Layar monitor di hadapanku berpendar biru, memantulkan bayangan wajahku yang tampak lebih lelah namun jauh lebih hidup dibandingkan tiga bulan lalu. Barisan kode Python merayap di layar, membentuk kerangka algoritma baru yang telah kukerjakan tanpa henti selama empat puluh delapan jam terakhir. Ini bukan lagi tentang Ametis yang mendikte takdir; ini tentang Ametis yang memberikan pilihan.
Aku menarik napas panjang, merasakan aroma kopi dingin yang sudah basi di sudut meja kerja. Jari-jariku berhenti di atas tombol *Enter*. Di sampingku, sebuah dokumen fisik berjudul *βLaporan Akhir Uji Coba Hubungan: Subjek Livia & Adrianβ* tergeletak pasrah. Isinya bukan lagi sekadar angka-angka prob***litas, melainkan tumpukan memoar tentang pertengkaran di kedai kopi, perdebatan tentang struktur data di tengah hujan, dan tatapan mata Adrian yang selalu berhasil meruntuhkan logika pertahananku.
"Kamu yakin mau mengubah parameter utamanya?"
Suara bariton itu membuatku sedikit tersentak. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di ambang pintu ruangan kantorku. Adrian menyandarkan bahunya di kusen pintu, melipat tangan di dada dengan gaya arogannya yang khas, namun matanyaβmata yang biasanya menatapku dengan kilat persainganβkini memancarkan kehangatan yang asing.
"Parameter 'Kepastian' itu palsu, Adrian," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Ametis versi lama menjanjikan surga yang matematis, tapi mengabaikan variabel paling krusial dalam kemanusiaan: usaha. Aku mengganti fungsi *'Predisposed Destiny'* menjadi *'Compatibility Suggestion'*."
Adrian melangkah mendekat, sepatunya mengetuk lant** parket dengan ritme yang tenang. Ia berdiri tepat di belakang kursiku, c**up dekat hingga aku bisa mencium aroma parfum *sandalwood*-nya yang samar. "Jadi, menurut Livia sang analis data yang perfeksionis, cinta bukan lagi angka mutlak?"
Aku memutar kursi, mendongak menatapnya. "Cinta adalah variabel dinamis, Adrian. Kita bisa punya kecocokan 99,9%, tapi jika kita memilih untuk berhenti mencoba di angka 0,1% yang tersisa, semuanya akan runtuh. Aku ingin pengguna Ametis tahu bahwa aplikasi ini hanyalah kompas, bukan nakhodanya."
Adrian tersenyum tipis, jenis senyum yang dulu sangat aku benci karena terasa seperti ejekan, namun sekarang membuat jantungku berdetak dengan ritme yang tidak logis. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, layar menyala menampilkan ikon Ametis yang berwarna ungu elegan.
"Lalu bagaimana dengan kita?" tanyanya lembut. "Skor 99,9% kita masih terpampang di sana. Apa kamu akan menyimpannya sebagai validasi?"
Aku meraih ponselku sendiri yang tergeletak di meja. Ikon aplikasi itu seolah menatapku, mengingatkanku pada hari di mana aku menangis karena angka 12% bersama Leo, dan hari di mana aku mengutuk algoritma karena memasangkanku dengan pria di hadapanku ini.
Ibu jariku melayang di atas ikon Ametis. "Data untuk proyek ini sudah lengkap. Validasi yang aku butuhkan tidak lagi berasal dari server pusat."
Aku menekan ikon itu c**up lama hingga ia mulai bergetar, seolah ketakutan akan dihapus. Sebuah kotak dialog muncul: *Apakah Anda yakin ingin menghapus Ametis dan seluruh data kecocokan Anda?*
"Livia?" Adrian menatapku intens, ada kilat ketidakpastian yang jarang ia tunjukkan.
"Aku lebih suka menulis algoritmaku sendiri mulai sekarang," bisikku. "Bersamamu. Tanpa bantuan prediksi DNA."
Dengan satu sentuhan tegas, aku menekan tombol *Hapus*. Ikon ungu itu menghilang, meninggalkan ruang kosong di layar ponselku, dan beban berat yang selama ini menghimpit dadaku seolah ikut menguap. Aku merasa ringan. Aku merasa... bebas dari diktator angka.
Adrian terkekeh, suara rendahnya menggetarkan udara di ruangan yang sunyi itu. Ia mengikuti langkahku, menghapus aplikasi miliknya sendiri dengan gerakan dramatis. "Selamat tinggal, kepastian matematis. Halo, kekacauan yang indah."
Ia mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menyambutnya, merasakan jemarinya yang hangat mengunci jemariku. Tidak ada notifikasi yang muncul di pergelangan tanganku, tidak ada skor yang naik atau turun. Hanya ada detak nadi yang saling bersahutan.
"Jadi, apa langkah pertama dari algoritma barumu?" tanya Adrian, menarikku berdiri hingga jarak di antara kami hanya tersisa beberapa inci.
Aku menatap matanya, mencari jawaban di sana, bukan di barisan kode. "Langkah pertama adalah mengakui bahwa aku tidak punya rencana cadangan jika ini gagal. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak peduli pada risiko itu."
Adrian menunduk, wajahnya mendekat ke wajahku. "0,1% error itu... itu bagian favoritku."
Tepat saat bibirnya hampir menyentuh bibirku, ponsel di meja kerjaku bergetar hebat. Bukan dari Ametis, melainkan sebuah pangg***n ma**k dari nomor yang sangat aku kenal. Nomor pribadi milik CEO pusat yang mendanai seluruh proyek ini.
Aku melirik layar ponsel. Sebuah pesan teks singkat muncul di bawah nama sang CEO, membuat napas yang baru saja ingin kubuang terasa tertahan di kerongkongan.
*Livia, jangan hapus datanya dulu. Kami baru saja menemukan anomali dalam sampel DNA Adrian yang bisa mengubah seluruh fondasi proyek ini. Temui aku di lab sekarang.*
Aku tertegun, menatap Adrian yang masih menungguku dengan senyum penuh harap, sementara tanganku mulai mendingin saat menyadari bahwa 0,1% yang kami banggakan mungkin menyimpan rahasia yang jauh lebih gelap dari sekadar kesalahan teknis.
Lanjutkan Membaca Bab 22 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!