The Soulmate Code: Error 0.1%

Bab 2: Bab 2 - Livia mencoba aplikasi Ametis secara diam-diam ...

Pengaturan Membaca

Cahaya biru dari layar ponsel memantul di lensa kacamata Livia, menciptakan bayangan redup di wajahnya yang lelah. Jam dinding di apartemennya yang minimalis—atau lebih tepatnya, steril—sudah menunjukkan pukul satu pagi. Di atas meja kerja yang tertata terlalu rapi, secangkir kopi hitam yang sudah dingin menyisakan noda melingkar di dasarnya.

Livia menghela napas, jemarinya menggantung ragu di atas ikon aplikasi berwarna ungu gradasi dengan logo helix DNA yang elegan. *Ametis*.

Sebagai senior data analyst di perusahaan rintisan yang mengembangkan aplikasi ini, Livia tahu persis mesin di balik layarnya. Ia tahu bagaimana ribuan baris kode Python menyaring preferensi musik, pola belanja, hingga mikrosatelit DNA untuk menentukan kecocokan dua manusia. Baginya, Ametis bukan sekadar aplikasi kencan; itu adalah mahakarya logika. Namun malam ini, logika itu terasa seperti ancaman.

"Hanya uji coba validasi internal, Liv. Hanya itu," bisiknya pada keheningan ruangan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa detak jantungnya yang tidak beraturan hanyalah efek kafein berlebih.

Selama bertahun-tahun, Livia menyimpan satu variabel konstan dalam hidupnya: Leo. Sahabat masa kecilnya yang selalu tahu kapan Livia butuh cokelat hangat tanpa harus diminta. Leo yang tertawanya terdengar seperti melodi yang paling ma**k akal di dunia yang kacau ini. Secara matematis, Leo adalah pilihan yang aman. Secara emosional, Leo adalah satu-satunya rumah yang ia kenal.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Livia mema**kkan kode otorisasi khusus pengembang. Ia sudah mengunggah data mentah miliknya dan milik Leo—tentu saja dengan dalih 'pengujian anonim' yang ia lakukan sore tadi di kantor.

Layar ponselnya menampilkan animasi lingkaran yang berputar. *Processing Data...*

Livia menahan napas. Pikirannya melayang pada percakapan mereka minggu lalu di kedai kopi langganan. Leo sempat bercanda tentang betapa hebatnya jika mereka bisa membuktikan secara ilmiah bahwa mereka memang ditakdirkan bersama. Saat itu Livia hanya mencibir, namun di dalam hati, ia sangat menginginkan kepastian itu. Ia butuh angka untuk memvalidasi perasaannya.

*Ding.*

Sebuah grafik muncul. Nama Leo Danuarta terpampang di sana. Di bawahnya, sebuah angka muncul dengan warna abu-abu yang suram.

**12%.**

Livia mengerjap. Ia melepaskan kacamatanya, mengusap lensa dengan ujung kaus, lalu memakainya kembali. Angkanya tidak berubah. Dua belas persen. Itu bahkan lebih rendah daripada prob***litas hujan di gurun Sahara pada bulan Juli.

"Tidak mungkin," desisnya. "Pasti ada galat di modul pengenalan pola perilaku."

Ia segera memeriksa parameter input. Hobi: sama. Selera musik: kompatibel. Latar belakang pendidikan: sejalan. Bagaimana mungkin algoritmanya menghasilkan skor serendah itu? Apakah Ametis mendeteksi sesuatu yang tidak ia sadari? Apakah kenyamanan yang ia rasakan selama ini hanyalah bias kognitif yang ia ciptakan sendiri untuk menghindari risiko?

Belum sempat Livia memproses rasa kecewa yang mulai merayap di dadanya, ponselnya bergetar hebat. Sebuah notifikasi mendesak muncul di layar, menutupi profil Leo yang menyedihkan.

*Error 0.1% Detected. Outlier Match Found.*

Livia mengerutkan kening. Ini adalah protokol otomatis Ametis jika sistem menemukan anomali berupa skor kecocokan yang hampir sempurna—sesuatu yang secara statistik hampir mustahil terjadi dalam database publik.

Layar ponselnya berubah menjadi putih terang, memaksa Livia memicingkan mata. Sebuah foto profil muncul pelan-pelan, diikuti oleh nama yang membuat darahnya seolah membeku seketika.

**Adrian Pratama.**

Livia tersentak hingga kursinya berderit tajam. Adrian. Pria yang baru tadi pagi berdebat sengit dengannya di ruang rapat soal arsitektur database. Pria yang selalu memakai kemeja mahal tanpa cela, memiliki senyum miring yang sangat merendahkan, dan hobi mengoreksi laporannya hanya untuk menunjukkan dominasi.

Livia menggulir layar ke bawah dengan panik. Di sana, tertulis angka besar berwarna emas yang seolah mengejeknya.

**99,9%.**

"Sistem ini rusak," Livia berbicara pada ponselnya seolah benda itu bisa merasa bersalah. "Ini sampah. Benar-benar sampah."

Bagaimana mungkin? Adrian adalah antitesis dari segala hal yang ia sukai. Livia menyukai keteraturan, Adrian menyukai kekacauan yang terukur. Livia menyukai privasi, Adrian adalah tipe orang yang akan memastikan seluruh kantor tahu bahwa dialah yang memenangkan argumen. Mereka seperti minyak dan air yang dipaksa berada dalam satu wadah laboratorium.

Ia mencoba menutup aplikasi itu, namun sebuah perintah sistem muncul—fitur keamanan yang baru saja diintegrasikan tim pengembang untuk 'Match Sempurna'.

*Ametis Priority Notification: Kecocokan Tertinggi dalam Sejarah Perusahaan. Verifikasi Identitas Diperlukan untuk Keperluan Proyek Utama.*

Ponsel Livia kembali bergetar. Kali ini bukan dari aplikasi, melainkan sebuah email ma**k. Itu dari CEO mereka, Pak Gunawan, dikirim tepat pukul 01.15 pagi.

*Livia, sistem baru saja mengirimkan alert ke akun admin saya tentang Match 99,9%. Saya lihat subjeknya adalah kamu dan Adrian. Ini adalah validasi luar biasa yang kita butuhkan untuk peluncuran besar bulan depan. Kita tidak bisa melewatkan ini. Besok jam 8 pagi, temui saya di ruangan. Kita akan membahas rencana 'Uji Coba Hubungan' untuk keperluan pemasaran dan data akurasi.*

Livia menyandarkan punggungnya ke kursi, merasa dunianya baru saja runtuh di bawah kaki-kakinya sendiri. Dua belas persen untuk pria yang ia cint**. Sembilan puluh sembilan koma sembilan persen untuk pria yang paling ingin ia hapus dari muka bumi.

Logika yang selama ini menjadi pelindungnya kini berbalik menjadi penjara. Livia menatap foto Adrian di layar—pria itu tampak sedang menatap lurus ke kamera dengan tatapan tajam dan intens yang selalu membuat Livia merasa seolah seluruh rahasianya sedang dibedah.

"Satu persen saja sudah c**up untuk menghancurkan segalanya," gumam Livia, suaranya parau. "Apalagi nol koma satu persen."

Besok pagi, ia tidak hanya harus menghadapi kenyataan bahwa sahabatnya bukanlah jodohnya secara algoritma, tapi ia juga harus menghadapi Adrian—dan tawaran g*** untuk berpura-pura jatuh cinta pada musuh terbesarnya demi sains.

Livia mematikan ponselnya, namun bayangan angka 99,9% itu masih menempel di balik kelopak matanya seperti noda yang tak bisa dihapus. Di luar, hujan mulai turun, membasahi jendela apartemennya, persis seperti keraguan yang mulai mengikis keyakinannya pada angka-angka yang selama ini ia puja.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca