seringai tipis, tapi matanya tidak memancarkan arogansi yang biasanya. Ada sesuatu yang lebih lembut di sana.
Pesanan kami datang dengan cepat. Selama beberapa menit pertama, hanya ada suara denting sumpit dan seruputan kuah. Biasanya, aku akan merasa canggung dengan keheningan, tetapi entah bagaimana, suasana ini terasa... organik. Tanpa grafik kecocokan yang muncul di layar ponsel, aku justru bisa memperhatikan det**l-det**l kecil yang tidak bisa ditangkap oleh sensor digital. Cara Adrian memegang sumpit dengan mantap, atau bagaimana helai rambutnya jatuh menutupi dahi saat dia menunduk.
"Jadi," aku memulai, meletakkan sumpitku. "Kenapa tempat ini? Ini sama sekali bukan gayamu. Aku membayangkanmu lebih cocok di restoran dengan lampu kristal dan daftar anggur yang harganya setara gajiku sebulan."
Adrian terdiam. Dia memutar gelas teh hijaunya, memperhatikan uap yang perlahan menghilang. Seringai sombongnya memudar, digantikan oleh garis wajah yang tampak lelah.
"Ayahku selalu bilang bahwa setiap menit dalam hidup harus menghasilkan nilai ekonomi," gumamnya, suaranya hampir tenggelam oleh suara bising di luar kedai. "Makan di tempat seperti ini dianggap membuang-buang waktu oleh keluargaku. Jika tidak ada relasi yang dibangun atau kesepakatan yang ditandatangani, maka itu kegagalan."
Aku mengernyit. "Itu terdengar... sangat melelahkan."
Adrian menatapku intens. "Sangat. Sepanjang hidupku, aku adalah proyek. Aku harus menjadi lulusan terbaik, manajer termuda, dan menantu ideal untuk mitra bisnis ayahku. Ametis? Baginya, itu bukan tentang mencari cinta. Itu tentang efisiensi. Mencari pasangan yang secara genetik dan finansial akan memperkuat dinasti keluarga."
Dia menghela napas panjang, bahunya yang tegap tampak sedikit merosot. "Kadang aku merasa seperti baris kode yang sudah ditentukan hasilnya. Jika aku melakukan kesalahan kecil saja, aku merasa seperti produk c****."
Aku terdiam, memproses kata-katanya. Selama ini, aku melihat Adrian sebagai predator di puncak rant** makanan kantorβdingin, tak tersentuh, dan penuh perhitungan. Aku tidak pernah membayangkan bahwa di balik arogansi itu, ada seorang pria yang merasa tercekik oleh ekspektasi yang bahkan lebih kaku daripada algoritma Ametis.
Aku menjangkau gelas airku, tapi jemariku tanpa sengaja bersentuhan dengan tangannya di atas meja. Aku tidak menariknya kembali. Kulitnya terasa hangat, kontras dengan udara dingin di luar.
"Logika tidak pernah bisa sepenuhnya mendefinisikan manusia, Adrian," kataku pelan, hampir kepada diriku sendiri. "Itu yang selalu aku takutkan. Bahwa ada bagian dari kita yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam angka. Tapi mendengarmu bicara seperti ini... membuatmu terasa lebih 'nyata' daripada skor 99,9% itu."
Adrian membalikkan tangannya, membiarkan telapak tangannya menghadap ke atas sehingga jemari kami bertautan. "Livia, jika Ametis memberikan skor 12% untuk kita, apakah kau akan tetap duduk di sini bersamaku sekarang?"
Pertanyaan itu menghantamku. Pikiranku langsung melayang pada Leo. Dengan Leo, aku punya kenyamanan bertahun-tahun, tapi kami hanya punya 12%. Dengan Adrian, aku punya kebencian profesional, tapi kami punya angka sempurna.
"Aku tidak tahu," jawabku jujur. "Aku terbiasa percaya pada data karena data tidak pernah berbohong. Tapi data juga tidak pernah memberi tahuku bahwa rival kantorku ternyata memiliki beban seberat ini di pundaknya."
Adrian tersenyum, kali ini senyum yang tulus hingga mencapai matanya. "Mari kita buat kesepakatan. Malam ini, jangan anggap ini sebagai uji coba proyek. Jangan anggap aku sebagai 'match' hasil algoritma."
"Lalu aku harus menganggapmu apa?" tanyaku dengan jantung yang mulai berdegup tidak keruan.
Dia memajukan tubuhnya, memperpendek jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma samar kayu cendana dari parfumnya. "Anggap aku sebagai pria yang baru saja kalah dalam balapan ramen denganmu, dan sangat ingin tahu apa warna favoritmu tanpa harus mencarinya di database perusahaan."
Aku tertawa kecil, merasakan beban di dadaku sedikit terangkat. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu menganalisis situasi ini. Namun, saat aku baru saja hendak membuka mulut untuk menjawab, ponselku di atas meja bergetar hebat.
Bukan notifikasi dari Ametis. Sebuah pangg***n ma**k dari nomor yang sangat kukenal.
*Leo.*
Aku menatap layar yang berkedip itu, lalu menatap Adrian yang masih memegang tanganku. Rasa hangat yang tadi menyelimutiku tiba-tiba berubah menjadi ketegangan yang menyesakkan. Adrian melihat nama yang tertera di layar, dan genggamannya pada tanganku perlahan mengendur.
Angka 99,9% itu tiba-tiba terasa seperti peringatan berbahaya, bukan sebuah jaminan. Di saat aku mulai melihat sisi manusiawi Adrian, masa laluku yang "tidak kompatibel" secara matematis justru menolak untuk tetap tinggal di belakang.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!