Layar monitor di hadapanku berpendar biru pucat, memantulkan bayangan wajahku yang tampak kuyu dengan lingkaran hitam di bawah mata. Barisan kode Python merayap seperti semut hitam di atas latar putih, tapi mataku hanya terpaku pada satu modul: *Core_Matching_Algorithm_V.2.0*. Jemariku gemetar saat menggeser kursor ke arah riwayat perubahan data.
Tiga bulan ini adalah lelucon matematis. Bagaimana mungkin aku, Livia, yang menghabiskan seluruh hidupnya memuja logika dan prob***litas, bisa terjebak dalam angka 99,9% dengan pria yang paling ingin kuhapus dari daftar kontakku?
Suara langkah kaki yang berat dan berirama menggema di koridor kantor yang sudah sepi. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma *sandalwood* dan sisa kopi pahit yang tertinggal di udara sudah c**up menjadi pengenal.
"Masih di sini, Liv? Mencari kesalahan yang tidak ada, atau sedang merindukan skor kecocokan kita?" Suara bariton itu terdengar di belakang pundakku, berat dan penuh percaya diri yang menyebalkan.
Aku berputar cepat, kursi kantorku berderit memprotes gerakan mendadak itu. Adrian berdiri di sana, melonggarkan dasinya, dengan satu tangan bersandar di tepi meja. Seringai tipisnya yang khas—yang selalu membuatku ingin melempar stapler ke arahnya—masih terpasang di sana.
"Berhenti bersikap seolah ini lucu, Adrian," desisku. Aku mengarahkan telunjukku ke layar monitor. "Aku sudah memeriksa *backend* Ametis selama enam jam terakhir. Ada anomali dalam kalkulasi DNA-ku dengan milikmu. Skor 99,9% itu tidak ma**k akal. Secara statistik, variabel kita bertab**kan di hampir setiap matriks perilaku."
Adrian menaikkan sebelah alisnya, tampak tidak terganggu. "Variabel yang mana? Kesukaanmu pada ketertiban dan obsesiku pada hasil? Itu namanya komplementer, Livia. Bukan tab**kan."
"Jangan mengajariku tentang teori komplementer!" suaraku meninggi, memecah kesunyian ruangan. "Aku tahu kemampuanmu. Kamu adalah arsitek utama enkripsi Ametis. Kamu punya akses ke setiap baris kode, bahkan yang tersembunyi dari tim audit. Katakan sejujurnya—apa yang kamu lakukan pada profilku?"
Adrian terdiam. Seringainya perlahan memudar, digantikan oleh garis wajah yang mengeras. Ia melangkah maju, memperkecil jarak di antara kami hingga aku bisa melihat pantulan amarahku sendiri di matanya yang gelap.
"Kamu menuduhku memanipulasi data?" tanyanya dengan nada rendah yang berbahaya.
"Kenapa tidak? Kamu benci kalah dariku di setiap presentasi proyek. Membuatku terikat dalam 'Uji Coba Hubungan' bodoh ini adalah cara terbaik untuk menjatuhkan kredibilitas analisisku. Jika aku gagal membuktikan hubungan ini secara emosional, maka teoriku tentang 'Cinta Berbasis Data' akan hancur, dan kamu menang!"
Napas Livia memburu. Di kepalanya, angka-angka mulai berputar kacau. 12% dengan Leo—sahabat yang selalu ada untuknya, yang mengenalnya luar dalam. Dan 99,9% dengan pria arogan di depannya ini. Logika itu c****. Pasti ada tangan manusia yang mencampurinya.
Adrian tertawa kecil, tapi itu bukan tawa ejekan. Itu adalah tawa penuh kepahitan. Ia merogoh saku celananya, mengambil sebuah *flashdisk* perak dan meletakkannya dengan denting keras di atas meja.
"Lihat itu," perintahnya.
"Apa ini?"
"Log akses pribadi milikku. Semuanya. Tidak ada yang dihapus, tidak ada yang dienkripsi ulang." Adrian mencondongkan tubuhnya, kedua tangannya kini mengunci posisiku di kursi. "Aku memang jenius dalam pengkodean, Livia. Aku bisa meretas server pusat data kota ini jika aku mau. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu: aku tidak pernah menyentuh hasilmu. Sedikit pun."
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. "Lalu bagaimana angka itu bisa muncul?"
"Karena algoritma itu bekerja sebagaimana mestinya!" Adrian membentak, membuatku tersentak. Matanya kini berkilat dengan intensitas yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Kamu begitu sibuk mencari kesalahan dalam kode sampai kamu buta pada apa yang ada di depan matamu. Kamu pikir aku senang dipasangkan dengan wanita yang memandangku seperti hama setiap hari? Kamu pikir aku merencanakan semua kekacauan ini?"
"Adrian..."
"Aku bisa saja mengubah skor itu menjadi 0% dalam satu detik jika aku mau, Livia. Itu akan membuat hidupku jauh lebih tenang," lanjutnya, suaranya kini kembali merendah, hampir seperti bisikan. "Tapi aku tidak melakukannya. Bukan karena aku tidak bisa, tapi karena aku ingin tahu... aku ingin tahu apakah mesin itu benar-benar melihat sesuatu dalam dirimu yang selama ini sengaja aku abaikan."
Aku terpaku. Keheningan yang menyusul terasa lebih menyesakkan daripada perdebatan tadi. Aku mencari tanda-tanda kebohongan di wajahnya—kerutan di dahi, arah mata yang menghindari kontak, atau getaran di sudut bibir. Tapi yang kutemukan hanyalah kejujuran yang te******* dan menyakitkan.
Jantungku berdegup kencang, sebuah variabel yang tidak bisa kujelaskan dengan rumus mana pun. Jika Adrian tidak memanipulasi data itu, berarti... Ametis benar. Dan jika Ametis benar, berarti seluruh persepsiku tentang Adrian, tentang Leo, dan tentang diriku sendiri selama ini adalah sebuah kesalahan besar.
Adrian menjauhkan tubuhnya, memberiku ruang untuk bernapas, meski paru-paruku masih terasa terjepit. Ia berbalik untuk pergi, namun berhenti tepat di ambang pintu.
"Periksa *flashdisk* itu, Livia. Puaskan egomu yang logis itu," ucapnya tanpa menoleh. "Tapi setelah kamu sadar bahwa datanya murni, tanyakan pada dirimu sendiri: apa yang sebenarnya membuatmu takut? Algoritma yang salah, atau kenyataan bahwa kamu mulai merasakan sesuatu yang tidak bisa kamu hitung?"
Pintu tertutup dengan dentuman pelan, meninggalkanku sendirian dalam cahaya biru yang dingin. Aku menatap *flashdisk* perak itu, merasa seolah benda kecil itu adalah bom waktu yang siap meledakkan seluruh dunia yang kubangun di atas angka-angka.
Tanganku perlahan terulur untuk mengambilnya, namun sebuah notifikasi muncul di layar monitor utamaku. Sebuah pesan ma**k dari departemen pengembangan sistem tingkat atas.
*Peringatan Sistem: Ditemukan aktivitas anomali pada entri data subjek L-01. Integritas DNA 99,9% sedang dalam peninjauan ulang oleh pihak ketiga.*
Darahku mendesir dingin. Jadi, ada orang lain di dalam sistem ini. Dan mereka baru saja mengonfirmasi bahwa skor 99,9% itu bukan sekadar kebetulan, melainkan sesuatu yang jauh lebih gelap.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!