Lampu neon di ruang rapat utama berpendar pucat, memantul di atas meja kaca yang terasa sedingin es saat jemariku menyentuhnya. Di hadapanku, sebuah map berwarna biru tua tergeletak diam. Di dalamnya terdapat dokumen yang selama tiga bulan terakhir menjadi pusat gravitasi duniaku: kontrak 'Uji Coba Hubungan' Ametis.
Adrian duduk di seberangku. Dia tidak bersandar seperti biasanya—tanpa kaki yang menyilang angkuh atau senyum miring yang selalu berhasil memancing emosiku. Dia duduk tegak, kedua tangannya tertaut di atas meja, menatapku dengan sorot mata yang sulit kubaca. Keheningan di antara kami terasa begitu pekat, seolah-olah oksigen di ruangan ini telah disedot habis oleh mesin pendingin ruangan yang mendengung rendah.
"Aku sudah bicara dengan jajaran direksi pagi tadi," suara Adrian memecah kesunyian. Suaranya rendah, tanpa nada sarkasme yang biasanya menjadi pelindungnya. "Aku mengundurkan diri dari proyek Ametis. Dan secara otomatis, aku membatalkan kontrak kita."
Jantungku seperti melewatkan satu detakan. Aku mengerjapkan mata, menatap barisan angka di layar laptopku yang masih menyala di samping map itu. Skor 99,9% masih terpampang di sana, mengejekku dengan keakuratannya yang absolut.
"Kenapa?" tanyaku, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri—serak dan tipis. "Data uji coba minggu ini menunjukkan progres yang signifikan, Adrian. Secara algoritma, kita baru saja mencapai fase stabil. Kalau kamu berhenti sekarang, validitas riset ini akan—"
"Lupakan soal data, Livia," potongnya lembut, namun tegas. Dia memajukan tubuhnya sedikit. "Aku tidak bicara sebagai rekan bisnismu atau subjek penelitianmu. Aku bicara sebagai... seseorang yang sudah c**up lama memperhatikanmu."
Aku terdiam. Dadaku terasa sesak, seolah ada beban ribuan ton yang tiba-tiba menindih paru-paru. Aku mencoba mencari logika di balik keputusannya. Adrian yang ambisius, Adrian yang haus akan pengakuan, tidak mungkin meninggalkan proyek prestisius ini begitu saja.
"Aku melihatmu saat kamu bersama Leo kemarin di kafetaria," lanjut Adrian. Ada kilat kepedihan yang melintas cepat di matanya sebelum ia kembali memasang topeng datarnya. "Kamu terlihat... tenang. Dan saat kamu kembali ke meja kerja bersamaku, kamu kembali menjadi Livia yang penuh duri. Kamu memaksakan diri, Liv. Kamu mencoba mencocokkan dirimu dengan algoritma yang sebenarnya membuatmu tercekik."
"Aku tidak tercekik," bantahku, meski jemariku mulai gemetar di bawah meja. "Aku hanya bersikap profesional. Ini adalah komitmen."
Adrian menghela napas panjang, suara yang terdengar seperti kelelahan yang teramat sangat. Ia bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja, dan berhenti tepat di sampingku. Ia tidak menyentuhku, namun kehadirannya terasa seperti medan magnet yang kuat.
"Kontrak itu dibuat untuk membuktikan bahwa angka bisa mengatur perasaan," katanya, matanya menatap lurus ke dalam mataku. "Tapi melihatmu terus-menerus merasa bersalah karena menyukai pria lain sementara 'harus' bersamaku... itu adalah variabel yang tidak aku perhitungkan. Aku tidak ingin menjadi anomali yang merusak kebahagiaanmu."
Dia meletakkan sebuah pena di atas map biru itu. "Aku sudah menandatangani bagianku. Kamu hanya perlu menandatanganinya, dan kamu bebas. Tidak ada lagi kencan wajib, tidak ada lagi laporan emosi harian, tidak ada lagi aku."
Dia berbalik dan melangkah menuju pintu. Setiap langkahnya terdengar seperti dentum palu yang memaku hatiku pada lant**. Aku ingin berteriak, mengatakan bahwa dia salah. Bahwa 'duri' yang ia maksud bukanlah bentuk penolakan, melainkan mekanisme pertahananku karena aku mulai merasa terlalu nyaman di dekatnya. Bahwa angka 99,9% itu mulai terasa lebih nyata daripada kenangan masa kecilku bersama Leo.
Namun, lidahku kelu. Logikaku yang biasanya tajam mendadak tumpul, tertimbun oleh gelombang emosi yang tidak bisa kujelaskan dengan rumus mana pun.
"Adrian," panggilku saat tangannya sudah menyentuh gagang pintu.
Dia berhenti, namun tidak menoleh.
"Kenapa harus sekarang? Proyek ini hampir selesai."
Adrian terdiam sejenak. Bahunya tampak turun sedikit. "Karena semakin lama aku tinggal, semakin sulit bagiku untuk melepaskanmu, Livia. Dan aku lebih memilih kehilangan proyek ini daripada melihatmu kehilangan dirimu sendiri karena mencoba mencint**ku secara paksa."
Pintu tertutup dengan bunyi *klik* yang halus, namun gema suaranya terasa seperti ledakan di dalam kepalaku.
Aku sendirian sekarang. Ruang rapat itu terasa sepuluh kali lebih luas dan seratus kali lebih dingin. Aku menunduk, menatap map biru di hadapanku. Mataku panas, dan sebelum aku sempat menyadarinya, setetes air jatuh tepat di atas tanda tangan Adrian yang tegas dan tajam.
Aku meraih pena itu. Tanganku gemetar hebat. Seharusnya ini adalah saat yang kunantikan. Kebebasan dari keharusan mencint** rivalku. Peluang untuk kembali pada Leo, pada zona nyamanku, pada dunia yang bisa kuprediksi.
Namun, saat aku menempelkan ujung pena ke kertas, dadaku terasa seperti dihantam godam. Rasa kehilangan itu datang begitu tiba-tiba dan begitu mendalam, hingga aku harus memegang pinggiran meja agar tidak jatuh. Ini bukan sekadar kehilangan rekan kerja. Ini terasa seperti kehilangan bagian dari sistem operasiku yang paling krusial.
Aku melihat ke arah kursi kosong di depanku. Tidak akan ada lagi perdebatan sengit tentang interpretasi data. Tidak ada lagi kopi hitam yang diletakkan di mejaku tanpa kata saat aku lembur. Tidak ada lagi aroma parfum *sandalwood* miliknya yang diam-diam mulai kusukai.
Algoritma Ametis benar tentang satu hal: kecocokan kami sempurna. Namun, ia salah tentang satu hal lain: ia tidak memperingatkanku bahwa kehilangan seseorang dengan skor 99,9% akan terasa seperti kehilangan 100% dari diriku sendiri.
Aku menarik napas gemetar, mencoba menenangkan debar jantungku yang kacau. Di layar laptop, kursor pada program analisis data masih berkedip-kedip, menungguku memberikan input. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupku, data itu terlihat buram.
Ponselku bergetar di atas meja. Sebuah pesan ma**k dari Leo.
*“Liv, aku sudah di depan kantormu. Mau makan malam sesuai janji?”*
Aku menatap pesan itu, lalu beralih pada pintu yang baru saja dilewati Adrian. Di depanku ada dua jalan: kembali ke jalur yang logis dan aman bersama Leo, atau mengejar 'kesalahan' yang baru saja pergi meninggalkanku.
Tiba-tiba, layar laptopku berkedip merah. Sebuah notifikasi sistem muncul, menutupi seluruh grafik kecocokanku dengan Adrian.
*Warning: System Integrity Compromised. Data Corruption Detected in User ID: Livia_01.*
Aku tertegun. Bukan karena sistem Ametis yang bermasalah, tapi karena aku menyadari bahwa kerusakan data itu tidak terjadi pada aplikasi. Kerusakan itu terjadi di dalam dadaku. Dan saat aku menyadari apa yang sebenarnya kuinginkan, aku tahu bahwa mungkin sudah terlambat untuk memperbaiki skor yang baru saja kuhancurkan sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!