Lampu-lampu kota Jakarta di bawah sana tampak seperti butiran piksel yang pecah, berpendar tanpa pola yang jelas. Dari balkon apartemenku, semuanya terlihat berantakan—berbanding terbalik dengan angka-angka di layar ponselku yang selalu presisi. Di sana, logo Ametis masih menyala, menampilkan angka 99,9% dalam warna ungu yang mengintimidasi.
Aku meremas pagar besi balkon yang dingin. Di sampingku, Adrian berdiri dengan tangan terbenam di saku celana kainnya. Dasinya sudah dilonggarkan, kancing teratas kemejanya terbuka, memperlihatkan sisi dirinya yang tidak pernah ia izinkan terlihat di ruang rapat kantor. Tidak ada tatapan tajam yang merendahkan, tidak ada komentar sarkas tentang efisiensi kerjaku. Hanya ada hembusan napasnya yang berat.
"Angka itu membuatku sesak, Adrian," suaraku memecah keheningan, nyaris tertelan suara bising kendaraan di kejauhan.
Adrian menoleh perlahan. Cahaya dari dalam ruangan menyinari separuh wajahnya, menonjolkan garis rahangnya yang tegas. "Aku tahu. Kau terbiasa mengendalikan variabel, Livia. Dan angka 99,9% itu adalah variabel yang tidak bisa kau manipulasi."
"Bukan itu masalahnya," sanggahku, mencoba mempertahankan logika yang mulai retak. "Ametis mendikte kita. Ia memberitahuku bahwa aku akan mencint**mu karena urutan DNA kita cocok, karena riwayat pencarian digital kita sinkron, karena kita sama-sama benci kopi yang terlalu manis. Tapi di mana letak pilihanku di sana? Aku merasa seperti algoritma yang sedang menjalankan perintah."
Aku bisa merasakan detak jantungku yang tidak beraturan—sebuah anomali yang tidak bisa dijelaskan oleh statistik mana pun. Selama ini, aku berlindung di balik data karena data tidak pernah berbohong. Data tidak akan meninggalkanmu saat kau mulai merasa nyaman. Tapi menatap Adrian sekarang, tanpa ada layar komputer di antara kami, data terasa begitu hambar.
Adrian melangkah mendekat. Jarak kami sekarang hanya menyisakan beberapa inci. Aku bisa mencium aroma kayu cendana dan samar-samar bau kertas dari pakaiannya. Ia tidak menyentuhku, namun kehadirannya terasa lebih nyata daripada ribuan baris kode yang kubuat setiap hari.
"Livia, lihat aku," bisiknya.
Aku mendongak, menantang manik matanya yang berwarna cokelat gelap. Tidak ada arogansi di sana. Hanya ada kejujuran yang te*******, sesuatu yang lebih menakutkan bagiku daripada kegagalan sistem.
"Aku membencimu saat pertama kali kita bertemu di divisi analisis," kata Adrian tenang. "Kau terlalu kaku, terlalu terobsesi dengan margin error. Dan aku tahu kau membenciku karena aku selalu menginterupsi presentasimu."
"Aku masih membenci bagian itu," aku mendengus kecil, sebuah senyum tipis terpaksa muncul di sudut bibirku.
"Tapi kau tahu kapan aku mulai berhenti memedulikan skor Ametis?" Adrian memajukan wajahnya, suaranya merendah. "Bukan saat aplikasi itu bilang kita cocok. Tapi saat aku melihatmu tetap tinggal di kantor sampai jam dua pagi hanya untuk memastikan data seorang klien tidak bocor, meskipun itu bukan tugasmu. Bukan DNA-mu yang membuatku tertarik, Liv. Tapi caramu menggigit bibir bawahmu saat kau sedang bingung menghadapi *bug* yang sulit."
Tanganku yang memegang pagar balkon mulai berkeringat. "Itu tidak ada dalam profil digital."
"Tentu saja tidak. Itulah poinnya," Adrian mengulurkan tangan, jemarinya dengan ragu menyentuh ujung rambutku. "Ametis mungkin tahu apa yang kita butuhkan, tapi dia tidak tahu apa yang kita inginkan. Aku tidak ingin bersamamu karena algoritma bilang kita adalah pasangan sempurna. Aku ingin bersamamu karena kau adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku ingin menjadi lebih baik, meski kau sangat menyebalkan."
Aku terdiam. Logikaku berteriak bahwa ini adalah risiko besar. Skor 12% dengan Leo, sahabat masa kecilku, terasa jauh lebih aman karena aku tahu apa yang diharapkan. Leo adalah kepastian yang nyaman. Adrian adalah anomali yang berbahaya.
"Bagaimana kalau kita salah?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar. "Bagaimana kalau 0,1% error itu adalah kenyataan yang sebenarnya? Bagaimana kalau kita hanya akan saling menghancurkan?"
Adrian tersenyum kecil, sebuah senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya—lembut dan tulus. "Maka biarlah kita hancur karena pilihan kita sendiri, bukan karena kesalahan teknis di server pusat."
Ia mengulurkan telapak tangannya di antara kami, sebuah tawaran yang tidak tertulis dalam protokol 'Uji Coba Hubungan'.
"Mari kita mulai dari nol, Livia. Tanpa data Ametis. Tanpa laporan mingguan untuk proyek kantor. Tanpa jaminan 99,9%. Hanya aku, Adrian yang arogan, dan kau, Livia yang perfeksionis. Mau mencoba hubungan yang benar-benar tidak efisien bersamaku?"
Aku menatap tangannya, lalu menatap matanya lagi. Ketakutanku terhadap penolakan masih ada di sana, berdenyut di balik dadaku. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupku, keinginan untuk mengetahui apa yang ada di balik angka-angka itu jauh lebih besar daripada rasa takutku akan kegagalan.
Aku meletakkan tanganku di atas telapak tangannya. Kulitnya terasa hangat, mengirimkan gelombang asing yang membuat sistem logikaku melakukan *reboot* total.
"Satu syarat," kataku dengan napas yang mulai teratur.
"Apa?"
"Besok, kita hapus semua log data uji coba kita dari server. Kita mulai sebagai dua orang asing yang tidak tahu apa-apa tentang satu sama lain."
Adrian menggenggam jemariku erat. "Setuju."
Kami berdiri di sana untuk waktu yang lama, membiarkan angin malam menyapu keraguan yang tersisa. Untuk sejenak, aku lupa tentang DNA, tentang algoritma, dan tentang skor-skor yang selama ini mendefinisikan hidupku. Di sini, di bawah langit Jakarta yang polusi, aku merasa benar-benar hidup.
Namun, momen itu pecah saat ponsel Adrian yang tergeletak di meja balkon bergetar hebat. Sebuah notifikasi muncul dengan lampu merah yang berkedip cepat—sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya di aplikasi Ametis.
Adrian mengerutkan kening dan meraih ponselnya. Wajahnya yang tadi tenang mendadak berubah pucat pasi saat membaca pesan yang tertera di layar.
"Ada apa?" tanyaku, firasat buruk mulai merayap di punggungku.
Adrian terdiam, matanya terpaku pada layar. "Livia... ini dari tim pengembang pusat. Mereka baru saja menemukan sesuatu di dalam kode sumber Ametis. Sesuatu yang sengaja disembunyikan dari kita semua."
"Apa maksudmu?"
Adrian memutar layar ponselnya ke arahku. Di sana, di bawah enkripsi tingkat tinggi yang baru saja terbuka otomatis, muncul sebuah baris perintah yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak: *‘Project Soulmate: Target Manipulation Protocol Initiated’.*
Skor 99,9% itu bukan sebuah kecocokan. Itu adalah sebuah target.
Lanjutkan Membaca Bab 21 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!