Cahaya biru dari monitor LED berukuran tiga puluh dua inci itu terasa mulai membakar mataku. Sudah pukul delapan malam, dan barisan kode di hadapanku mulai tampak seperti tumpukan semut yang menari-nari tanpa pola. Aku menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi ergonomis yang mendadak terasa keras. Keheningan di lant** lima kantor pusat Ametis hanya dipecahkan oleh suara dengung pendingin ruangan dan denting halus dari arah meja seberang.
"Gunakan korelasi Pearson untuk variabel perilaku digitalnya, Liv. Jangan terjebak di regresi linear terus."
Suara bariton itu tidak terlalu keras, tapi c**up untuk membuatku tersentak. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya. Adrian masih di sana, duduk dengan kemeja putih yang lengannya sudah digulung hingga siku, menampilkan urat-urat tangan yang menonjol saat ia mengetik dengan kecepatan yang tidak ma**k akal.
"Aku sudah mencobanya," sahutku defensif, meski jemariku kembali bergerak di atas *keyboard*. "Hasilnya *skewed*. Ada anomali di segmen pengguna usia dua puluhan."
"Itu bukan anomali," Adrian memutar kursinya, menghadapku sepenuhnya. Ia menopang dagu dengan satu tangan, sementara matanya yang tajam menatap layar monitorku seolah-olah ia bisa membaca logika di balik kodingku hanya dengan sekali lirik. "Itu refleksi dari kecemasan generasi kita. Mereka ingin kepastian, tapi takut pada komitmen. Kau mema**kkan parameter 'ketakutan akan penolakan' terlalu rendah dalam modelmu."
Aku terdiam. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena romansa, melainkan karena ia baru saja menyentuh titik buta dalam analisaku yang sudah kucari selama dua jam terakhir. "Jika aku menaikkan parameternya, akurasi prediksinya akan bergeser."
"Coba saja. Berhenti menjadi begitu kaku dengan teorimu, Livia."
Tanpa sadar, aku menarik napas dalam dan mulai mengetik ulang formula tersebut. Aku mengubah koefisiennya, menyesuaikan variabel emosional yang tadinya kuanggap tidak relevan secara statistik. Saat aku menekan tombol *Enter* untuk menjalankan simulasi, grafik di layar perlahan berubah. Garis-garis yang tadinya berantakan kini mulai membentuk kurva yang halus dan presisi.
"Berhasil," bisikku hampir tak percaya.
"Tentu saja berhasil," Adrian bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat. Ia berdiri tepat di belakangku, c**up dekat hingga aku bisa mencium aroma kopi hitam dan sisa wangi maskulin yang tajamβsesuatu yang berbau seperti hutan setelah hujan. Ia membungkuk, menunjuk salah satu titik koordinat di layar. "Lihat? Di sinilah algoritma Ametis bekerja. Ia tidak hanya membaca siapa yang kau sukai, tapi siapa yang benar-benar bisa menoleransi keg***anmu."
Aku mendongak, bermaksud memberikan balasan sarkastik, namun kata-kataku tertelan kembali. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Dalam jarak sedekat ini, aku bisa melihat binar intelektual di matanyaβsebuah jenis gairah yang tidak pernah kutemukan pada Leo. Leo selalu mendengarkan keluh kesahku tentang data dengan senyum sabar yang berkata, *"Aku tidak mengerti, tapi aku mendukungmu."* Namun Adrian? Adrian tidak hanya mengerti. Ia menantangku. Ia melengkapiku dalam cara yang paling menyebalkan sekaligus memuaskan.
"Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Adrian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang arogan. "Akhirnya mengakui kalau aku lebih pintar?"
"Dalam mimpi-mimpimu, Adrian," balasku cepat, meskipun aku bisa merasakan panas merambat ke pipiku. Aku segera memalingkan wajah kembali ke monitor, mencoba memfokuskan pikiranku yang mulai buyar.
"Kau tahu, Livia," ia berkata lagi, suaranya kini lebih rendah, lebih lembut, kehilangan nada konfrontatifnya. "Algoritma 99,9% itu... bukan hanya soal DNA. Itu soal sinkronisasi. Bagaimana dua otak bisa memproses kekacauan dunia dengan frekuensi yang sama."
Aku tertegun. Kalimat itu bukan seperti Adrian yang kukenal. Aku mencoba mencari celah untuk mendebatnya, untuk mengatakan bahwa cinta adalah soal perasaan, bukan frekuensi otak. Namun, logikaku sendiri berkhianat. Selama dua minggu 'Uji Coba Hubungan' ini, aku merasa lebih 'terkoneksi' saat berdebat dengannya tentang struktur data daripada saat aku menonton film romantis bersama Leo.
Ketakutan itu mulai merayap di dadaku. Sebuah ketakutan yang lebih besar daripada sekadar gagal dalam proyek kantor. Aku takut algoritma Ametis benar. Aku takut bahwa di balik semua sikap arogannya, Adrian adalah satu-satunya orang yang benar-benar 'berbicara' dalam bahasa yang sama denganku.
"Aku mau pulang," kataku tiba-tiba, mulai mengemasi barang-barangku dengan gerakan kikuk. "Sudah larut."
"Aku antar," tawar Adrian.
"Tidak perlu, aku bisa pesan taksi online."
"Livia," ia memanggil namaku, langkahnya menghalangi jalanku keluar dari bilik meja. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikanβsetengah frustrasi, setengah intens. "Berhenti lari dari angka. Kau seorang analis. Kau tahu persis apa arti data di layar tadi."
Aku mendongak, mencoba memasang topeng dingin andalanku. "Data bisa dimanipulasi, Adrian. Perasaan tidak."
"Justru sebaliknya," ia melangkah satu tahap lebih dekat, mengurungku di antara dirinya dan meja kerja. "Perasaan adalah variabel yang paling mudah menipu diri sendiri. Tapi kecocokan intelektual? Itu murni. Kau tidak bisa berpura-pura nyambung dengan seseorang jika otakmu menolaknya."
Tanganku yang memegang tali tas mulai berkeringat. Aku bisa merasakan pertahananku runtuh, bata demi bata. Jika aku terus bersamanya, jika aku membiarkan uji coba ini berlanjut, aku mungkin akan kehilangan satu-satunya hal yang paling kuproteksi: kendali atas hatiku sendiri.
Tepat saat itu, ponselku di atas meja bergetar. Sebuah pesan ma**k dari Leo: *'Liv, aku di depan kantormu. Mau makan malam telat?'*
Aku melihat layar ponsel, lalu beralih menatap Adrian yang masih menungguku dengan tatapan menantangnya. Di satu sisi ada kenyamanan yang aman bersama Leo, meski kami sering tidak sejalan secara logika. Di sisi lain ada Adrianβkekacauan yang terasa seperti rumah bagi pikiranku.
"Leo menjemputku," kataku, suaraku sedikit bergetar.
Ekspresi Adrian seketika berubah. Kilatan intensitas di matanya meredup, digantikan oleh dinding es yang biasa ia perlihatkan pada dunia. Ia mundur dua langkah, memberiku ruang untuk lewat.
"Silakan," katanya dingin, kembali menjadi Adrian yang arogan dan menyebalkan. "Jangan biarkan 'prob***litas rendah' itu menunggumu terlalu lama."
Aku berjalan cepat meninggalkan ruangan itu, namun kata-katanya terus terngiang seperti alarm yang rusak. Saat aku ma**k ke dalam lift dan melihat pantulan diriku di cermin, aku menyadari sesuatu yang mengerikan. Aku tidak merasa lega karena akan bertemu Leo. Aku justru merasa seperti baru saja meninggalkan bagian dari diriku yang paling jujur di dalam ruangan tadi, bersama pria yang seharusnya paling aku benci.
Dan saat pintu lift tertutup, aku menyadari satu hal lagi: Error 0,1% itu bukan ada pada aplikasi Ametis. Error itu ada padaku, karena aku mulai menginginkan pria yang secara matematis adalah takdirku, tapi secara emosional adalah kehancuranku.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!