Layar monitor di hadapanku mendadak terasa sepuluh kali lipat lebih terang dari biasanya, menusuk mata yang sudah terjaga sejak pukul tiga pagi tadi. Aku sengaja datang ke kantor saat petugas kebersihan masih mengepel lobi, berharap bisa menyelinap ke kubikelku tanpa harus berpapasan dengan satu pasang mata pun. Namun, dalam dunia analisis data, informasi bergerak lebih cepat daripada cahaya—dan jauh lebih mematikan daripada virus.
"Sembilan puluh sembilan koma sembilan persen, Liv? Serius?"
Suara Sarah, rekan setimku yang paling hobi bergosip, memecah kesunyian lant** empat. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu bahwa dia sedang berdiri di belakangku dengan ponsel tergenggam erat.
Aku menarik napas panjang, jemariku masih menari kaku di atas keyboard, berpura-pura sibuk dengan baris kode yang sebenarnya sudah selesai kubenahi. "Itu cuma angka, Sar. Kesalahan algoritma. Aku sedang menulis laporan *bug*-nya sekarang."
"Kesalahan? Ini Ametis, Livia. Aplikasi yang kita bangun dengan keringat dan air mata selama dua tahun. Sistem tidak mungkin salah mengalkulasi kecocokan DNA dan perilaku digital sedrastis itu tanpa alasan," bisik Sarah, kini sudah duduk di tepi mejaku. Matanya berbinar penuh selidik. "Dan dari semua orang di gedung ini, kenapa harus Adrian Syailendra? Si Tuan Sempurna yang hobi mematikan argumenmu di setiap rapat?"
Aku memejamkan mata sesaat. Bayangan angka 12% yang muncul di profil Leo—sahabatku, orang yang mengenalku luar dalam—berkelebat menyakitkan. Bagaimana mungkin logika matematika mengatakan bahwa aku lebih cocok dengan pria yang menghabiskan tiga tahun terakhir mencoba menjatuhkan kredibilitas kerjaku, daripada dengan pria yang selalu ada untukku?
"Data itu c****," desisku, akhirnya menoleh dan menatap Sarah dengan tajam. "Mungkin ada anomali pada sampel DNA-nya, atau mungkin riwayat pencarianku terdistorsi. Intinya, aku dan Adrian adalah dua variabel yang tidak akan pernah berada dalam satu persamaan yang stabil. Sekarang, tolong kembali ke mejamu sebelum aku melaporkanmu karena mengganggu produktivitas."
Sarah mengangkat tangan, tanda menyerah, tapi seringai di wajahnya tidak hilang. "Hati-hati, Liv. Semakin kau lari dari prob***litas, semakin besar statistik itu akan mengejarmu."
Begitu Sarah pergi, aku segera memasang *noise-canceling headphone*. Aku harus tenggelam dalam pekerjaan. Aku harus membuktikan bahwa angka itu salah. Namun, setiap kali pintu lift berdenting, bahuku otomatis menegang. Aku merasa seperti mangsa yang sedang menunggu pemangsanya muncul dari balik hutan beton ini.
Dan benar saja, aroma *sandalwood* dan maskulinitas yang tajam itu menyerang indra penciumanku bahkan sebelum sosoknya terlihat.
"Kabur pagi-pagi sekali tidak akan mengubah struktur genommu, Livia."
Suara berat dan bariton itu terdengar tepat di atas kepalaku. Aku melepaskan *headphone* dengan gerakan kasar dan mendongak. Adrian berdiri di sana, menyandarkan pinggulnya di sekat kubikelku dengan sant**. Kemeja putihnya rapi tanpa satu pun kerutan, kontras dengan perasaanku yang berantakan. Dia memegang dua gelas kopi dari kafe bawah; satu hitam pekat miliknya, dan satu lagi—aku tahu itu—*latte* tanpa gula kesukaanku.
"Aku tidak kabur. Aku bekerja," jawabku datar, berusaha menjaga ekspresi wajahku agar tetap sedingin es. "Dan jika kau di sini untuk membahas 'kecelakaan' data semalam, simpan saja tenagamu. Aku sedang menyiapkan dokumen pembatalan untuk hasil uji coba kita."
Adrian menaruh gelas kopi di meja, tepat di samping *mousepad*-ku. Dia sedikit membungkuk, membuat wajah kami hanya berjarak beberapa jengkal. Aku bisa melihat pantulan diriku yang tampak defensif di pupil matanya yang gelap.
"Pembatalan? Itu artinya kau mengakui bahwa kau takut pada hasil karyamu sendiri," tantang Adrian. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum miring yang selalu berhasil membuat sarafku menegang. "Kau yang selalu bilang di depan dewan direksi bahwa 'Data tidak punya opini, data hanya mengungkapkan kebenaran'. Sekarang, setelah data itu mengungkapkan sesuatu yang tidak kau sukai, kau ingin membakarnya?"
"Ini bukan soal suka atau tidak suka, Adrian. Ini soal logika!" suaraku sedikit meninggi, membuat beberapa orang di kubikel sekitar mulai mencuri pandang. Aku merendahkan volume suaraku hingga hampir berbisik. "Kita ini rival. Kita tidak punya satu pun kesamaan selain ambisi untuk saling mengalahkan. Sembilan puluh sembilan koma sembilan persen itu mustahil secara empiris."
Adrian justru tertawa kecil, suara yang terdengar sangat menjengkelkan sekaligus... renyah. "Justru itu menariknya. Sebagai sesama analis, bukankah kau seharusnya penasaran? Kenapa sistem yang kita klaim nyaris sempurna ini memberikan skor setinggi itu pada dua orang yang saling membenci?"
"Aku tidak punya waktu untuk eksperimen konyol," kataku, kembali berbalik ke layar monitor.
"Tiga bulan, Livia."
Gerakan tanganku terhenti. Aku kembali menatapnya. "Apa?"
"Manajemen butuh validasi untuk proyek ini sebelum *launching* publik. Jika kau membatalkannya sekarang, kau merusak integritas Ametis di mata investor. Mereka akan berpikir algoritma kita bias," Adrian menjelaskan dengan nada profesional yang dingin, namun ada kilatan provokasi di matanya. "Mari kita jalani 'Uji Coba Hubungan' ini. Sesuai protokol aplikasi. Kita kencan, kita habiskan waktu bersama, dan kita buktikan bahwa angka itu salah."
Aku mendengus remeh. "Kau ingin aku berkencan denganmu hanya untuk membuktikan sistem ini rusak?"
"Atau untuk membuktikan bahwa selama ini kau salah menilaiku," Adrian menegakkan tubuh, merapikan jasnya dengan gerakan elegan. "Jika setelah tiga bulan skornya turun atau kita memang tidak cocok, aku akan mendukungmu penuh untuk merombak ulang seluruh algoritma. Kau akan dapat validasi yang kau mau, dan aku akan berhenti mengganggumu."
Aku terdiam. Logikaku mulai berputar. Di satu sisi, ini adalah cara paling akurat untuk memvalidasi data. Di sisi lain, membiarkan Adrian ma**k ke ruang pribadiku terasa seperti bunuh diri profesional—dan emosional. Tapi, jika aku menolak, aku akan dicap sebagai pengecut yang tidak percaya pada teknologi yang kubuat sendiri.
"Hanya tiga bulan," kataku pelan, lebih kepada diriku sendiri.
"Tiga bulan. Dan satu syarat lagi," Adrian mencondongkan tubuhnya kembali, suaranya kini merendah menjadi bisikan yang hanya bisa kudengar. "Selama periode ini, tidak boleh ada intervensi dari pihak ketiga. Terma**k sahabat masa kecilmu yang punya skor dua belas persen itu."
Jantungku berdegup kencang. Bagaimana dia tahu soal skor Leo?
Sebelum aku sempat memprotes, Adrian sudah melangkah menjauh, meninggalkan gelas kopi yang masih mengepulkan uap. Dia berhenti sejenak dan menoleh tanpa berbalik sepenuhnya.
"Jumat malam, jam tujuh. Aku jemput di depan apartemenmu. Pakai sesuatu yang nyaman, Livia. Kita tidak akan pergi ke laboratorium."
Aku menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu kaca ruang rapat, lalu beralih pada gelas kopi di depanku. Saat aku mengangkat gelas itu, aku menyadari ada sesuatu yang tertulis di pinggiran gelasnya dengan spidol permanen hitam.
*Challenge accepted, 0.1%.*
Aku mengerang frustrasi dan menyandarkan kepala ke meja. Ini bukan sekadar validasi data lagi. Ini adalah peperangan antara apa yang tertulis di kode program dan apa yang selama ini kuyakini tentang diriku sendiri. Dan untuk pertama kalinya dalam karierku, aku merasa bahwa variabel yang paling tidak terprediksi dalam eksperimen ini bukanlah algoritma Ametis, melainkan detak jantungku yang mendadak tidak sinkron dengan logika.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!