Udara di dalam ruang rapat lant** lima belas ini terasa jauh lebih dingin daripada biasanya, atau mungkin itu hanya perasaanku karena tatapan tajam Pak Baskoro yang seolah ingin melubangi kepalaku. Di hadapannya, tablet digital menampilkan grafik fluktuatif dari data terbaru proyek Ametis. Ada anomali di sana—sebuah kebocoran data simulasi yang membuat integritas algoritma kami dipertanyakan oleh dewan direksi pagi ini.
Aku meremas ujung blus biru tuaku di bawah meja. Keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku. Sebagai analis data utama, ini adalah tanggung jawabku. Masalahnya, aku tahu persis bahwa eror ini bukan karena kesalahan perhitunganku, melainkan karena integrasi sistem API dari departemen pemasaran yang dipaksakan ma**k tanpa uji coba menyeluruh. Namun, saat kemarahan Pak Baskoro meledak, lidahku mendadak kelu. Seluruh logika yang biasanya berbaris rapi di otakku seolah menguap, meninggalkanku dalam keheningan yang memalukan.
"Livia, saya tidak mau tahu alasan teknis yang rumit," suara Pak Baskoro rendah namun menggelegar, tipe suara yang menandakan badai besar akan datang. "Angka-angka ini berantakan. Reputasi Ametis taruhannya. Jika kamu tidak bisa menjaga akurasi 99,9% itu di atas kertas, bagaimana kita bisa meyakinkan publik bahwa aplikasi ini bisa menemukan belahan jiwa mereka?"
Aku menarik napas, mencoba mencari celah untuk membela diri. "Pak, sebenarnya integrasi dari tim—"
"Jangan melempar tanggung jawab," potong Pak Baskoro cepat. Beliau memukul meja dengan pelan namun bertenaga. "Kamu yang memegang kendali data. Jika ada sampah yang ma**k ke sistem, itu karena kamu membiarkannya."
Aku menunduk. Rasa malu menjalar dari leher hingga ke wajahku. Di sudut mataku, aku bisa melihat Adrian duduk bersandar di kursinya. Dia biasanya akan menggunakan momen seperti ini untuk menyindirku, atau setidaknya memberikan senyum miring yang mengatakan, *'Sudah kubilang, kan?'* Aku sudah bersiap untuk serangannya. Aku sudah siap untuk merasa semakin kecil.
"Sebenarnya, Pak Baskoro, Livia sudah memberikan peringatan tertulis tentang risiko integrasi itu dua hari yang lalu."
Suara itu tenang, dalam, dan sangat familiar. Aku menoleh dengan cepat ke arah Adrian. Dia tidak menatapku. Dia sedang sibuk memutar-mutar pulpen mahal di jemarinya, matanya tertuju langsung pada Pak Baskoro dengan keberanian yang tidak dimiliki siapa pun di ruangan ini.
Pak Baskoro mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Adrian?"
Adrian menggeser tabletnya ke tengah meja, menampilkan sebuah log aktivitas sistem yang bahkan aku sendiri belum sempat menarik laporannya pagi ini. "Livia melakukan tugasnya dengan sempurna. Dia mendeteksi anomali itu dalam hitungan menit setelah API pemasaran dima**kkan secara paksa oleh instruksi Pak Gunawan dari divisi sebelah. Dia mengirimkan laporan mitigasi risiko pukul empat sore kemarin. Jika laporan itu tidak sampai ke meja Bapak, itu berarti ada masalah di jalur birokrasi, bukan pada akurasi datanya."
Aku tertegun. Adrian membela aku? Bukan hanya sekadar membela, dia memiliki bukti yang bahkan belum sempat kusatukan dalam argumenku.
"Livia bekerja lembur untuk membersihkan kekacauan yang bukan buatannya," lanjut Adrian, kini suaranya terdengar lebih tajam. Dia menegakkan duduknya, menatap Pak Baskoro tanpa berkedip. "Menyalahkan orang yang paling berdedikasi di tim ini hanya karena dia yang paling mudah dijadikan sasaran adalah langkah logis yang buruk, Pak. Kita butuh solusi, bukan kambing hitam. Dan Livia adalah solusi terbaik yang kita punya."
Ruangan itu hening seketika. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berpacu liar. Pak Baskoro tampak terkejut, sedikit kehilangan kata-kata karena keberanian Adrian yang terang-terangan menantang otoritasnya demi melindungiku.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Pak Baskoro menghela napas panjang. Ketegangan di bahunya sedikit mengendur. "Begitu? Baiklah. Saya akan bicara dengan Gunawan. Livia, pastikan laporan mitigasi itu ada di email saya sepuluh menit lagi. Rapat selesai."
Semua orang bergegas meninggalkan ruangan seolah takut Pak Baskoro akan berubah pikiran. Aku masih terpaku di kursiku, jemariku yang tadi gemetar kini perlahan mulai tenang. Adrian berdiri, merapikan jasnya dengan gerakan yang sangat efisien, seolah dia tidak baru saja melakukan sesuatu yang luar biasa.
"Kenapa?" tanyaku, nyaris berbisik saat hanya tersisa kami berdua di ruangan itu.
Adrian berhenti, satu tangannya berada di saku celana. Dia menoleh ke arahku, ekspresi arogannya yang biasa telah kembali, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. "Kenapa apa?"
"Kenapa kamu membelaku? Kamu bisa saja diam dan membiarkan aku kena tegur. Itu akan membuat posisimu lebih unggul di depan direksi."
Adrian mendengus kecil, sebuah tawa hambar yang tidak sampai ke mata. Dia melangkah mendekat, berdiri di samping kursiku sehingga aku harus mendongak untuk melihatnya. Aroma parfumnya—campuran kayu cendana dan jeruk purut yang segar—tiba-tiba memenuhi indra penciumanku.
"Livia, aku memang rivalmu dalam hal karier, tapi aku bukan orang bodoh," katanya pelan. "Aku benci melihat kerja keras diremehkan oleh orang-orang yang tidak mengerti angka. Dan lagi..." Dia menggantung kalimatnya, matanya menelusuri wajahku dengan intensitas yang membuat perutku terasa aneh. "...kamu terlihat sangat menyedihkan saat mencoba menahan tangis tadi. Itu merusak pemandangan."
"Aku tidak menangis!" protesku, refleks berdiri untuk mengimbangi tingginya.
Adrian hanya mengangkat bahu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang bukan merupakan ejekan. "Terserah. Cepat kirim laporannya sebelum Pak Tua itu mengamuk lagi. Aku akan menunggumu di kantin bawah. Kita perlu membahas sisa data uji coba hubungan kita."
Dia berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah percaya diri yang khas. Aku memperhatikan punggungnya sampai dia menghilang di balik pintu kaca.
Selama ini, aku melihat Adrian sebagai variabel pengganggu dalam persamaanku—sebuah anomali yang harus dihindari. Namun, saat dia berdiri di sana tadi, menentang Pak Baskoro untukku, algoritma di kepalaku seolah mengalami *glitch*. Dadaku terasa sesak oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh angka atau logika.
Aku kembali ke mejaku dengan perasaan campur aduk. Saat membuka laptop, sebuah notifikasi dari aplikasi Ametis muncul di sudut layar ponselku yang tergeletak di samping keyboard.
*Ametis Daily Insight: Perlindungan adalah bentuk tertinggi dari pengenalan karakter. Apakah Anda mulai melihat apa yang sistem kami lihat?*
Aku menelan ludah, menatap layar itu dengan perasaan terancam. Bukan karena aplikasi itu rusak, tapi karena ketakutan terbesarku mulai terasa nyata: Bagaimana jika skor 99,9% itu benar, dan aku adalah satu-satunya orang yang terlalu buta untuk mengakuinya?
Tanganku bergetar saat mulai mengetik laporan, tapi kali ini bukan karena takut pada Pak Baskoro. Melainkan karena aku menyadari bahwa benteng yang kubangun untuk membenci Adrian mulai retak, dan aku tidak tahu apakah aku siap melihat apa yang ada di balik reruntuhannya.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!