Lampu baris ketiga di ruang kerja *backend* itu berkedip-kedip ritmis, melemparkan bayangan panjang di atas meja kerjaku yang berantakan. Jam digital di pojok kanan bawah layar monitor menunjukkan pukul 02.14 pagi. Suasana kantor pusat Ametis sangat sunyi, hanya menyisakan dengung halus dari ruang server di ujung koridor yang terdengar seperti napas berat monster mekanis. Mataku perih, seolah ada butiran pasir yang mengganjal di balik kelopak, tapi jemariku menolak untuk berhenti menari di atas papan ketik.
Aku tidak bisa tidur sebelum tahu. Angka 12% itu menghantuiku seperti noda tinta di atas kain putih yang bersih. Bagaimana mungkin Leo—pria yang tahu merek sereal favoritku, pria yang memegang tanganku saat pemakaman ibuku, pria yang tertawa pada lelucon terpintarku—hanya memiliki kecocokan belasan persen denganku?
"Ayo, Livia. Logika tidak pernah berbohong," bisikku pada diri sendiri. Suaraku terdengar parau dan asing di ruangan kosong ini.
Aku mema**kkan kunci akses administratif tingkat tinggi. Sebagai analis data senior, aku punya izin untuk melihat 'ruang mesin' Ametis, tempat di mana algoritma mentah mengolah jutaan titik data DNA, riwayat pencarian, hingga mikro-ekspresi saat seseorang menatap layar ponsel. Di layar, grafik-grafik mulai bermunculan. Barisan kode berwarna hijau dan putih bergulir cepat, memetakan kecocokanku dengan Leo.
Aku menelan ludah saat kursor tetikusku berhenti tepat di atas folder *‘Deep Compatibility Constraints’*. Ini adalah lapisan terdalam dari Ametis, bagian yang tidak pernah diperlihatkan kepada pengguna biasa. Folder ini berisi prediksi perilaku jangka panjang yang ditarik dari inkonsistensi antara apa yang dikatakan seseorang dan apa yang sebenarnya mereka inginkan secara bawah sadar.
Aku mengklik folder itu. Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku dengan ritme yang menyakitkan.
"Grafik Akomodasi Palsu," gumamku membaca salah satu label data.
Warna merah menyala mendominasi layar. Aku mengerutkan kening, mencoba memproses apa yang kulihat. Data itu menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, Leo secara konsisten melakukan 'penyesuaian perilaku ekstrim' setiap kali berada di dekatku. Algoritma Ametis menangkap bahwa minat Leo pada film-film dokumenter membosankan yang kusukai sebenarnya nol. Ketertarikannya pada perdebatan logika yang sering kami lakukan adalah bentuk kamuflase emosional.
Namun, bukan itu yang membuat napas pelatukku tertahan.
Aku membuka sub-folder bertajuk *‘Long-term Life Trajectory’*. Di sana, terdapat salinan dokumen digital yang tersimpan dalam riwayat *cache* perangkat Leo yang pernah tersinkronisasi secara tidak sengaja dengan ekosistem Ametis. Itu adalah aplikasi beasiswa penuh dan kontrak kerja di sebuah firma arsitektur di London. Tanggal pengirimannya adalah tiga bulan lalu.
"London?" bisikku. Kakiku terasa lemas. "Dia tidak pernah bilang ingin pindah ke luar negeri."
Aku menelusuri lebih dalam. Data perilaku digital Leo menunjukkan pencarian intensif mengenai "bagaimana mengakhiri persahabatan tanpa menyakiti," "tanda-tanda ketergantungan emosional sahabat," dan "memulai hidup baru di negara lain."
Ametis tidak hanya menghitung siapa dia sekarang, tapi siapa dia di masa depan. Skor 12% itu bukan karena kami tidak saling menyayangi, tapi karena masa depan yang Leo rancang sama sekali tidak menyertakan aku di dalamnya. Dia selama ini hanya 'bertahan' dalam rutinitas bersamaku sambil menunggu waktu yang tepat untuk pergi tanpa merasa bersalah. Dia adalah variabel yang sudah siap untuk memisahkan diri, sementara aku menganggapnya sebagai konstanta dalam persamaanku.
Air mata panas mulai menggenang di pelupuk mataku. Aku merasa bodoh. Selama ini aku mengandalkan logika untuk melindungi diri dari rasa sakit, tapi sekarang logika pulalah yang menghancurkanku dengan kenyataan yang dingin.
Tiba-tiba, sebuah grafik perbandingan muncul secara otomatis di sisi kanan layar. Itu adalah profil Adrian.
Berbeda dengan Leo yang penuh dengan warna merah 'ketidakjujuran algoritma', profil Adrian hampir seluruhnya berwarna biru solid—transparansi penuh. Arogansinya di kantor, sifat menyebalkannya, ketegasannya yang dingin, semuanya terekam sebagai data yang jujur. Adrian tidak pernah berpura-pura. Apa yang kulihat adalah apa yang kudapatkan. Dan yang lebih mengejutkan, dalam parameter *'Future Ambition Sync'*, grafik Adrian dan grafiku bergerak dalam arah yang hampir paralel sempurna. Kami menginginkan hal yang sama dari hidup, meskipun kami mengejarnya dengan cara yang saling bertab**kan.
"Jadi ini sebabnya?" Aku menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit kantor yang gelap. "Kau memberikan 99,9% pada pria yang paling kubenci karena dia satu-satunya yang tidak akan meninggalkanku demi hidup yang lain?"
Tiba-tiba, suara langkah kaki bergema di koridor. Aku tersentak, tanganku dengan cepat menutup jendela-jendela data rahasia itu. Jantungku berpacu dua kali lebih cepat. Tak seharusnya ada orang di sini jam sekian.
Aku baru saja akan mematikan monitor ketika pintu ruangan terbuka sedikit. Cahaya dari koridor ma**k, membentuk celah terang yang menyinari separuh wajah pria yang berdiri di sana.
"Livia?"
Itu suara Adrian. Dia tidak memakai jasnya, hanya kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku, tampak sama lelahnya denganku. Dia memegang dua gelas kopi dari mesin otomatis di lobi.
"Sedang mencari alasan untuk membuktikan algoritma itu salah lagi?" tanyanya dengan nada datar yang biasanya memicu amarahku, tapi kali ini suaranya terdengar sedikit lebih lembut.
Aku terdiam, tanganku masih gemetar di atas tetikus. Aku ingin membalasnya dengan sarkasme, tapi tenggorokanku terasa tersumbat. Aku baru saja melihat isi kepala sahabat terbaikku dan menemukan bahwa aku hanyalah beban yang siap dia lepaskan.
Adrian ma**k ke ruangan, berjalan mendekat. Dia meletakkan salah satu kopi di meja depanku, matanya menyipit saat melihat pantulan kode yang masih tersisa di layar monitorku sebelum layarnya meredup.
"Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu," ucapnya, suaranya kini benar-benar pelan.
Aku mendongak, menatap matanya. Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat rival yang kompetitif. Aku melihat seseorang yang—menurut data yang baru saja kubaca—adalah satu-satunya orang yang benar-benar selaras dengan setiap serat keberadaanku, meski akal sehatku menolaknya mentah-mentah.
"Adrian," suaraku bergetar. "Apa yang akan kau lakukan jika datamu menunjukkan bahwa orang yang kau percayai ternyata adalah orang asing?"
Adrian terdiam sejenak, menatapku dalam-dalam. Dia tidak tertawa. Dia tidak mengejek. Dia hanya menarik kursi di sebelahku dan duduk, mengabaikan jarak profesional yang biasanya kami jaga dengan ketat.
"Data tidak punya perasaan, Livia. Itu kelebihannya," katanya dingin, namun ada sesuatu yang lain di balik tatapannya. "Tapi ia juga tidak punya belas kasihan saat menunjukkan kebenaran. Pertanyaannya bukan apa yang dilakukan data itu padamu, tapi apa yang akan kau lakukan setelah tahu?"
Aku menunduk melihat kopi yang masih mengepul. Rahasia Leo kini tersimpan di pundakku, dan di hadapanku duduk pria yang menjadi 'jawaban' logis atas kegagalanku dalam cinta. Ponselku di atas meja bergetar. Sebuah pesan ma**k dari Leo: *'Liv, besok pagi s****an di tempat biasa? Ada yang ingin kubicarakan.'*
Tanganku mengepal. Apakah ini saatnya dia mengatakannya? Ataukah dia akan berbohong lagi?
Aku melirik Adrian, yang masih menungguku berbicara. Di bawah cahaya lampu yang berkedip, aku menyadari satu hal yang lebih menakutkan daripada data 12% milik Leo: Aku mulai meragukan apakah aku ingin Leo tetap tinggal, atau apakah aku justru takut jika Adrian benar-benar adalah takdir yang tertulis dalam kode.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!