Layar monitor di hadapanku berkedip, menampilkan baris kode yang biasanya terasa seperti bahasa ibu bagiku. Namun malam ini, angka-angka itu tampak seperti semut yang berpesta di atas luka. Angka 99,9% berwarna ungu metalik—warna khas Ametis—masih terpampang di sudut kanan profilku. Skor kecocokan sempurna. Skor yang selama tiga bulan ini kucoba buktikan kesalahannya, namun justru berakhir membuktikan betapa butanya aku selama ini.
Aku menyandarkan punggung ke kursi kerja yang terasa terlalu dingin. Kantor pusat Ametis sudah sepi; hanya menyisakan dengung pendingin ruangan dan aroma kopi basi yang tertinggal di meja kerja Adrian—tepat di seberang mejaku. Meja itu sekarang kosong. Tidak ada lagi tumpukan dokumen yang disusun rapi berdasarkan abjad, tidak ada lagi pulpen mekanik perak yang selalu ia ketuk-ketukan saat sedang berpikir, dan tidak ada lagi sosok pria angkuh yang selalu berhasil memicu adrenalin serta amarahku dalam waktu bersamaan.
Adrian benar-benar pergi. Memo internal yang kuterima sore tadi menyatakan perpindahannya ke kantor cabang Singapura efektif mulai besok pagi. Dan besok pagi berarti penerbangan pukul tujuh.
"Bodoh," bisikku pada diri sendiri. Suaraku bergetar, memecah kesunyian ruangan. "Kau benar-benar analis data paling payah, Livia."
Selama ini aku memuja logika. Aku percaya bahwa emosi hanyalah variabel pengganggu yang harus dieliminasi agar hasil akhir tetap akurat. Aku membenci Ametis karena ia mendikte siapa yang harus kucint** berdasarkan algoritma DNA. Aku ingin memilih Leo karena Leo adalah pilihan yang ma**k akal secara historis—sahabat masa kecil, zona nyaman, variabel yang sudah kukenal luar dalam.
Namun, saat aku menatap kursi kosong Adrian, dadaku terasa seperti dihantam palu godam. Logika tidak bisa menjelaskan mengapa aku merindukan ejekan pedasnya setiap pagi. Data tidak bisa memetakan bagaimana detak jantungku berakselerasi setiap kali ia menarik kursi untuk membantuku duduk, atau bagaimana ia selalu tahu kapan aku membutuhkan cokelat panas tanpa aku perlu memintanya.
Algoritma Ametis tidak menciptakan perasaan ini. Algoritma itu hanya membukakan pintu yang selama ini kukunci rapat dengan gembok skeptisisme. Angka 99,9% itu bukan sebuah paksaan, melainkan sebuah peluang. Masalahnya, aku terlalu sibuk memprotes jalannya hingga lupa untuk melangkah.
Aku melirik jam tangan pintarku. Pukul 22.15. Jika dia berangkat pukul tujuh pagi, kemungkinan besar dia sudah berada di hotel dekat bandara atau sedang dalam perjalanan.
Rasa takut yang selama ini menyanderaku—ketakutan akan kegagalan matematis, ketakutan akan patah hati—tiba-tiba terasa kerdil dibandingkan ketakutan kehilangan Adrian selamanya. Aku menyambar tas tanganku, mengabaikan laptop yang masih menyala, dan berlari menuju lift.
Sepanjang perjalanan di dalam taksi menuju Terminal 3 Soekarno-Hatta, tanganku tidak berhenti gemetar. Aku terus menekan tombol panggil pada kontak Adrian, namun hanya suara mesin operator yang menjawab. "Ayo, Adrian... angkat," gumamku, menempelkan dahi ke kaca jendela yang dingin. Hujan mulai turun, memburamkan lampu-lampu jalanan Jakarta menjadi pendaran cahaya yang melankolis.
Aku turun dari taksi bahkan sebelum mobil itu benar-benar berhenti sempurna di lobi keberangkatan. Napas menggebu-gebu, paru-paruku terasa terbakar oleh udara malam yang lembap. Aku menyisir area check-in yang mulai lengang. Mataku bergerak liar, mencari sosok tinggi dengan bahu tegap dan tatapan mata tajam yang selalu membuatku merasa te*******.
Lalu, aku melihatnya.
Ia berdiri di dekat pilar besar, mengenakan mantel parit berwarna gelap dengan koper perak di sampingnya. Ia sedang menatap ponselnya, wajahnya tampak lelah di bawah cahaya lampu neon yang putih pucat. Tidak ada keangkuhan yang biasanya ia tunjukkan di kantor. Yang kulihat hanyalah seorang pria yang tampak... kesepian.
"Adrian!" teriakku. Suaraku tenggelam di antara pengumuman keberangkatan, namun ia seolah memiliki sensor yang hanya bereaksi padaku. Ia mendongak. Matanya membelalak saat melihatku berlari ke arahnya, hampir tersandung kaki sendiri.
Aku berhenti tepat di depannya, terengah-engah. Rambutku pasti berantakan terkena air hujan, dan aku yakin riasanku sudah tidak berbentuk lagi.
"Livia? Apa yang kamu lakukan di sini?" suaranya rendah, ada nada tidak percaya di sana.
"Kau... kau tidak bisa pergi begitu saja," kataku setelah berhasil mengatur napas, meski dadaku masih naik-turun dengan cepat.
Adrian menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kontrak uji coba hubungan kita sudah selesai dua hari yang lalu, Liv. Datanya sudah ma**k ke server. Aku sudah menyelesaikan bagianku."
"Ini bukan soal data!" aku memotong perkataannya, melangkah maju hingga jarak kami hanya tersisa beberapa sentimeter. Aku bisa mencium aroma parfum *sandalwood*-nya yang menenangkan. "Aku menghabiskan waktu berbulan-bulan mencoba membuktikan bahwa angka 99,9% itu salah. Aku ingin membuktikan bahwa aku lebih pintar dari mesin itu."
"Dan kau berhasil, bukan? Kau membenciku sejak hari pertama," sahut Adrian pahit, ia mulai menarik pegangan kopernya.
"Aku salah!" teriakku lagi, membuat beberapa calon penumpang menoleh. Aku tidak peduli. "Aku menyadari bahwa algoritma itu hanya memberi jalan, Adrian. Ia hanya menunjukkan prob***litas. Tapi manusia yang harus berjalan di atasnya. Dan aku... aku terlambat menyadarinya karena aku terlalu takut untuk mulai melangkah."
Adrian terdiam. Ia melepaskan pegangan kopernya, memutar tubuhnya sepenuhnya menghadapku. "Apa yang ingin kau katakan, Livia?"
Aku menelan ludah, mencoba membuang sisa-sisa perfeksionisme yang selama ini mencekikku. "Data menunjukkan kita cocok, tapi perasaanku yang membuatnya nyata. Jangan pergi ke Singapura karena kau pikir aku menolakmu. Jangan pergi karena kau pikir angka itu tidak berarti apa-apa bagiku."
Keheningan menyelimuti kami selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Adrian menatapku dalam-dalam, mencari kebohongan di mataku. Perlahan, ia mengulurkan tangan, menyisipkan anak rambutku yang basah ke belakang telinga. Sentuhannya hangat, kontras dengan udara bandara yang dingin.
"Kau tahu, Livia," bisiknya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang bukan merupakan ejekan. "Ametis mungkin akurat 99,9%. Tapi aku selalu lebih tertarik pada 0,1% sisanya. Bagian yang tidak bisa diprediksi. Bagian yang membuatmu berlari ke sini seperti orang g***."
Ia menarikku ke dalam pelukannya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak butuh data apa pun untuk tahu bahwa di sinilah aku seharusnya berada. Detak jantungnya yang beradu dengan milikku adalah satu-satunya ritme yang ma**k akal.
Namun, saat aku baru saja hendak merasa tenang, ponsel di saku mantel Adrian bergetar hebat. Ia melepaskan pelukannya sebentar untuk melihat layar. Ekspresinya berubah seketika—dari lembut menjadi tegang dan pucat.
"Ada apa?" tanyaku, firasat buruk mulai merayap di tengkukku.
Adrian memutar layar ponselnya ke arahku. Sebuah notifikasi darurat dari sistem internal Ametis yang hanya bisa diakses oleh level eksekutif muncul di sana.
*CRITICAL ERROR: Source Code Compromised. Match Validity Under Investigation. Subject: Livia & Adrian.*
Duniaku seolah berhenti berputar. Skor 99,9% itu berkedip-kedip di layar, lalu tiba-tiba berubah menjadi angka nol merah yang menyala tajam. Di bawahnya, sebuah baris pesan baru muncul: *Data manipulation detected. Verification failed.*
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!